Kamis, 18 Juli 2019 | 00:24 WIB

LAPORAN KEBENCANAAN GEOLOGI 3 Februari 2019 (06:00 WIB)

  • Berita
  • Minggu, 3 Februari 2019 | 19:29 WIB
  • Reporter
LAPORAN KEBENCANAAN GEOLOGI 3 Februari 2019 (06:00 WIB)

*LAPORAN KEBENCANAAN GEOLOGI*
*3 Februari 2019 (06:00 WIB)*
*I. SUMMARY*
Hari ini, Minggu 3 Februari 2019, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

*1. Gunungapi*
*Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)*
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Gunung Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut, asap kawah utama tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah selatan dan baratdaya.

Melalui rekaman seismograf tanggal 2 Februari 2019 tercatat:
- 3 kali gempa Hembusan
- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 1 kali gempa Vulkanik Dalam
- 1 kali gempa Tornillo
- 9 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:
- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km untuk sektor Utara -Barat, 4 km untuk sektor Selatan - Barat, dan dalam jarak 7 km untuk sektor Selatan - Tenggara, didalam jarak 6 km untuk sektor Tenggara - Timur serta didalam jarak 4 km untuk sektor Utara -Timur.
- Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunung Sinabung agar mewaspadai potensi banjir lahar terutama pada saat terjadi hujan lebat.

VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.

*Gunungapi Agung (Bali)*
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Agung (3142 m dpl) mengalami erupsi sejak 21 November 2017. Letusan terakhir tejadi pada tanggal 23 Januari 2019.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Angin lemah hingga sedang ke arah timur. Asap kawah utama berwarna putih tipis hingga sedang tinggi 100 meter dari puncak.

Melalui rekaman seismograf tanggal 2 Februari 2019 tercatat:
- 3 kali gempa Hembusan
- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 7 kali gempa Tektonik Jauh

Kegempaan tanggal 3 Februari 2019 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:
- 3 kali gempa Hembusan
- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 1 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:
- Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
- Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
- Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.
- Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.

VONA:
VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 23 Januari 2019 pukul 03:18 WITA, terkait erupsi erupsi dengan ketinggian kolom abu tidak dapat teramati karena gunung tertutup kabut. Amplitudo gempa letusan 23 mm dan lama gempa 116 detik.

*Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)*
Tingkat aktivitas Level III (SIAGA). Gunungapi Soputan (1784 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. Asap kawah utama tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur.

Melalui rekaman seismograf tanggal 2 Februari 2019 tercatat:
- 10 kali gempa Guguran
- 1 kali gempa Hembusan
- 6 kali gempa Tektonik Jauh
- 1 kali gempa Terasa dengan skala II MMI

Rekomendasi:
Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 4 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 6,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman guguran lava dan awan panas guguran

VONA:
VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8809 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7000 meter di atas puncak.

*Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara)*
Tingkat aktivitas Level III (SIAGA). G. Karangetang (2460 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas sedang hingga tebal tinggi sekitar 200 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah timur dan barat laut.

Melalui rekaman seismograf tanggal 2 Februari 2019 tercatat:
- 65 kali gempa Guguran
- 52 kali gempa Hembusan
- 5 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 9 kali gempa Hybrid
- 4 kali gempa Tektonik Jauh
- Tremor Menerus dengan amplitudo 0,25 mm, dominan 0,25 mm

Rekomendasi:
- Masyarakat di sekitar G. Karangetang dan pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam radius 2.5 km dari Kawah 2 (kawah utara) dan Kawah Utama (kawah Selatan) ke arah Utara-
Timur-Selatan-Barat dan radius 3 km ke arah Baratlaut.
- Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G. Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.
- Masyarakat disekitar G. Karangetang dianjurkan agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi potensi bahaya gangguan saluran pernapasan jika terjadi hujan abu

VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke arah Timur.

*Gunungapi Anak Krakatau (Lampung)*
Tingkat aktivitas Level III (Siaga) sejak 27 Desember 2018. Gunungapi Anak Krakatau (110 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama tidak teramati. Angin bertiup lemah ke arah timur.

Melalui rekaman seismograf tanggal 2 Februari 2019 tercatat:
- 2 kali gempa Hembusan
- 4 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:
Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 5 km dari kawah.

VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 8 Januari 2019 pukul 18:11 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1110 m diatas permukaan laut atau sekitar 1000 meter di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah timur.

*Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)*
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur dan barat. Asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 50 meter dari puncak.

Melalui rekaman seismograf tanggal 2 Februari 2019 tercatat:
- 29 kali gempa Guguran
- 3 kali gempa Low-Frequency
- 2 kali gempa Hembusan
- 5 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:
- Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.
- Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.
- Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi.
- Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.
- Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No.15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.
- Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.

VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

*Gunungapi Dukono (Halmahera)*
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi tertutup kabut. Asap kawah utama tidak teramati. Angin bertiup lemah ke arah selatan.

Melalui rekaman seismograf tanggal 2 Februari 2019 tercatat:
- 2 kali gempa Tektonik Jauh
- Tremor menerus dengan amplitudo 0.5 - 6 mm, dominan 2 mm

Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Januari 2019 pukul 18:32 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1529 m di atas permukaan laut atau sekitar 300 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah tenggara.

*Gunungapi Ibu (Halmahera)*
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi tertutup kabut. Asap kawah utama tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah selatan dan timur.

Melalui rekaman seismograf tanggal 2 Februari 2019 tercatat:
- 82 kali gempa Letusan
- 64 kali gempa Hembusan
- 17 kali gempa Guguran
- 27 kali Tremor Harmonik
- 1 kali gempa Tektonik Jauh
- 1 kali gempa Terasa skala II-III MMI

Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.

VONA:
VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Januari 2019 pukul 08:01 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2125 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Selatan.

*Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)*
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gamalama (1715 m dpl) mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter diatas puncak atau 1965 m diatas permukaan laut.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. Asap kawah utama tidak teramati. Angin bertiup lemah ke arah tenggara.

Melalui rekaman seismograf tanggal 2 Februari 2019 tercatat:
- 2 kali gempa Hembusan
- 1 kali gempa Tektonik Lokal
- 8 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G.Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari kawah puncak G.Gamalama
Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G.Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m diatas puncak.

Untuk Gunungapi Status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

*2. Gerakan Tanah*
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Februari 2019 dibandingkan Januari 2019 , potensinya mengalami penurunan di sebagian wilayah Indonesia bagian Barat yang meliputi wilayah sebagian wilayah Sumatera bagian Utara dan Barat ,sebagian jawa bagian barat, namun potensinya tinggi di wilayah Kalimantan,Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku dan Papua
Gerakan tanah terakhir terjadi :

1. Kabupaten Lahat, Provinsi Sumatera Selatan
2. Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara
3. Kota Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara
4. Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat
5. Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara
6. Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara
7. Kota Malang, Provinsi Jawa Timur
8. Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur

Penyebab: Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat kemiringan lereng, tanah pelapukan yang tebal dan labil, saluran drainase yang kurang baik dan dipicu oleh curah hujan lebat sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah.
Dampak : Gerakan tanah / tanah longsor menyebabkan lalu lintas putus di Kabupaten Lahat, Provinsi Sumatera Selatan ; 3 orang meninggal dunia di Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara; di Kota Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara ; 3 (tiga) rumah terancam di Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat; 4 rumah terdampak longsor dan lalu lintas putus di Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara; lalu lintas putus di Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara ; 3 (tiga) rumah terancam di Kota Malang, Provinsi Jawa Timur ; lalu lintas terhambat di Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur ;
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.


*3. Gempa Bumi*
*1) Gempa bumi di tenggara Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara*
Informasi Gempa bumi:
Gempa bumi terjadi pada hari Sabtu, 2 Februari 2019, pukul 08:10 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 125,44° BT dan 0,29° LU, dengan magnitudo 5,3 pada kedalaman 10 km, berjarak 113 km Tenggara Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara.
Berdasarkan GFZ, Jerman, pusat gempa bumi berada pada koordinat 125,51° BT dan 0,41° LU, dengan magnitudo 5,0 pada kedalaman 74 km.

Kondisi geologi daerah terdekat pusat gempa bumi:
Pusat gempa bumi berada di laut. Wilayah-wilayah yang dekat dengan sumber gempa disusun oleh batuan aluvium dan vulkanik berumur Kuarter, batuan sedimen berumur Tersier dan batuan pra-Tersier. Batuan vulkanik Kuarter dan aluvium bersifat urai/lepas sehingga memperkuat efek guncangan gempabumi.

Penyebab gempa bumi:
Berdasarkan lokasi pusat gempa bumi dan kedalamannya, gempa bumi diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas subduksi Punggungan Mayu yang berada di Laut Maluku.

