
Di Indonesia terdapat kurang lebih danau kategori besar > 50 ha sebanyak 500 buah. Danau...
Dirilis oleh admin pada Rabu, 22 Feb 2012
Telah dibaca 639 kali

Drs. H. Eka Santosa (Ketua Forum DAS Citarum Wilyah Jawa Barat) berbicara dengan Mulyadi Abdul Manan (Pimred MKTRI) melalui telepon seluler mengenai Sungai Citarum. Pertanyaan yang diajukan adalah : Apa tanggapan beliau tentang Sungai Citarum ? Bagaimana debit air Sungai Citarum menurun, sehingga Indonesia Power UBP Saguling tidak dapat mengoperasikan 4 unit Turbin sekaligus ? Apa pandangan beliau tentang dana yang diturunkan oleh pihak Asian Develovment Bank (ADB) yang banyak tersebar di youtube bahwa mereka telah mengucurkan dana besar untuk Sungai Citarum, namun hasilnya tidak mampu memperbaiki kondisi Sungai Citarum ? Mengenai Konservasi yang ditetapkan oleh Menteri Kehutanan Tentang Syarat Konservasi 30 % dari syarat satu Propinsi dipenuhi oleh Propinsi Jawa Barat ?
Apakah PT Chevron Gheotermal Indonesia yang berada di Kabupaten Garut sampai Kabupaten Bandung, membutuhkan air dari mata air Gunung Wayang sehingga mempengaruhi debit air Sungai Citarum ? Apa Harapan Beliau tehadap Sungai Citarum yang mana selama ini BAPPENAS mempunyai peran utama dalam perencanaan nasional untuk penyiapan perbaikan Sungai Citarum agar dapat menjadi sumber kahidupan bagi masyarakat Jawa Barat juga Indonesia dengan menghasilkan energy listrik, pengairan untuk pertanian, air untuk kebutuhan industry dan kebutuhan perumahan pemukiman serta cadangan air PAM Jakarta ? Beliau menjawab : Sungai Citarum sudah tercemar berat, keadaannya sudah sangat buruk sekali. Saat ini kami sedang mengumpulkan seluruh pengguna air Citarum dan akan mengintegrasikan seluruh persoalan Citarum dalam waktu dekat. Triliunan Rupiah sudah mengalir untuk Citarum dan itu saya sangat prihatin. Kami akan bekerja keras untuk menghimpun seluruh persoalannya dan mendesak penyelesaiannya.
Memang benar 30% Konservasi harus dipenuhi oleh Propinsi Jawa Barat. Kita akan melakukan investigasi dengan masalah tersebut Seharusnya BAPPENAS membuat perencanaan yang benar-benar bisa membuat penyelesaian tersebut diatas karena sudah didukung dana yang sangat besar. Harapan beliau akan memperjuangakan terus Sungai Citarum karena menurutnya bahwa kejahatan terhadap perusakan Citarum sama dengan Kejahatan Terorisme.
Mencanangkan Gerakan Rehabilitasi Dan Konservasi Di Sub DAS Citarum Pemerintah Kota Bandung melantik pengurus Forum Daerah Aliran Sungai Citarum Koordinator Wilayah Kota Bandung, serta mencanangkan gerakan rehabilitasi dan konservasi sub Daerah Aliran Sungai Citarum di wilayah Kota Bandung. Wali Kota Bandung Dada Rosada meminta pengurus Forum DAS Citarum harus bisa membuat program yang realistis dan terintegrasi agar rehabilitasi dan konservasi DAS Citarum bisa berjalan dengan baik. Dia juga menyatakan dibentuknya forum ini supaya mampu mengurangi beban Pemkot Bandung dalam hal lingkungan. Oleh karena itu, perlu koordinasi yang baik antara masyarakat dan pemerintah. Pembangunan, pemberdayaan, dan pelayanan akan tersendat jika tidak dibantu oleh masyarakat, sehingga koordinasi merupakan hal yang penting yang harus dilakukan Koordinator Wilayah Forum DAS Citarum Jawa Barat Eka Santosa akan mencanangkan gerakan rehabilitasi dan konservasi di sub daerah aliran sungai (DAS) Citarum seperti di Sungai Cikapundung yang melintasi Kab. Bandung Barat dan Kota Bandung dan agenda forum ke depan akan berdiskusi bersama masyarakat sekitar sungai mengenai tiga program yang akan dibuat a.l. rehabilitasi dan konservasi sungai, pemberdayan masyarakat sekitar sungai, dan advokasi. Menurut dia, salah satu bentuk rehabilitasi itu pihaknya akan mengambil tindakan tegas bagi industri yang membuang limbah B3 tanpa diolah terlebih dahulu ke Sungai Citarum.
