
Di Indonesia terdapat kurang lebih danau kategori besar > 50 ha sebanyak 500 buah. Danau...
Dirilis oleh admin pada Rabu, 28 Dec 2011
Telah dibaca 770 kali
Sampai saat ini, permukaan dan debit air waduk Saguling menurun drastis, sehingga hal tersebut sangat berpengaruh pada kinerja operasional turbin yang dijalankan. Biasanya dalam keadaan air normal atau penuh, turbin yang beroperasi bisa 3 sampai 4 unit, tapi saat ini hanya 1 unit saja dengan kapasitas 175 MW yang mampu digerakakan.
Hasil pemantauan di lokasi Dam Saguling, permukaan air menurun drastis, padahal pada awal bulan Agustus tahun lalu debit air yang masuk dari aliran Sungai Citarum masih dapat menggerakkan 3 unit turbin. Namun, pada Desember 2011 ini hanya 1 unit yang bisa digerakkan, sehingga perlu pasokan bantuan dari pembangkit listrik lain.
Penurunan ini, seperti diungkapkan GM PT Indonesia Power UBP Saguling, Eri Prabowo, melalui staf Humasnya, Asep Wahyudin melalui telepon selulernya, sudah dirasakan sejak awal bulan Pebruari ini. Penurunan ini bahkan sangat mempengaruhi operasional turbin pembangkit, sehingga yang biasanya beroperasi 3-4 unit kini hanya beroperasi 1 unit saja.
“Meski demikian karena ini memakai sistem jaringan interkoneksi dengan pembangkit listrik lain, maka setiap kali debit air Saguling menurun, akan segera mendapat pasokan dari pembangkit listrik lain seperti PLTU Kamojang, PLTU Suralaya, dan PLTG Tanjungpriok. Demikian pula kalau Saguling kelebihan pasokan, dengan segera bisa memasok ke tempat lain,” Ujarnya.
Dijelaskan, General Manajer PT Indonesia Power UBP Saguling, senantiasa memantau perkembangan keadaan debit air Saguling. Informasi akan selalu masuk terlebih komunikasi dengan Power House selalu terjalin dengan baik, apalagi jika sudah terlihat ada tanda black out, maka akan segera mendapat respons dari pembangkit listrik lain yang berada pada satu jaringan dengan PLTA Saguling ini.
Bukan itu saja, bahkan tanaman Eceng Gondok pun sudah masuk kedalam wilayah bendungan. Hall tersebut dikhawatirkan dapat mengganggu kinerja turbin. Tindakan pembersihan seharusnya dilakukan secepat mungkin agar kinerja turbin tidak mengalami gangguan yang lebih besar lagi.
Ditambahkannya, ada dampak negatif dari gundulnya wilayah konservasi di sekitar daerah aliran sungai (DAS) Citarum ini terutama pada saat kemarau tiba, air dengan cepat menguap karena kurangnya pepohonan sebagai media peresap air, akibatnya permukaan waduk Saguling jika memasuki musim kemarau sebentar saja debit air di wilayah tersebut akan menurun, dan lumpur yang mengendap cukup tebal.
Jika sudah seperti ini, gulma air semacam eceng gondok atau sampah mudah ditemui di muara atau delta Saguling. Seperti diketahui Saguling adalah waduk paling hulu/ awal yang menggunakan jasa dari aliran Sungai Citarum, dibandingkan PLTA Cirata dan Jatiluhur, maka Saguling yang paling rawan, karena posisinya yang berada di bagian hulu.
Pihak PT Indonesia Power UBP Saguling juga mengajak kepada semua unsur baik dinas/ instansi maupun perorangan, kalau bisa bersama-sama menjaga lingkungan agar tetap hijau, terutama DAS Citarum sebagai pemasok air untuk 3 waduk besar di Jabar, agar tetap dapat terpelihara dengan baik, terutama di bagian Hulu.
Berdasar pada acuan UU RI No 7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air :
Pasal 51
Pasal 53
Pasal 70
Abdul Kholiq