Full Post » Perencanaan

Program Kebijakan Perkeretaapian

Dirilis oleh admin pada Senin, 21 Nov 2011
Telah dibaca 1315 kali

Program-program utama berikut disusun sebagai suatu upaya merealisasikan kebijakan yang telah ditetapkan :

Pengembangan jaringan dan layanan  kereta api antar kota

Pengembangan jaringan dan layanan kereta api  antar-kota (termasuk kereta api regional)  dimaksudkan untuk mengurangi beban angkutan orang di jalan.

Dengan daya angkut yang besar, kereta api antar kota dapat menjadi  moda transportasi utama yang menghubungkan pusat-pusat kegiatan nasional di pulau-pulau besar (Jawa-Bali,  Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua). 

Pengembangan  kereta api antar-kota membutuhkan dukungan prasarana dan sarana yang mampu memberikan layanan prima sehingga tujuan pengurangan beban jalan raya dapat tercapai.

Pengembangan prasarana dilakukan dengan peningkatan track modulus yang mengarah pada penggunaan rel tipe R.54 pada lintas utama dengan bantalan beton berjarak sekitar 60 cm satu sama lain dan konstruksi balas yang jauh lebih kuat sehingga mampu mendukung lalulintas kereta api yang lebih cepat dengan tekanan gandar lebih besar (tekanan gandar minimum 22,5 ton pada semua jalur utama  dan tekanan gandar 25 ton pada jalan rel baru dan jembatan pada semua jalur utama) dan penggunaan lebar sepur 1435 mm pada pengembangan jalur baru diluar Pulau Jawa sedangkan dalam bidang sarana adalah penggunaan kereta api yang lebih cepat, lebih besar kapasitasnya (pada kereta api barang direncanakan menggunakan  rolling stock double decker)  dan ramah lingkungan.

Penggunaan sarana kereta api yang lebih cepat dan lebih besar kapasitasnya ini harus didukung oleh  space yang aman khususnya pada jembatan dan terowongan. 

Pengembangan jaringan dan layanan  kereta api Perkotaan

Pengembangan  jaringan dan  layanan  kereta api perkotaan di kota-kota yang penduduknya telah melebihi 1 (satu) juta jiwa dimaksudkan untuk mengatasi terganggunya mobilitas masyarakat  perkotaan karena kemacetan yang terjadi pada transportasi darat. Upaya ini harus didukung oleh prasarana dan sarana yang memadai, sebagai contoh penggunaan  kereta listrik untuk layanan  kereta api perkotaan dapat menjadi pilihan yang utama karena memiliki kapasitas angkut yang besar, teknologi ramah lingkungan dan hemat energi.

Pengembangan jaringan dan layanan  kereta api menuju  simpul-simpul transportasi (bandara dan pelabuhan);

Pengembangan kereta api barang yang menghubungkan simpul-simpul transportasi dan logistik berskala internasional dan nasional di Pulau Jawa-Bali. Upaya ini guna mendukung pertumbuhan ekonomi wilayah. Pada saat ini, simpul-simpul transportasi dan logistik di Pulau Jawa-Bali seperti bandara, pelabuhan,  dryport dan pusat-pusat produksi (industri dan manufaktur) seharusnya sudah dihubungkan dengan jaringan kereta api, terutama untuk mengatasi peningkatan beban pengangkutan barang di jalan raya.

Pengembangan jaringan dan layanan  kereta api yang menghubungkan wilayah pertambangan dan sumber daya alam

Pengembangan jaringan dan layanan kereta api barang sebagai backbone yang menghubungkan wilayah pertambangan atau sumber daya alam lain dengan simpul produksi maupun simpul transportasi nasional dan internasional di Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Dengan daya angkut yang besar, keberadaan kereta api barang dapat diarahkan menjadi moda transportasi utama yang menghubungkan wilayah pertambangan atau penghasil sumber daya alam dengan pusat-pusat industri dan ekspor, sehingga dapat mendorong dan menggerakkan pembangunan nasional. Untuk itu, pengembangan prasarana dan sarana harus mampu memenuhi kebutuhan daya angkut optimal bagi pendistribusian hasil tambang atau sumber daya alam lainnya.

Pengembangan jaringan dan layanan  kereta api Cepat

Perkembangan teknologi kereta cepat dewasa ini cukup  pesat dan  bukan lagi menjadi teknologi yang eksklusif, sebagaimana  ditunjukkan  oleh  bertambahnya negaranegara yang menggunakan kereta api cepat sebagai pilihan moda andalan.  Salah satu jaringan dan layanan kereta api cepat yang dapat segera direalisasikan adalah pengembangan  kereta api cepat yang menghubungkan Jakarta  – Surabaya (merupakan bagian dari pengembangan kereta api cepat  Merak  – Jakarta  – Banyuwangi).

Pengembangan  ini bertujuan  untuk memperlancar perpindahan orang  pada koridor tersebut  dan untuk mengurangi beban pantura yang sudah overload. Keunggulan lain dari teknologi kereta cepat  adalah  lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan moda lainnya. Pengembangan  kereta api cepat di  Pulau Jawa  membutuhkan  prasarana khusus yang mampu melayani pergerakan kereta api cepat berupa jalur yang  steril sehingga dapat  menjamin keamanan dan keselamatan operasionalnya, salah satu pilihannya adalah menggunakan jalur rel di atas  atau elevated railway. Pengembangan  kereta api  kecepatan tinggi (kecepatan minimal 300 km/jam) juga harus didukung oleh pengembangan sistem produksi, pengoperasian, perawatan dan pemeliharaan  kereta api cepat dengan kemampuan sumber daya dalam negeri.

