Full Post » Lingkungan

Air Bersih Tercemar

Dirilis oleh admin pada Sabtu, 12 Nov 2011
Telah dibaca 374 kali

Sanitasi air di Kecamatan Gedebage, Panyileukan, Kiaracondong, dan Bojongloa Kaler sangat mengkhawatirkan.

Pemerintah Kota Bandung mengakui tingkat pencemaran air baku di permukiman padat penduduk tersebut sudah mencapai 40%.

Hal itu terungkap dalam konsultasi publik strategi sanitasi Kota Bandung di Auditorium Rosada,Kompleks Balai Kota, Jalan Wastukancana, kemarin. Ketua Pelaksana Kelompok Kerja Sanitasi Taufik Rachman mengatakan, Kota Bandung dihadapkan pada permasalahan serius infrastruktur sanitasi lingkungan.

“Bahkan, Sungai Cikapundung sebagai salah satu sumber air baku andalan masyarakat sudah tercemar limbah cair domestik. Pencemaran ini dikhawatirkan berpengaruh pada menurunnya derajat kesehatan masyarakat,” kata Taufik.

Dia menyebutkan, berdasarkan catatan Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda), ada empat kecamatan yang tingkat risiko sanitasinya tinggi, yakni Gedebage, Panyileukan, Kiaracondong, dan Bojongloa Kaler.

Keempat daerah itu merupakan permukiman padat penduduk dan tidak sedikit yang kumuh. Luas Kota Bandung yang 16.729.650 hektare dengan jumlah penduduk 2,5 juta jiwa mempunyai kepadatan 156 jiwa per hektare.

Hal ini menjadikan sumber air baku untuk air bersih dari hari ke hari semakin langka. PDAM belum mampu memenuhi kualitas standar baku karena baru mencapai cakupan pelayanan 52% untuk Kota Bandung.

Menurut Wakil Wali Kota Bandung Ayi Vivananda, pencemaran sanitasi air baku umumnya oleh bakteri e-coli. Bakteri ini bisa menimbulkan berbagai penyakit jika mengkonsumsinya.

“Persoalan sanitasi yang kurang memadai menjadi isu lingkungan yang berpotensi menyebabkan penyakit. Sekitar 40% sanitasi air di kota ini sudah tercemar bakteri yang didominasi bakteri e-coli” ungkap Ayi.

Bahkan, lanjut Ayi, sekitar 48% sumur gali di Kota Bandung terancam terkena bakteri ecoli, terutama sumur gali di wilayah permukiman bantaran sungai“.

Yang benar-benar terancam terkena bakteri ekoli adalah sumur gali yang letaknya dekat dengan septictank yang ada di kawasan pemukiman padat penduduk, terutama di wilayah bantaran sungai” tambahnya.

Ayi mengaku prihatin karena masih banyak warga di bantaran sungai yang masih membuang limbah domestik langsung ke sungai. Tingkat kesadaran dan kemampuan untuk memiliki septictank komunal pun masih rendah.

“Jadi, untuk sumur gali yang jauh dari sungai sebenarnya tidak ada masalah dengan bakteri e-coli,”lanjutnya.

Dia menjelaskan, untuk mengantisipasi bakteri e-coli yang mencemari sumur gali di kawasan kumuh, pihaknya akan meningkatkan pasokan PDAM dan juga memperbaiki sanitasi di bantaran sungai, termasuk pembuatan septictank komunal dan perbaikan drainase. Hingga kini dari seluruh warga Kota Bandung, hanya sekitar 50%-nya memiliki septictank.

“Meski ada peningkatan, efeknya belum begitu terasa karena setiap tahun penduduk Kota Bandung bertambah,” tambah Ayi.

“Kebutuhan sanitasi perkotaan itu seiring dengan pertambahan jumlah penduduk. Sekarang jumlah penduduk di Kota Bandung saja hampir dua setengah juta. Bandingkan dengan jumlah penduduk Kota Bandung lima tahun lalu. Secara bertahap, pihaknya akan memperbaiki sanitasi yang ada di Kota Bandung hingga 13,” tandasnya.

Tbk