Dampak gempa bumi:
Intensitas guncangan gempa bumi terbesar akan dirasakan di wilayah yang berdekatan dengan pusat gempa bumi, kemudian intensitasnya semakin melemah seiring bertambahnya jarak dengan pusat gempa bumi. Berdasarkan BMKG, guncangan gempa bumi dirasakan di Manado dan Kotamobagu dengan intensitas II MMI. Gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami. Belum ada informasi kerusakan yang diakibatkan gempa bumi ini.


*2) Gempa bumi di Kep. Mentawai, Sumatera Barat*
Informasi Gempa bumi:
Gempa bumi terjadi pada hari Sabtu, 2 Februari 2019, pukul 16:27 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 99,84° BT dan 3,03° LS, dengan magnitudo M 6,0 pada kedalaman 17 km, berjarak 117 km tenggara Kepulauan Mentawai. GFZ, Jerman melalui GEOFON program menginformasikan bahwa gempa bumi berpusat di koordinat 100,09° BT dan 2,87° LS dengan kekuatan 6,0 Mw dan kedalaman 10 km. USGS), Amerika, menginformasikan bahwa pusat gempa bumi terletak pada koordinat 100,7021° BT dan 2,860° LS, dengan magnitudo M 6,1 pada kedalaman 10 km.
Sebelumnya pada pukul 16:03 WIB, terjadi gempa bumi di lokasi yang berdekatan, dengan kekuatan M 5,3 (BMKG). Kemudian, terdapat juga gempa bumi susulan pada pukul 16:58 dengan kekuatan M 5,2.

Kondisi geologi daerah terdekat pusat gempa bumi:
Pusat gempa bumi berada di Samudera Indonesia di perairan barat daya Pulau Pagai Utara, Kepulauan Mentawai. Berdasarkan tatanan tektonik Pantai Barat Sumatera dipengaruhi oleh zona tunjaman lempeng Indo-Australia ke bawah lempeng Eurasia, sehingga memberikan kontribusi tektonik di laut maupun di daratan Pulau Sumatera. Kondisi geologi di sekitar pusat gempa bumi, pada umumnya tersusun oleh alluvium dan endapan pantai, batuan sedimen berumur Tersier serta batuan Pra-Tersier. Jenis batuan berumur muda seperti alluvium dan batuan Kuarter biasanya bersifat urai dan mengamplifikasi guncangan gempa bumi.

Penyebab gempa bumi:
Berdasarkan posisi pusat gempa bumi dan kedalamannya, serta mekanisme fokal sumber gempa bumi yang berupa sesar naik (GFZ), kejadian gempa bumi ini berasosiasi dengan aktifitas penunjaman Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia di lokasi tersebut.

Dampak gempa bumi:
Berdasarkan informasi dari Pos Pengamatan G. Marapi di Bukittinggi, guncangan gempa dirasakan di lokasi tersebut dengan intenaitas III MMI. BMKG melaporkan bahwa guncangan gempa bumi dirasakan di Kota Padang, Pariaman dan Painan dengan intensitas III-IV MMI, serta di Padang Panjang, Bukittinggi dan Solok dengan intensitas II-III MMI. Gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami. Belum ada informasi kerusakan yang diakibatkan gempa bumi ini.

Rekomendasi:
(1) Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.
(2) Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan, yang diharapkan berkekuatan lebih kecil.

*II. DETAIL*
*1. Gunungapi*
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini:
a. 1 (satu) gunungapi status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung (Sumut) sejak 2 Juni 2015.
b. 4 (empat) gunungapi status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung (Bali) sejak 10 Februari 2018, G. Soputan (Sulut) sejak 3 Oktober 2018, G. Karangetang (Sulut) sejak 20 Desember 2018, dan G. Anak Krakatau (Lampung) sejak tanggal 27 Desember 2018.
c. Sebanyak 15 gunungapi Status Waspada/Level II (Merapi, Marapi, Kerinci, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Lokon, Gamalama, Gamkonora, Ibu, Dukono, Lewotolok dan Banda Api);
d. Sisanya 49 gunungapi: Status NORMAL/Level I.

*Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)*
  Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas).
   Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut, asap kawah utama tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah selatan dan baratdaya.

