
Kab. OKI. MKTRI, Sejarah seorang pemimpin dapat dilihat dari maju mundurnya daerah itu sendiri dan...
Dirilis oleh admin pada Selasa, 13 Dec 2011
Telah dibaca 1678 kali

TEMPAT LAHIRNYA PERADABAN DI TATAR SUNDA
Karawang menyimpan potensi sumberdaya arkeologi yang sangat besar sejak masa prasejarah, klasik sampai masa Islam tumbuh dan berkembang di Jawa Barat. Dua situs dari masa klasik yakni Batujaya dan Cibuaya, sampai saat ini setidaknya memiliki 30 buah lokasi yang diduga merupakan bangunan candi dari masa Kerajaan Tarumanagara sampai Sunda.
Suatu jumlah yang belum tertandingi oleh daerah lain di Jawa Barat dan tentu tidak berlebihan jika Karawang mendapat julukan sebagai Lumbung Candi di Jawa Barat.
Komplek percandian ini letaknya tersebar dalam radius 5 hektare dan sebagian besar berada di areal pertanian. Dari seluruh situs yang ditemukan baru candi Jiwa dan Blandongan yang dibuatkan jalan setapaknya sisanya dapat ditempuh melalui pematang sawah. Lumayan juga bisa menikmati suasana alam pertanian. Dari 24 lokasi yang ditemukan, 13 lokasi berada di Desa Segaran, Kecamatan Batujaya dan sisanya berada di Desa Telagajaya, Kecamatan Telagajaya.
Secara
topografis, komplek ini berada pada dataran rendah aluvial dengan ketinggian
sekitar 4 meter di atas permukaan laut.
Sebelah baratdaya komplek merupakan daerah limpahan banjir dan di utara merupakan rawa yang selalu digenangi air pada musim hujan. Dengan demikian kemungkinan komplek ini tergenang air banjir sangatlah kecil karena sekitarnya merupakan daerah kantung air.
Secara geografis, letaknya berada di ujung Karawang pada kordinat 6°06’15’’ - 6°16’17” Lintang Selatan dan 107°09’01” - 107°09’03” Bujur Timur.
Komplek Percandian Batujaya yang terletak di daerah tanggul alam hampir setiap tahun menerima lumpur banjir kiriman dari Sungai Citarum hingga menyebabkan permukaan tanah di daerah ini cenderung meningkat. Hal ini juga yang membuat sebagian besar komplek candi ini tertimbun tanah sampai kedalaman 1-2 meter pada saat ditemukan kembali.
Dari
catatan pemerintah Kolonial Belanda, pada tahun 1684 M daerah ini hanyalah
berupa rawa-rawa yang tidak berarti. Baru pada tahun 1706 M atas perintah
pemerintah Kolonial Belanda, daerah ini dibersihkan dan dijadikan areal persawahan
dan perkebunan. Artinya, sejak runtuhnya Komplek Percandian Batujaya, daerah
ini menjadi tidak berarti dan baru mendapat perhatian kembali pada akhir abad
ke-17 M.
Pada awalnya masyarakat di Desa Segaran dan Desa Telagajaya, menyebut tinggalan candi yang sebagian besar terletak di tengah sawah tersebut dengan istilah unur atau bukit kecil. Hal ini wajar saja, mengingat jika dilihat secara sepintas, lokasi candi tersebut hanya berupa gundukan/ bukit kecil yang ditumbuhi oleh tanaman perdu serta pohon-pohon pisang. Dibandingkan dengan luas areal persawahan yang ada maka keberadaan unur-unur hampir tidak ada artinya.
Kehadiran komplek pemujaan Batujaya di daerah hilir Sungai Citarum sekitar pantai utara Jawa Barat tampaknya tidak lepas dari pengaruh pertumbuhan sosial ekonomi yang berkembang di daerah tersebut. Hal ini didasarkan pada pertimbangan bahwa wilayah pantai utara Jawa Barat telah menjadi wilayah perlintasan bagi pelayaran dan perdagangan internasional antara India - Cina.
Bukti arkeologi berupa temuan fragmen tembikar yang dikenal dengan tembikar arikamedu di daerah Buni, Kabupaten Karawang berasal dari abad pertama masehi - memberi indikasi kuat bahwa pada saat itu, daerah di sekitar pantai telah tumbuh permukiman-permukiman kuno yang merupakan kelanjutan dari masa prasejarah dan memberi andil dalam lintas perdagangan internasional.
Lepas dari komoditas yang ditawarkan oleh daerah ini tampaknya pada awal-awal Masehi - sebelum munculnya Kerajaan Tarumanagara - kawasan di sepanjang pantai utara Jawa Barat telah tumbuh daerah-daerah permukiman.
Lalu dalam tahap yang lebih lanjut berkembang menjadi bandar-bandar pelabuhan yang berperan penting bagi pertumbuhan dan perkembangan social ekonomi dan politik masyarakat Sunda kuna. Hal ini diperkuat dengan catatan Clodius Ptolomeus dari abad ke 2-3 Masehi yang membuat peta perjalanan dengan menyebut beberapa nama dan tempat di Indonesia terutama di dekat Selat Sunda. Sumber tertulis yang berasal dari Tome Pires (1512) menyebutkan adanya enam pelabuhan yang semuanya terletak di sepanjang pantai utara Jawa Barat. Kota-kota pelabuhan tersebut adalah Bantam, Pomdam, Cheguide, Tamgaram, Calapa dan Chemano .
