Full Post » Jalan

Jumlah Kendaraan di Jabar Meningkat sekitar 15 persen (?)

Dirilis oleh admin pada Senin, 13 Feb 2012
Telah dibaca 209 kali

Dari tahun ke tahun, jumlah kendaraan bermotor roda dua (R2) dan roda empat (R4) di Jawa Barat (Jabar), terus bertambah. Berdasarkan data di Direktorat Lalu Lintas Polda Jabar, total jumlah kendaraan baru dan lama yang terdaftar di Jabar pada tahun 2009, mencapai 921.686 unit atau meningkat 10,98 persen dari tahun 2008 yang angkanya menembus 830.508 unit.

Dari jumlah tersebut (921.686), lebih dari setengahnya adalah R2 yaitu 571.025 unit dan selebihnya R4 yaitu 350.661 unit. Jumlah R2 itu mengalami kenaikan 15,86 persen dari tahun sebelumnya. Sementara, jumlah mobil hanya naik 3,68 persen.

Meningkatnya jumlah kendaraan di Jabar ternyata tidak dibarengi dengan meningkatnya kesadaran dan kepatuhan pengguna kendaraan terhadap aturan lalu lintas. Hal tersebut dapat diindikasikan dengan jumlah kejadian lakalantas jalan raya serta jumlah korban yang berjatuhan. Tahun 2009, angka kejadian lakalantas dan jumlah korban, meningkat sekitar 10 persen dibanding tahun sebelumnya.

Berdasarkan data di Polda Jabar, pada tahun 2009, ada 7.099 warga yang menjadi korban dalam lakalantas jalan. Dari angka itu, korban luka ringan sebanyak 1.406 orang, luka berat 1.595 orang dan korban meninggal 4.098 orang. Hampir 80 persen korbannya  merupakan  warga  dalam   usia  produktif. Selain itu, sekitar 75 persen korban adalah pengendara dan penumpang R2.

Karena itu, lakalantas jalan berada di peringkat ketiga sebagai penyebab kematian manusia di Indonesia setelah penyakit jantung dan stroke. Secara nasional, pada tahun 2009, lebih dari 20.000 orang di Indonesia meregang nyawa di aspal jalanan.

Meski menembus angka yang cukup fantastis sebagai pembunuh ketiga terbesar, tapi masyarakat masih menganggap lakalantas sebagai hal yang biasa. "Itu bisa terlihat dari pemberitaan pemberitaan di media massa. Jika ada kecelakaan lalu lintas seperti motor tertabrak mobil, atau tabrakan antara mobil dan mobil, beritanya cukup 1-2 hari. Berbeda jika ada pesawat jatuh, kapal laut tenggelam atau kereta api tabrakan, beritanya bisa panjang hingga seminggu.

Padahal, jika ketiga kecelakaan itu digabungkan, jumlah korbannya mungkin sekitar 500 orang per tahun. Coba bandingkan dengan jumlah korban lakalantas yang menembus 20.000 orang per tahun," kata Kasubdit Dikyasa (Pendidikan Pelayanan dan Rekayasa) Ditlantas Polda Jabar Ajun Komisaris Besar Sambodo Purnomo Yogo.

Sambodo menjelaskan, ada tiga hal penyebab kecelakaan di jalan raya yaitu faktor  kendaraan, f aktor  pengendara,  dan lingkungan. Lingkungan di sini dimaksudkan seperti cuaca, fasilitas jalan, atau keadaan tak terduga lainnya di luar faktor kendaraan dan pengendara.

"Sebuah kecelakaan bisa disebabkan satu faktor tadi atau kombinasi antara ketiga faktor. Misal, kecelakaan terjadi karena kendaraannya yang rusak. Namun, rusaknya kendaraan itu karena kelalaian si pemilik yang tidak merawat kendaraannya dengan baik," ujarnya.

Sambodo menambahkan, lakalantas juga bisa memicu meningkatnya jumlah warga miskin. Pasalnya, sebagian besar korban adalah warga-warga yang berusia produktif dan merupakan penopang dana bagi keluarga. "Sekitar 70 persen keluarga korban lakalantas, terjerumus dalam jurang kemiskinan. Khususnya, jika korban adalah penunjang ekonomi keluarga. Jika korban luka berat sehingga cacat dan meninggal, tentunya memberatkan bagi keluarga yang ditinggal. Jika luka berat, keluarga akan terbebani dengan biayanya.

Dan jika meninggal, tentunya keluarga yang ditinggalkan, bakal merasa kesulitan secara ekonomi. Akhirnya, muncullah kemiskinan. Termasuk makin meningkatnya anak yang tidak sekolah atau putus sekolah karena harus membantu ekonomi keluarga semenjak ditinggal kepala keluarga. Jadi, kecelakaan lalu lintas bisa memunculkan permasalahan-permasalahan baru. Ini yang harus dicermati semua masyarakat," ujarnya.

Kemacetan di Jalanan kian parah saja. Berbagai langkah telah dilakukan Pemprov Jawa Barat untuk mengurai kemacetan, namun sia-sia jika melihat data terbaru jumlah kendaraan, ditambah masuknya kendaraan dari kota-kota penyangga. Ironisnya, pemerintah Jabar nyaris tak peduli dengan terus saja mengizinkan penjualan kendaraan bermotor. Sedangkan pembenahan moda angkutan massal, sama sekali tak diperhatikan.

Warga Jabar dan masyarakat kota-kota Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek, Bandung) dibiarkan menentukan pilihannya sendiri. Warga menengah ke atas menggunakan mobil dan warga menengah ke bawah memilih motor sebagai alat transportasi yang murah dan relatif cepat untuk mencapai tujuan.

Padatnya arus lalu lintas makin memprihatinkan. Waktu tempuh dari rumah ke tempat kerja kian lama dan kerugian akibat bahan bakar minyak (BBM) yang terbakar sia-sia bernilai triliunan setiap tahunnya. Kemudian kerugian moril dan materiil tak terhitung besarnya. Masyarakat mengalami depresi akibat kemacetan. Makin banyak masyarakat miskin yang sakit karena udara di Jakarta kian tak sehat. Namun, mengapa pemerintah lamban mengambil langkah, mencari solusi masalah ini?

Terkait dengan penambahan kendaraan di Jabodetabek, contoh saja di Jakarta / Ibu Kota, data Polda Metro Jaya menyebutkan, ada 12 juta kendaraan hilir mudik pada tahun 2011 di jalan Jakarta. Diprediksi, apabila tidak diambil langkah cepat dan tepat, lalu lintas Jakarta akan lumpuh. Polisi merilis, hingga akhir tahun 2011, jumlah kendaraan di Jakarta mencapai 11.962. 396 unit kendaraan. Terdiri dari 8.244.346 unit kendaraan roda dua dan 3.768. 050 unit roda empat.

Jika jumlah kendaraan tahun ini ditambah dengan masuknya kendaraan baru sebanyak 700.000 kendaraan, maka ada sekitar 12 juta kendaraan menyemut dan mengular di jalan-jalan Jakarta setiap hari. Menurut pernyataan Gubernur DKI Fauzi Bowo, ada 700 ribu kendaraan baru yang telah dipasarkan di Jakarta pada tahun 2011. Termasuk yang akan dipasarkan di Depok,   Bekasi,  Bogor,  dan  Cianjur,   Jawa Barat. Tapi, bisa dipastikan bahwa mobil-mobil baru itu paling banyak dipasarkan di Jakarta.

di Provinsi Jawa Barat jika tidak segera ada pembenahan pola transportasi, pada tahun  2014 diperkirakan Jabar mengalami kemacetan total. Mungkin juga bisa lebih cepat. Macam-macam solusi Pemprov Jabar untuk mengurai kemacetan. Tapi, tetap saja kemacetan tak bisa direduksi.

Cabang Pelayanan Dispenda Prov. Wil. kota Bandung II Kawaluyaan melayani :

1. Pembayaran Pa jak Kendaraan Bermotor (PKB).

2.Daftar Ulang STNK, cetak STNK.

3.Mutasi masuk / keluar Kendaraan Bermotor.

4.Pembayaran Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB).

5.Pendaftaran Kendaraan Baru.

6.Pembayaran Pajak Air Bawah Tanah dan Air Permukaan.

Sementara itu Kepala Dinas Pendapatan Provinsi Jawa Barat melalui Sekretaris, Dra Nanin Hayani Adam,MSi pada penyampaian suratnya kepada Tataruang Indonesia No.937/867-Pajak, mengatakan bahwa kendaraan yang terdaftar kondisi sampai dengan bulan November 2011 dari berbagai jenis yang terdiri dari kenderaan jenis Sedan, dan sejenisnya, Jeep dan sejenisnya, Minibus dan sejenisnya, Bus dan sejenis-nya, Truck, PickUp dan sejenisnya, Alat alat berat dan sepeda motor adalah sebagai berikut :

Jumlah Sepeda motor (R-2 dan R-3) :   8.900.175 unit s/d November 2011.

Roda Empat                            : 10.341.997 unit s/d November 2011.

Ditanya tentang penambahan STNK setiap harinya dan persyaratannya, Nanin menga-takan bahwa itu semua datanya berada pada pihak Kepolisian./Tb koko