Melalui rekaman seismograf tanggal 2 Februari 2019 tercatat:
- 3 kali gempa Hembusan
- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 1 kali gempa Vulkanik Dalam
- 1 kali gempa Tornillo
- 9 kali gempa Tektonik Jauh

  Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir tanggal 28 Agustus 2018 tidak memperlihatkan perubahan yang signifikan dibanding hasil pengukuran tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus 2017 hanya terlihat pengikisan sekitar 30 cm dibagian outletnya.
  Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Penduduk yang bermukim disekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan terhadap potensi lahar pada musim hujan.

*Gunungapi Agung (Bali)*
  Erupsi Gunung Agung mencapai puncaknya pada periode 25-29 November 2017. Setelah itu, frekuensi erupsi cenderung mengalami penurunan. Gempa frekuensi tinggi (terutama Gempa Vulkanik) dan Gempa frekuensi rendah (terutama Gempa Hembusan dan Letusan) masih terekam namun berfluktuasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava sekitar 23 juta m3. Pola deformasi GPS maupun Tiltmeter jika dihitung dari November 2017 hingga saat ini maka secara umum menunjukkan trend deflasi. Citra Satelit sesekali merekam adanya energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung yang mengindikasikan bahwa masih ada suplai magma ke permukaan dengan laju rendah. Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan bahwa aktivitas erupsi masih teramati namun dengan eksplosivitas rendah.
  Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
  Pada tanggal 23, 24 dan 25 Juni 2018 terekam rentetan Gempa Vulkanik Dalam yang mengindikasikan intrusi magma baru dari kedalaman menuju ke permukaan. Pada 27 Juni 2018 terjadi erupsi eksplosif dan disusul erupsi efusif selama lk. 24 jam pada periode 28-29 Juni 2018. Erupsi efusif ini menghasilkan pertumbuhan kubah lava sekitar 4 juta m3 sehingga volume total kubah lava menjadi sekitar 27 juta m3. Erupsi efusif ini disertai emisi gas dan abu halus yang tersebar ke selatan dan bertahan lama di udara sehingga sempat menutup Bandara Ngurah Rai selama lk. 10 jam. Erupsi eksplosif Strombolian terjadi pada malam hari di tanggal 2 Juli 2018 disertai suara dentuman dan lontaran material pijar teramati keluar kawah ke segala arah mencapai jarak maksimum sekitar 2-3 km dari kawah puncak. Setelah erupsi ini, frekuensi Gempa Letusan mengalami penurunan. Erupsi terakhir G. Agung terjadi pada 27 Juli 2018.
  Pasca Gempa Lombok 29 Juli 2018, fase erupsi G. Agung sempat terhenti, kemungkinan karena gempa tektonik ini mengganggu sistem vulkanik G. Agung (efek botol soda) sehingga suplai gas magmatik dari kedalaman tidak dapat terakumulasi di kedalaman melainkan segera dikeluarkan ke permukaan seiring dengan goncangan gempa tektonik. Mulai 30 Desember 2018, fase erupsi G. Agung kembali lagi seiring dengan berkurangnya kegempaan tektonik di sekitar Pulau Lombok. Aktivitas G. Agung saat ini belum kembali stabil dan masih berpotensi untuk mengalami erupsi karena kegempaan vulkanik maupun hembusan masih terjadi, mengindikasikan masih adanya suplai magma ke permukaan namun saat ini masih dengan laju rendah. Indikasi ke arah erupsi yang besar hingga saat ini belum teramati.
  Pada tanggal 30 Desember 2018 pukul 04:09 WITA terjadi erupsi, namun tinggi kolom abu tidak teramati. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi ± 3 menit 8 detik. Informasi dari masyarakat hujan abu dengan intensitas ringan jatuh di Banjar Dinas Uma Anyar Ababi bagian barat, Wilayah Kota Amlapura, Desa Seraya Barat, Desa Seraya Tengah, Banjar Dinas Ujung Pesisi, Lingkungan Pesagi dan Lingkungan Pebukit, Desa Tenggalinggah, dan Kantor BPBD Kabupaten Karangasem. Pada tanggal 10 Januari 2019 pukul 19:55 WITA terjadi letusan, namun tinggi kolom abu tidak teramati karena gunung tertutup kabut. Letusan ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi ± 4 menit 26 detik. Pada tanggal 19 Januari 2019 pukul 02:45 WITA terjadi letusan, namun tinggi kolom abu tidak teramati karena gunung tertutup kabut. Letusan ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 23 mm dan durasi ± 2 menit 8 detik. Pada tanggal 22 Januari 2019 pukul pukul 03:42 WITA terjadi letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 2.000 m di atas puncak (5.142 m di atas permukaan laut), Kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah timur dan tenggara. Amplitudo gempa letusan 22 mm dan lama gempa 1452 detik. Pada tanggal 23 Januari 2019 pukul 03:18 WITA terjadi letusan, namun tinggi kolom abu tidak dapat teramati karena gunung tertutup kabut. Amplitudo gempa letusan 23 mm dan lama gempa 116 detik.
  Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Angin lemah hingga sedang ke arah timur. Asap kawah utama berwarna putih tipis hingga sedang tinggi 100 meter dari puncak.