Aktivitas perdagangan ini terjadi tidak hanya di tepi pantai/ Bandar pelabuhan, melainkan ada pula yang membawa sampai ke daerah pedalaman melalui sungai-sungai besar seperti Sungai Citarum. Temuan arkeologi berupa keramik asing yang terdapat di sepanjang Sungai Citarum memberikan gambaran tentang aktivitas perdagangan yang terjadi pada masa lalu. Hasil analisis yang dilakukan oleh Sumarah A.(1983) terhadap temuan keramik asing menunjukkan bahwa para pedagang ini berasal dari daerah Cina, Vietnam, Thailand dan Eropa pada masa yang lebih muda. Temuan keramik Cina yang tertua berasal dari Cina Selatan sekitar abad ke-7 Masehi
Di sisi lain, berdasarkan temuan sejumlah prasasti di ketahui bahwa sekitar abad ke-5 Masehi telah berdiri sebuah kerajaan yang bersifat hinduistik yakni Kerajaan Tarumanagara. Daerah Bekasi dan Karawang sering dikaitkan dengan keberadaan kerajan ini. Menurut Poerbatjaraka nama Candrabhaga yang tersebut dalam Prasasti Tugu merupakan nama sebuah sungai di India yang diberikan pada nama sungai di Jawa. Melalui kajian etimologi nama tersebut sama dengan nama Bekasi yang diduga sebagai pusat Kerajaan Tarumanagara.
Berita Cina tertua yang menyinggung tentang Kerajaan Tarumanagara dilaporakan oleh Fa-Shien tahun 414 M yang menyebutkan bahwa di Taruma (Yepoti) sedikit sekali dijumpai orang yang beragama Budha tetapi banyak ditemukan orang-orang brahmana dan mereka yang beragama kotor Dengan demikian adanya aktifitas perdagangan internasional dan didukung oleh kehadiran Kerajaan Tarumanagara di Jawa Barat dapat dipandang sebagai faktor pendorong munculnya Komplek Pemujaan Batujaya.
Keberadaan komplek pemujaan ini juga dapat dipahami sebagai suatu proses penerimaan masyarakat Sunda kuna terhadap hadirnya Agama Hindu-Budha di Jawa Barat.
Beberapa Bangunan Candi di Komplek Batujaya
Kegiatan survei dan ekskavasi yang dilakukan oleh Pusat Penelitian dan pengembangan Arkeologi nasional(P3AN) sejak tahun 1992 sampai sekarang tahun 2006 berhasil mengidentifikasikan 31 lokasi yang diduga mengandung bangunan candi. Lokasi candi yang telah diketahui oleh penduduk, biasa disebut dengan istilah unur (gundukan) sedangkan beberapa lokasi lainnya ditemukan pada saat dilakukan survei dan penamaannya mengikut nama desa tempat tinggalan tersebut ditemukan. Beberapa bangunan candi yang menarik di Komplek Batujaya hasil penelitian PPA sejak tahun 1992 -2006 antara lain :
1. Unur (Candi) Jiwa / Segaran I
Candi
Jiwa yang dikenal sebagai Unur Jiwa, terletak di tengah areal persawahan berupa
gundukan tanah yang berbentuk oval setinggi 4 meter dari permukaan tanah.
Bangunan yang berukuran 19 x 19 meter dengan tinggi 4,7 meter ini tidak
mempunyai tangga masuk dan di bagian permukaan atas terdapat susunan bata yang
melingkar dengan garis tengah sekitar 6 meter yang diduga merupakan susunan
dari bentuk stupa.
2. Unur (Candi) Blandongan / Segaran V
Candi ini memiliki bentuk bujur sangkar
berukuran 24,2 x 24,2 meter. Candi bata ini bertingkat satu dengan sebuah stupa
di bagian tengahnya. Pada lantai dasar terdapat empat tangga masuk pada yang
berorientasi pada empat arah mata angin, yakni timurlaut, tenggara, baratdaya,
dan baratlaut. Namun hanya sisi timurlaut saja yang memilki gapura pintu masuk.
Masing-masing tangga masuk ini memiliki pipi tangga di sisi kiri dan kanan.
Beberapa anak tangganya dibuat dari batu cetakan. Profil dinding kaki candi
memiliki bentuk pelipit gerigi ganda dan halround. Dari sisa lepa yang tersisa
tampaknya dahulu seluruh bagian candi dilapisi oleh lepa putih.
Pada tingkat pertama terdapat halaman (selasar) yang berukuran 17,64 x 17,64 meter mengelilingi struktur bangunan yang merupakan tempat stupa di atasnya. Lantai selasar ini dilapis oleh kerikil yang dicampur dengan adonan lepa putih. Adanya sisa batu andesit berdiameter sekitar 30 cm dan lubang sisa tiang di sekeliling teras pertama ini mengindikasikan bahwa dahulu pernah didirikan tiang-tiang kayu yang mengelilingi bagian stupa.
Bagian stupa pada teras teratas hanya tersisa struktur bangunan yang berdenah bujursangkar berukuran 9,2 x 9,2 meter dan runtuhan stupa yang telah dilapis oleh campuran kerikil dan stuko putih di sisi barat laut lantai selasar.



( Sumber : PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN ARKEOLOGINASIONALDEPARTEMEN KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA )