
Di Indonesia terdapat kurang lebih danau kategori besar > 50 ha sebanyak 500 buah. Danau...
Dirilis oleh admin pada Minggu, 11 Dec 2011
Telah dibaca 374 kali

Kebudayaan merupakan sebuah aset yang diwariskan turun temurun, begitu sayang jika diabaikan. Karena Negara lain saja demi untuk dikatakan memiliki kebudayaan dan kesenian mereka rela tanpa malu mencaplok kebudayaan bangsa lain.
Seperti kebudayaan Pesta Dadung, sebuah tradisi dari tanah Sunda, atau tepatnya dari Desa Legokherang, kecamatan Cilebak, Kabupaten Kuningan yang berusia ratusan tahun ini, betapa sayangnya jika punah, hanya karena kurangnya perhatian pemerintah.
Legokherang merupakan desa di ujung timur selatan Kab. Kuningan, tepatnya di Kecamatan Cilebak. Desa dengan letak geografis dalam area perbukitan di lereng barat gunung Subang dan lereng utara gunung Rajadesa ini berbatasan langsung dengan kabupaten Ciamis dan provinsi Jawa Tengah. Atau sebelah barat berbatasan dengan Desa Jatisari, Ciamis, sebelah selatan Desa Kutaagung, Kecamatan Dayeuhluhur, Cilacap, JawaTengah.
Sumber utama penghasilan penduduk desa ini dari pertanian dan perkebunan. Seperti padi, singkong, kopi, nangka, kayu, aren yang dikelola untuk pembuatan kolang-kaling juga gula aren. Untuk hal terakhir, di Kabupaten Kuningan, Cilebak dan Subang memang dikenal sebagai daerah sentra produksi gula aren, dimana masyarakat setempat lebih mengenalnya dengan sebutan gula beureum.
Kerajinan masyarakat atau Home Industri disana tidak sebatas hanya pembuatan gula aren. Tetapi terdapat pula para pengrajin anyaman bambu, alat-alat perlengkapan dapur.
Ironisnya, baik hasil pertanian, perkebunan dan kerajinan mereka jual tidak ke kabupaten sendiri, namun ke pasar Rancah, Ciamis. Karena akses menuju Kuningan terkendala dengan rusaknya sarana infrastruktur jalan. Sehingga wajar saja jika penduduk Legokherang begitu mendamba terbangunnya jalan tembusan melalui jalur Kecamatan Ciwaru, karena kesanalah route terdekat menuju pusat perekonomian Kuningan.
Dambaan itu sama besarnya dengan dambaan masyarakat Legokherang akan perhatian Pemerintah terhadap tradisi khas asli milik mereka yang telah berusia ratusan tahun dan selama ini selalu digelar paska penen, yakni “Pesta Dadung“.
Karena jika tidak segera mendapat perhatian juga dilestarikan, mereka begitu khawatir budaya warisan leluhur yang telah digelar turun temurun itu tidak mustahil alam musnah.
Padahal tradisi Pesta Dadung juga bisa menjadi aset bagi Kuningan yang nota bene tengah memiliki visi menjadi kabupaten agropolitan dan agro wisata.
Awalnya pesta dadung merupakan kaulinan budak angon (penggembala kambing), dikala memanfaatkan waktu senggang saat menggembala ternak di ladang atau di huma. Kegiatan itu berlangsung cukup lama, kemudian terjadi perubahan tradisi hingga sekarang, dimana ritual yang menggunakan seutas tambang pengikat ternak dan dijadikan alat untuk menari itu tidak lagi hanya sebuah kaulinan budak angon, namun menjadi upacara perwujudan sikap ucap syukur para petani usai panen.
Dari keterangan Kepala Desa Legokherang, Suhendar, terpetik cerita bahwa pesta dadung mulai ditetapkan menjadi tradisi masyarakat Legokherang dengan kemasan lebih baik dan diperkenalkan pada masyarakat luar sekitar Tahun 1818, saat Kuwu Angkin memimpin tampuk pemerintahan di desa tersebut
Konon, kala itu Angkin hingga mendatangkan seperangkat alat gamelan salendro dan pelog (laras Sunda) dari Cirebon. Sebagai pelengkap, namun bisa dikatakan alat utama disediakan dadung dengan panjang kurang lebih dua belas meter, tujuannya sebagai alat untuk menari mengikuti tembang yang diiringi gamelan. Jenis tariannya sendiri yaitu jalak pengkor hasil kreasi Angkin Jiwa Laksana.
Sebagai pengiring tersaji musik kangsrengan dan waledan. Dua jenis musik hasil karya adi luhung Sunan Gunung Jati, salah seorang dari Wali Songo yang menyadari betul betapa efektifnya penyebaran Islam melalui media seni. Dari sini bisa dilihat jika tradisi pesta dadung memiliki visi melestarikan tradisi kehidupan agraris dan nilai-nilai penyebaran Islam.
Menurut Abung Kusman, seorang jurnalis yang juga merupakan tokoh muda Desa Legokherang, bahwa pesta dadung dahulu diselenggarakan tiap tahun, tepatnya pada bulan juli. Sayang dalam perjalanannya tidak semulus kesenian tradisi lainnya, karena berbagai alasan kini perhelatan itu tidak bisa dilaksanakan secara kontinyu. Yang paling signifikan adalah keterbatasan dana, disamping itu keberpihakan Pemkab Kuningan nampak belum sepenuhnya.
"Disadari atau tidak, nampaknya terhadap kesenian, Pemkab Kuningan belum memperhatikan secara serius, baik dari aspek anggaran maupun pembinaanya. Contoh kasus ya pesta dadung. padahal tradisi ini sudah menjadi ikon Kabupaten Kuningan di tingkat regional maupun nasional," ungkap Abung, tampak kecewa.
Di era tahun 80-an, lanjut Abung, pesta dadung sering dipentaskan di anjungan Jawa Barat, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), tapi sekarang ritual ini seperti hidup segan mati pun tak mau. Satu hal yang membuat tradisi ini tetap bertahan hingga kini, yakni besarnya kecintaan masyarakat terhadap budaya sendiri.
Para tetua, aparat desa hingga seluruh lapisan masyarakat Legokherang tetap mempertahankan dan melangsungkan tradisi pesta dadung, “Ya walaupun tidak seperti dulu, kini pesta dadung hanya dilaksanakan tiga tahun sekali. Tentunya hal ini sangat memprihatinkan. Ya, tanda syukur masyarakat agraris selepas panen kan tiap tahun, sementara pestanya sendiri bisa digelar tiga tahun sekali. ucap penuh keprihatinan dari pria yang kesehariannya meliput kegiatan Pemda tersebut.
(Rudiat/Red)