Melalui rekaman seismograf tanggal 2 Februari 2019 tercatat:
- 3 kali gempa Hembusan
- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 7 kali gempa Tektonik Jauh

Kegempaan tanggal 3 Februari 2019 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:
- 3 kali gempa Hembusan
- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 1 kali gempa Tektonik Jauh

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Agung.

*Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)*
  Gunungapi Soputan merupakan gunungapi strato yang terletak di Kabupaten Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara. Ketinggian G. Soputan sekitar 1784 m di atas permukaan laut. Pertumbuhan kubah lava dimulai sejak tahun 1991, hingga meluber keluar dari bibir kawah menyebabkan sering terjadi guguran lava, dengan jarak luncur sekitar 2 hingga 6.5 km dari puncak ke arah barat, timur dan utara, penduduk terdekat berada pada jarak 8-10 km dari puncak. Pada saat musim hujan dapat terjadi pembentukan uap dari air hujan oleh kubah lava yang masih panas, sehingga terjadi letusan sekunder, berupa letusan freatik (letusan uap) yang dapat memicu guguran kubah lava dan awan panas guguran (tipe Karangetang). Pada daerah perkemahan (camping ground) di lereng timur laut berjarak sekitar 3 sampai 4 km dari puncak G. Soputan, berpotensi terlanda hujan abu lebat dan dapat terkena lontaran batu (pijar). Endapan material letusan G. Soputan di lereng sebelah barat – tenggara, apabila terjadi hujan lebat bisa mengakibatkan terjadinya aliran lahar yang mengarah ke: S. Ranowangko, S. Lawian, S. Popang, Londola Kelewehu dan Londola Katayan. Potensi bahaya lainnya ialah guguran lava yang masih sering terjadi di sekitar tubuh gunungapi, umumnya terjadi di bagian utara. Tetapi yang harus diwaspadai adalah jika terjadi guguran kubah lava yang diikuti awan panas guguran ke arah Silian, karena bukaan kawahnya menuju ke daerah tersebut. Potensi bahaya erupsi G. Soputan dapat berupa abu vulkanik yang dapat berdampak pada keselamatan penerbangan.
  Data pemantauan G. Soputan dari periode Agustus hingga awal Oktober 2018 menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Pada tanggal 3 Oktober 2016 pukul 01:00 WITA tingkat aktivitas G. Soputan dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga). Pada hari Sabtu 15 Desember 2018 sore seismograf merekam peningkatan aktivitas kegempaan G. Soputan. Peningkatan kegempaan terus terjadi dan hari minggu tgl 16 Desember 2018 pada pukul 01:02 WITA terekam gempa letusan dengan amplitudo maksimum 40 mm (overscale) dan disertai suara gemuruh yang terdengar dengan intensitas lemah-sedang dari Pos Pengamatan Gunungapi Soputan yang berada Silian Raya (sekitar 10 km di sebelah Baratdaya G. Soputan). Ketinggian kolom erupsi tidak teramati karena tertutup kabut. Pada hari Minggu 16 Desember 2018 sekitar pukul 03:09 WITA teramati sinar api dari puncak G. Soputan dan ketinggian kolom abu teramati berkisar 3000-5000 m di atas puncak. Hingga saat ini tremor menerus masih terekam mengindikasikan bahwa erupsi masih berlangsung.
  Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. Asap kawah utama tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur.

Melalui rekaman seismograf tanggal 2 Februari 2019 tercatat:
- 10 kali gempa Guguran
- 1 kali gempa Hembusan
- 6 kali gempa Tektonik Jauh
- 1 kali gempa Terasa dengan skala II MMI

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Soputan terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Soputan.

*Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara)*
  Gunungapi Karangetang di Pulau Siau, Kabupaten Sitaro, Sulawesi Utara adalah salah satu gunungapi di Indonesia yang paling sering erupsi. Erupsi terakhirnya terjadi pada tahun 2016. Setelah 2 tahun istirahat, G. Karangetang kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik sejak akhir bulan November 2018. Peningkatan signifikan aktivitas kegempaan dengan konten frekuensi tinggi (vulkanik dalam maupun dangkal) teramati meningkat secara cepat pada 22-23 November 2018 namun menurun drastis pada 24 November 2018. Penurunan tajam kegempaan diikuti oleh terekamnya citra panas (Hot Spot) oleh satelit pada 25 November 2018 pukul 01:10 WITA, sehingga dapat disimpulkan bahwa penurunan tajam kegempaan frekuensi tinggi mengindikasikan bahwa magma telah sampai ke permukaan kawah.
  Pengamatan visual menunjukkan bahwa aktivitas G. Karangetang saat ini berpusat di Kawah 2 (kawah Utara). Pasca penurunan kegempaan frekuensi tinggi, transisi terjadi dimana kegempaan frekuensi rendah berupa tremor harmonik maupun kegempaan akibat aktivitas permukaan seperti hembusan dan guguran mengalami peningkatan. Pemantauan visual terkini mengindikasikan adanya potensi perluasan area landaan guguran lava maupun awan panas guguran. Saat ini aliran lava maupun awan panas guguran teramati keluar dari Kawah 2 mengarah ke Kali Sumpihi (sebelah Barat dari Kawah 2) sejauh lk. 700-1000 m dan ke Kali Batuare (sebelah Baratlaut dari Kawah 2) sejauh lk. 1000 – 2000 m.
  Berdasarkan hasil analisis data pemantauan maka tingkat aktivitas G. Karangetang dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) terhitung mulai tanggal 20 Desember 2018 pukul 18:00 WITA.
  Pemantauan visual pada tanggal 2 Februari 2019 mengindikasikan adanya potensi perluasan area landaan guguran lava maupun awan panas guguran. Saat ini aliran lava maupun awan panas guguran teramati keluar dari Kawah Dua mengarah ke Kali Sumpihi (sebelah Barat dari Kawah 2) sejauh lk. 700-1000 m dan ke Kali Batuare (sebelah Baratlaut dari Kawah 2) sejauh lk. 1000 – 2000 m. Jangkauan guguran lava maupun awan panas guguran dapat bertambah jika migrasi magma ke permukaan terus terjadi. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah timur dan barat laut.
  Saat ini erupsi yang paling mungkin terjadi di G. Karangetang dapat bersifat efusif (guguran lava & awan panas guguran) hingga eksplosif strombolian (lontaran batu/lava pijar disertai abu). Kemungkinan untuk terjadinya erupsi eksplosif skala besar saat ini masih kecil.

Melalui rekaman seismograf tanggal 2 Februari 2019 tercatat:
- 65 kali gempa Guguran
- 52 kali gempa Hembusan
- 5 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 9 kali gempa Hybrid
- 4 kali gempa Tektonik Jauh
- Tremor Menerus dengan amplitudo 0,25 mm, dominan 0,25 mm

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Karangetang terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Sitaro tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Karangetang.

*Gunungapi Anak Krakatau (Lampung)*
  Gunung Anak Krakatau secara administratif termasuk kedalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, tercatat aktivitas letusan terakhir terjadi pada tanggal 19 Februari 2017, berupa letusan strombolian. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level III (SIAGA). G. Anak Krakatau (110 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
  Dalam rangka kesiapsiagaan sejak tanggal 18 Juni 2018 sudah dikoordinaskan dan diinformasikan kepada pihak BPBD Prov. Banten, BPBD Prov. Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.
  Pada tanggal 26 Desember 2018 terjadi letusan berupa awan panas dan surtseyan. Awan panas ini yang mengakibatkan adanya hujan abu termasuk yang terekam pada 26 Desember 2018 pukul 17:15 WIB. Dari Pos Kalianda, jam 12 malam melaporkan suara gemuruh dengan intensitas tinggi. Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis data visual maupun instrumental hingga 26 Desember 2018, maka tingkat aktivitas G. Anak Krakatau ditingkatkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (siaga) terhitung tanggal 27 Desember 2018 pukul 06:00 WIB.
  Pemantauan secara intensif dan kontinyu tetap dilakukan guna memantau aktivitas G. Anak Krakatau. Tingkat aktivitas G. Anak Krakatau dapat berubah sewaktu-waktu baik penurunan ataupun kenaikan status, dan akan disesuaikan sesuai dengan perubahan tingkat kegiatan dan ancamannya.
  Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama tidak teramati. Angin bertiup lemah ke arah timur.