Pencemaran lingkungan sama dengan tindakan terorisme karena mengancam generasi kedepannya Tidak kurang dari 1.400 industri di bantaran Sungai Citarum mulai dari Kota Bandung hingga Bekasi yang memanfaatkan Sungai Citarum. Dan diantara mereka masih ada industri yang secara bebas membuang limbah ke Citarum," ucap Eka kepada wartawan seusai acara Pengukuhan Pengurus Forum DAS Citarum Kota Bandung di Cicabe, Kecamatan Mandalajati, Senin (21-2-2012). Saat ini pihaknya telah merekrut tim di 10 kab./kota di Jabar untuk turut serta pada forum DAS Citarum. "Seluruhnya ada 12 kabupaten dan kota di Jabar yang dilintasi Sungai Citarum. Kita tinggal menunggu SK untuk Kab. Karawang dan Sumedang. Untuk mengatasi masalah tersebut, dia akan merangkul pihak-pihak yang memanfaatkan Sungai Citarum seperti Indonesia Power, PLN, dan perusahaan-perusahaan, serta industri lainnya untuk sama-sama memperbaiki DAS Citarum.
Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum menyatakan terdapat seluas 46.000 hektare lahan kritis di sepanjang pinggiran daerah aliran sungai tersebut. Kepala BBWS Citarum Hasanudin mengatakan lahan kritis inilah yang menyebabkan sedimentasi sungai jadi meningkat. Selain banyak limbah yang dibuang ke sungai, alih fungsi lahan di sepanjang pinggir sungai ini semakin banyak. Permasalahan yang kerap terjadi tersebut membuat banjir sering terjadi di bagian tengah dan hulu sungai. Banjir besar Sungai Citarum telah terjadi sebanyak tiga kali, yaitu pada 1998, 2005, dan terakhir tahun lalu. Dia mengemukakan pemerintah sudah melakukan banyak hal untuk menyehatkan kembali Sungai Citarum.
“BBWS sendiri sering terlibat dengan komunitas masyarakat sekitar seperti penanaman padi di tempat yang seharusnya. Hasanudin melanjutkan praktik-praktik pertanian yang tidak tepat seharusnya segera dihentikan. Tanpa menghentikannya, maka manfaat rehabilitasi yang sekarang tengah dijalankan akan minim. Secara struktural mulai dilakukan sekarang rehabilitasinya, kami mengharapkan nantinya semua pihak bekerjasama untuk DAS Citarum menjadi sehat. Rehabilitasi Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum yang merupakan sungai terpanjang di Jawa Barat membutuhkan dana Rp35 triliun untuk pengerjaan selama 15 tahun. Rehabilitasi dimulai dengan pengerukan Sungai Citarum yang ditargetkan selesai dalam tiga tahun. Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto mengatakan pengerjaan pengerukan ini menelan biaya Rp1,3 triliun. Proyek tersebut, menurutnya, bertujuan melancarkan air serta mengurangi banjir yang kerap melanda kawasan Citarum. Kami targetkan 2013 dapat selesai. Persiapan pengerukan memang baru beres saat musim hujan ini namun Januari tahun depan kemarau, sehingga bisa berlanjut.
Sebenarnya tidak ada yang bisa menjamin banjir tidak akan datang lagi, tetapi ini bisa mengurangi, katanya seusai pencanangan penggalian pertama rehabilitasi pengendalian banjir Sungai Citarum di Bale Endah Kabupaten Bandung. Menurut dia, road map pengendalian banjir Sungai Citarum tersebut sudah berjalan sejak 2008. Jika menginginkan hasil sempurna, pasti membutuhkan waktu yang lama. Kalau ingin sempurna termasuk untuk penghijauan dan konservasinya butuh waktu sampai 15 tahun. Dalam road map, kita butuh anggaran sebanyak Rp35 triliun atau artinya setiap tahun rata-rata butuh Rp2,1 triliun. Dia berharap dana selama 15 tahun tersebut tidak hanya berasal dari pemerintah daerah atau Kementerian PU, tetapi juga para stakeholder lainnya.
Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Citarum Hasanudin mengatakan total panjang pengerukan di DAS Citarum mencapai 180 kilometer meliputi beberapa kabupaten yakni Kabupaten Bandung, Purwakarta, Karawang, dan Bekasi. Rehabilitasi ini bertujuan meningkatkan kapasitas DAS Citarum, mengurangi genangan air, konservasi, serta menyehatkan sungai Citarum. Dia melanjutkan sebanyak 10,5 juta m3 sedimen atau endapan dasar tanah di dasar sungai akan diangkat pada proses pengerukan ini. Sungai Citarum adalah sungai terpanjang di Jabar sepanjang 297 km dan seluas 12.000 km persegi. Hasanudin mengatakan pembuangan sampah ke DAS tersebut juga menambah parah kondisi Citarum. Dalam sehari, terdapat 400 ton limbah kotoran hewan peternakan. Ditambah lagi limbah industri sebanyak 280 ton per hari. Tim Kajian/ Redaksi