Full Post » Head Line

Apakah Pertanian Dianggap Sebagai Penghambat Pembangunan ?

Dirilis oleh admin pada Rabu, 21 Dec 2011
Telah dibaca 529 kali

Apabila Dilihat dari Aspek ketahanan pangan Kabupaten Cianjur masih berada pada peringkat lima besar di Jawa Barat sebagai “Lumbung Pangan” melalui upaya-upaya penguatan produksi sangat berpengaruh nyata terutama dari fungsi “Ketersediaan”

Evaluasi hasil produksi selama 5 tahun masih mengalami penguatan dengan data :

Padi

2006

2007

2008

2009

2010

Rata-rata 5 Tahun

Luas Tanam

120.943

156.465

142.348

154.303

149.874

144.787

Luas Panen

137.946

135.071

137.269

148.950

164.647

144.777

Produktivitas

49,60

50,59

53,46

54,00

55,59

52,86

Produksi

684.165

688.749

733.900

804.385

915.266

765.293

Evaluasi ketersediaan dan ketahanan pangan beras selama lima tahun di Kabupaten Cianjur dapat dilihat dari lampiran. Hal termaksud masih mengalami surplus dengan kebutuhan konsumsi sebanyak 105,85 kg/kapita/tahun

Pelaksanaan pola tanam/tata tanam di tingkat lapangan adanya sistem pengaturan pola tanam dengan SK Bupati No.521/Kep.212-Pe/2010 dengan pengaturan Pola I + II “Padi-Padi-Palawija”. Pola II “Padi Lokal-Padi Lokal-Palawija”.

Lahan Sawah yang masih tersedia di wilayah Kabupaten Cianjur terdiri atas :

Data Lahan Pertanian Kabupaten Cianjur

Dilihat dari berbagai persfektif, banyak faktor yang dapat menyebabkan kenaikan harga beras. Mulai dari rantai tataniaga yang cukup panjang sampai kondisi iklim yang sulit diprediksi. Akan tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa beras merupakan kebutuhan pokok masyarakat Indonesia, sebagian besar penduduk mengkonsumsi beras sebagai bahan makanan pokok, sehingga permintaan tehadap produksi beras nasional cukup besar.

Produksi padi Kabupaten Cianjur setiap tahun mengalami peningkatan, dengan luas lahan sawah 65.736 Ha, target produksi padi pada Tahun 2010 sebesar 761.167, realisasi produksi mencapai 849.092 Ton (GKG), persentase realisasi terhadap target mencapai 110%, dengan demikian dapat dikatakan bahwa produksi padi di Kabupaten Cianjur melebihi dari target yang telah ditetapkan.

Jika dilihat dari rantai tataniaganya, proses produksi padi menjadi beras relatif cukup panjang mulai dari on farm (biaya produksi) sampai off farm (biaya panen dan pasca panen), di setiap proses tersebut memerlukan cost yang cukup tinggi, hal tersebul akan berdampak pada meningkatnya nilai jual beras ditingkat pedagang.

Selain rantai tataniaga yang dapat mengakibatkan harga beras tinggi, kondisi iklim yang tidak dapat diprediksi juga mengakibatkan banyak terjadi kegagalan panen di daerah-daerah lain, sehingga stok beras nasional mengalami penurunan. Sesuai dengan hukum ekonomi, jika supply sedikit dan demand meningkat atau tetap, akan mengakibatkan harga suatu produk meningkat begitu pula sebaliknya, jika stok beras dipasaran banyak/cukup terhadap permintaan, dengan otomatis maka harga beras di tingkat pedagang juga akan turun dengan sendirinya.

Dari sisi inflasi, dengan naiknya laju inflasi walaupun sedikit otomatis akan berpengaruh pula terhadap kenaikan harga berbagai produk, tidak terlepas pula akan berpengaruh terhadap berbagai komoditas pertanian temasuk harga beras.

Menurut Kepala Sub Bagian Penyusunan Program Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Ir. Enan Laksana Suhendar tidak keberatan dengan kenaikan harga beras jika sampai kepada petaninya, namun jika hanya untuk kepentingan pengelola atau suatu perusahaan saja sungguh menyedihkan untuk para petani. “Saya berharap bahwa kenaikan harga beras itu dapat dirasakan manfaatnya oleh petani, namun saya sedih jika petani itu sendiri hanya dapat imbasnya saja, sungguh menyedihkan nasib para petani itu” kata Enan.

Enan juga menyesalkan jika Pertanian itu dianggap sebagai penghambat pembangunan, “padahal sepatutnya pertanian itu ditingkatkan, sebab Indonesia itu adalah Negara agraris, jadi sepatutnya pertanian itu harus ditingkatkan, jangan dianggap sebagai penghambat pembangunan, karena kita juga butuh makan,” tambah Enan melanjutkan.

Namun sangat disayangkan bahwa Kabupaten Cianjur sebagai produsen beras di Indonesia yang mampu memproduksi beras lebih dari kebutuhan pokok di Wilayah Kabupaten Cianjur masih mendapatkan Jatah beras raskin, mengapa hal tersebut bisa terjadi,,,?

Terlebih dari hal tersebut, proyek PLTA Cisokan yang rencananya akan dimulai, akan menghabiskan lahan pertanian di wilayah Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Bandung Barat, ini akan membuat harga beras akan semakin naik. Baru-baru ini Tim kajian TATA RUANG INDONESIA mensurvey harga beras di Kabupaten Cianjur, dan membeli beras dengan harga Rp. 12.000,-/kg.

Tim Kajian/Com