Melalui rekaman seismograf tanggal 2 Februari 2019 tercatat:
- 2 kali gempa Hembusan
- 4 kali gempa Tektonik Jauh

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Banten maupun BPBD Provinsi Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.

*Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)*

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB status G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur dan barat. Asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 50 meter dari puncak. Teramati aliran lava sejauh 700 m ke arah tenggara.

Melalui rekaman seismograf tanggal 2 Februari 2019 tercatat:
- 29 kali gempa Guguran
- 3 kali gempa Low-Frequency
- 2 kali gempa Hembusan
- 5 kali gempa Tektonik Jauh

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Merapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Merapi.

*Gunungapi Dukono (Halmahera)*
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi tertutup kabut. Asap kawah utama tidak teramati. Angin bertiup lemah ke arah selatan.

Melalui rekaman seismograf tanggal 2 Februari 2019 tercatat:
- 2 kali gempa Tektonik Jauh
- Tremor menerus dengan amplitudo 0.5 - 6 mm, dominan 2 mm

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

*Gunungapi Ibu (Halmahera)*
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi tertutup kabut. Asap kawah utama tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah selatan dan timur.

Melalui rekaman seismograf tanggal 2 Februari 2019 tercatat:
- 82 kali gempa Letusan
- 64 kali gempa Hembusan
- 17 kali gempa Guguran
- 27 kali Tremor Harmonik
- 1 kali gempa Tektonik Jauh
- 1 kali gempa Terasa skala II-III MMI

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.

*Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)*
  Gunungapi Gamalama yang memiliki ketinggian 1715 m dpl, secara administratif terletak di Kota Ternate (Pulau Ternate), Provinsi Maluku Utara.
  Letusan G. Gamalama pada umumnya berlangsung di Kawah Utama dan hampir selalu magmatik. Kecuali letusan yang terjadi dalam tahun 1907 yang mengambil tempat di lereng timut (letusan samping) dan menghasilkan leleran lava (Batu Angus) hingga ke pantai. Letusan 1980 juga menghasilkan Kawah Baru, lokasinya sekitar 175 m ke arah timur dari Kawah Utama.
  Gunungapi Gamalama merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif sering hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter diatas puncak atau 1965 m diatas permukaan laut.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. Asap kawah utama tidak teramati. Angin bertiup lemah ke arah tenggara.

Melalui rekaman seismograf tanggal 2 Februari 2019 tercatat:
- 2 kali gempa Hembusan
- 1 kali gempa Tektonik Lokal
- 8 kali gempa Tektonik Jauh

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Gamalama terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Gamalama.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:
- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
- BMKG,
- Air Nav,
- Air Traffic Control, Airlines,
- VAAC Darwin,
- VAAC Tokyo,
- dll.

VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:14 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.
(2) G. Agung, Bali
VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 23 Januari 2019 pukul 03:18 WITA, terkait erupsi erupsi dengan ketinggian kolom abu tidak dapat teramati karena gunung tertutup kabut. Amplitudo gempa letusan 23 mm dan lama gempa 116 detik.
(3) G. Soputan, Sulawesi Utara
VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8809 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7000 meter di atas puncak.
(4) G. Karangetang, Sulawesi Utara
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke arah Timur.
(5) G. Anak Krakatau, Lampung
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 8 Januari 2019 pukul 18:11 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1110 m diatas permukaan laut atau sekitar 1000 meter di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah timur.
(6) G. Merapi, Jawa Tengah – Yogyakarta
VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.
(7) G. Dukono, Maluku Utara
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Januari 2019 pukul 18:32 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1529 m di atas permukaan laut atau sekitar 300 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah tenggara.
(8) G. Ibu, Maluku Utara
VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Januari 2019 pukul 08:01 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2125 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Selatan.
(9) G. Gamalama, Maluku Utara
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m diatas puncak.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

