
Pembangunan dan perkembangan perekonomian umumnya dan khususnya di bidang perindustrian dan...
Dirilis oleh Akom Kusdinar pada Sabtu, 15 Oct 2011
Telah dibaca 1327 kali

Jadi Andalan Pembangkit Listrik
Indonesia tengah menghadapi ancaman krisis energi. Sehingga dalam 10 tahun mendatang, angin dan batubara akan jadi andalan untuk memasok energi listrik. Hal ini sudah masuk dalam rencana penting pemerintah untuk meningkatkan kapasitas pembangkit listrik sebanyak 29 gigawatt.
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan General Electric (GE) akhirnya menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk kerja sama pengem-bangan energi terbarukan dan proyek batu bara yang lebih bersih guna membantu Indonesia memenuhi kebutuhan tenaga listrik dan lingkungan.
Tambahan tenaga pembangkit ini akan mendukung upaya untuk menambah tingkat pasokan listrik di Indonesia berbasiskan energi terbarukan, seperti pembangkit listrik tenaga bayu (angin), surya (matahari), gas panas bumi (geotermal), biomassa (biomass), biogas, dan batu bara yang lebih bersih.
Kedua pihak akan bekerja sama untuk mempelajari sejumlah isu penting yang bisa mendukung implemen-tasi komersial pada proyek energi terbarukan di Indonesia sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat ketiga dunia. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi tersebut, kebutuhan energi di Indonesia juga turut meningkat sekitar 7% setiap tahun.
Dalam MoU ini, pihak RI diwakili oleh Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Panas Bumi dan Pengelolaan Air Tanah Ditjen Minerbapabum, Sugiharto Harso Prayitno, dari Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM).
Upaya ini dilakukan sebagai salah satu arah pembangunan Indonesia yakni terciptanya ketahanan energi. Sehingga MoU tersebut akan mendukung target pemerintah untuk menciptakan kontribusi energy terbarukan menjadi 17% pada 2025. Bila dibandingkan dengan kondisi saat ini, kontribusi tersebut baru mencapai 3,4 % dari keseluruhan penggunaan energy di dalam negeri.
“Tantangan awal yang akan dihadapi dalam kerja sama ini adalah prakarsa pemanfaatan energi angin yang dikembangkan Indonesia melalui proyek WHyPGen (Wind Hybrid Power Generation) yang kemudian dilanjutkan dengan serangkaian kegiatan energi terbarukan lainnya,” demikian Kepala BPPT Marzan A Iskandar.
Proyek ini didukung oleh United Nations Development Programme (UNDP) dengan bantuan dari Global Environment Facility (GEF) yang bertujuan mempromosikan implementasi komersial pada energi terbarukan. Utamanya adalah untuk proyek pembangkit listrik hibrida bertenaga angin yang menggabungkan antara tenaga angin dan tenaga lainnya seperti tenaga fotovoltaik, tenaga mikrohidro, tenaga gas alam atau tenaga diesel.
Ketika angin tidak bertiup, tenaga cadangan secara cepat menggantikannya untuk memenuhi kapasitas pembangkit yang dibutuhkan. Karena itu, dari sisi kapasitas pembangkit akan mengurangi konsumsi bahan bakar fosil secara keseluruhan. GE sudah melakukan studi pengukuran angin di Indonesia, mengumpulkan data terkait potensi tenaga angin di sejumlah wilayah di Indonesia untuk memastikan terwujudnya pengembangan proyek pembangkit listrik tenaga angin berkapasitas lebih dari 80 megawatt (MW).
BPPT juga akan merancang kerangka kerja proyek tersebut melalui dialog dengan sejumlah badan pemerintah dan lembaga keuangan dan GE akan membantu dalam pengembangan dan implementasi proyek energi tenaga angin. ”MoU ini mencerminkan percepatan perkembangan dari proyek energi terbarukan di Indonesia,” kata Direktur GE Power & Water di Indonesia Gatot Prawiro. Dia menambahkan, proyek seperti WHYPGen akan membantu membentuk kerangka pasar yang tepat dalam mengimplementasikan aplikasi energi tenaga angin komersial. /Tim Kajian Redaksi Tata Ruang