Pengembangan jaringan dan layanan kereta api yang menghubungkan Pulau Jawa-Bali dengan Sumatera (interkoneksi);

Pengembangan kereta api antar kota di Pulau Jawa-Bali dan Sumatera yang terintegrasi sebagai moda alternatif pilihan yang handal.  Hal ini dengan pertimbangan bahwa  ketersediaan jaringan prasarana  serta untuk menciptakan keseimbangan terhadap beban jalan raya karena keterbatasan jaringan jalan raya. Integrasi Pulau Jawa-Bali dan Sumatera secara langsung akan terwujud apabila Jembatan Jawa-Sumatera  dapat  direalisasikan, namun demikian integrasi tersebut lebih bersifat integrasi pelayanan yang tidak harus dengan fisik yang sama tetapi dapat disubstitusikan dengan moda lain seperti angkutan penyeberangan.

Peningkatan kapasitas Jaringan  kereta api melalui Pembangunan Jalur Ganda, Elektrifikasi dan Peningkatan Sintelis

Pengembangan jalur ganda, sinyal elektrik, listrik sebagai sumber energi penggerak kereta api (elektrifikasi) dan menghilangkan kabel udara telekomunikasi pada lintas padat di Pulau Jawa. Pengembangan tersebut ditujukan untuk mengoptimalkan kapasitas sehingga dapat melayani sebesar-besarnya kebutuhan transportasi penumpang dan barang dengan memanfaatkan teknologi.

Selanjutnya, pengembangan sarana perkeretaapian harus disesuaikan dengan daya dukung prasarana, sehingga tercapai efisiensi kapasitas secara keseluruhan dan  mampu melayani kebutuhan transportasi penumpang dan barang. Selain itu juga dikembangkan sarana yang berbasis energi listrik, karena hemat energi dan ramah lingkungan.

Reaktivasi dan peningkatan Jalur KA

Peningkatan kapasitas jaringan dan layanan perkeretaapian dalam upaya mewujudkan kereta api sebagai alat transportasi utama dapat dilakukan dengan mereaktivasi lintas-lintas non operasional yang potensial  serta  meningkatkan kondisi  jalur perkeretaapian yang ada. Selanjutnya, untuk menunjang pemerataan pembangunan, perlu dikembangkan kereta api perintis yang menghubungkan daerah baru di Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi  dan Papua.

Percepatan pengembangan kereta api perintis membutuhkan dukungan dari pemerintah daerah terutama pada daerah-daerah yang belum tersedia jaringan prasarana KA, seperti Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Selain itu, pemilihan prasarana dan sarana yang sesuai dengan daya dukung wilayah harus menjadi pertimbangan dalam perencanaan. Peningkatan jalur ini diarahkan bagi pengembangan tonnase jalan rel dan jembatan sesuai standar, baik pada lintas eksisting maupun lintas baru dengan memperhatikan daerah rawan bencana. Hal ini dilakukan untuk mendukung tercapainya daya angkut yang besar dengan tetap memperhatikan faktor keselamatan dan keamanan serta antisipasi terhadap terjadinya bencana.

Keterpaduan layanan antar dan inter moda yang berbasis Transit Oriented Development (TOD)

Stasiun sebagai simpul transportasi yang menjadi tempat berkumpul orang di jantung kota memiliki potensi untuk menjadi pusat kegiatan bisnis dan ini juga akan meningkatkan citra perkeretaapian dan menjadi sumber pendapatan baru yang dapat digunakan untuk pengembangan perkeretaapian. Pengembangan tidak hanya dilakukan pada infrastruktur utama (stasiun) saja tetapi juga termasuk infrastruktur pendukungnya, terutama meningkatkan akses menuju stasiun sehingga akan mempermudah dan memberi rasa nyaman orang yang akan menuju dan meninggalkan stasiun.

Subsidi angkutan umum dalam bentuk layanan kereta api Perintis dan  Public Service Obligation (PSO)

Pemerintah bertanggung jawab terhadap ketersediaan layanan kereta api yang menjangkau wilayah yang berada di pulau-pulau besar serta dapat dijangkau oleh seluruh masyarakat. Tanggung jawab ini diwujudkan melalui penyediaan layanan kereta api kelas ekonomi dan kereta api perintis pada daerah-daerah yang belum tersedia jaringan prasarana KA.

Untuk kereta api kelas ekonomi, pemerintah memberikan subsidi terhadap selisih pendapatan operasi berdasar tarif yang ditetapkan oleh Pemerintah dengan Biaya Pokok Produksi (BPP) operator melalui skema PSO. Untuk pelayanan angkutan perintis, Pemerintah atau Pemerintah Daerah memberikan subsidi terhadap selisih tarif yang ditetapkan oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dengan biaya operasi operator.

Pengembangan kereta api perintis membutuhkan dukungan dari pemerintah daerah terutama pada daerah-daerah yang belum tersedia jaringan prasarana KA, seperti Kalimantan, Sulawesi dan Papua.

Tim kajian