*2. Gerakan Tanah*
  Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Februari 2019 yang dibandingkan bulan Januari 2019 cenderung potensinya relatif menurun di sebagian wilayah indonesia mulai dari wilayah pulau Pulau Sumatra bagian Utara dan Sumatera bagian timur , sebagian pulau jawa bagian barat dan tengah, Kalimantan. Sedang wilayah Bali, NTB, NTT, Maluku dan Papua, potensi masih tinggi . Wilayah Indonesia yang secara umum tetap perlu diwaspadai utamanya di jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan, dan sepanjang aliran sungai antara lain wilayah Aceh bagian barat dan Aceh bagian tengah, Sumatera bagian Utara dan Sumatera Selatan, Wilayah tengah di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat , Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan Tenggara , Maluku , NTB, NTT dan wilayah Papua.

Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terjadi di:

1.Kabupaten Lahat, Provinsi Sumatera Selatan*, 2.Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara*, 3.Kota Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara*, 4.Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat*, 5.Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara*, 6.Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara*, 7.Kota Malang, Provinsi Jawa Timur*, 8.Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur*, 9.Kabupaten Bengkayang, Provinsi Kalimantan Barat, 10. Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara, 11. Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur; 12. Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah; 13. Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur, 14. Kabupaten Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara, 15. Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali, 16. Kabupaten Tolikara, Provinsi Papua, 17. Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur, 18. Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah, 11. Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur, 12. Kabupaten Pamekasan, Provinsi Jawa Timur, 19. Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah, 20. Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali,21. Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat, 22.Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali, 23.Kabupaten Bangli, Provinsi Bali, 24.Kabupaten Bangli, Provinsi Bali.

*Kejadian gerakan tanah terbaru:
1. Kabupaten Lahat, Provinsi Sumatera Selatan
Gerakan tanah terjadi di jalur jalan Lahat - Pagar Alam via Endikat, tepatnya di Desa Jati, Kecamatan Pulau Pinang, Kabupaten Lahat, Provinsi Sumatera Selatan pada Sabtu, tanggal 2 Februari 2019 sekitar pukul 02.00 WIB dini hari setelah lokasi itu diguyur hujan deras. Gerakan tanah ini mengakibatkan ruas jalan nasional yang menghubungkan Kota Pagar Alam ke Kabupaten Lahat di Sumatera Selatan putus total.

Sumber :
https://news.detik.com/berita/4411202/jalan-lahat-pagar-alam-sumsel-putus-total-akibat-longsor
https://finance.detik.com/infrastruktur/d-4411298/jalan-lahat-pagar-alam-longsor-pupr-akibat-hujan-deras

Gerakan tanah yang diperkirakan berupa longsoran pada badan jalan dengan panjang jalan yang terputus 30 meter lebih. Penyebab gerakan tanah diperkirakan dipicu oleh curah hujan yang tinggi membuat gorong-gorong jalan menjadi pecah dan putus sehingga membuat air meresap ke bawah badan jalan. Karenanya, jalan menjadi longsor.

2. Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara
Gerakan tanah terjadi pada pemukiman di Desa Mahawu, Kecamatan Tuminting, dan di Kelurahan Taas, Lingkungan I, Kecamatan Tikala, Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara pada hari Jum’at, 1 Februari 2019, di Desa Mahawu sekitar pukul 18.31 WITA dan di Kel. Taas pada pagi hari setelah hujan deras. Gerakan tanah di Desa Mahawu mengakibatkan 1 (satu) rumah rusak dan 1 (satu) orang meninggal dunia, begitupun di Kel. Taas mengakibatkan 1 (satu) rumah rusak dan 1 (satu) orang meninggal dunia.

Sumber :
https://regional.kompas.com/read/2019/02/01/19144701/banjir-dan-longsor-terjang-manado-3-warga-meninggal
http://manado.tribunnews.com/2019/02/01/jon-duarmas-guru-smk-negeri-9-manado-korban-longsor-di-taas-tetangga-sempat-dengar-suara-gemuruh

Gerakan tanah yang diperkirakan berupa longsoran pada tebing di atas pemukiman. Penyebab gerakan tanah diperkirakan diantaranya kemiringan lereng yang terjal, tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang serta mudah menyerap air, serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi.

3. Kota Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara
Gerakan tanah terjadi di beberapa titik pada akses jalan utama penghubung wilayah Manado- Tomohon, Rurukan-Kumelembuai, dan Woloan-Tara-tara di Kelurahan Tinoor, Kecamatan Tomohon Utara, Kota Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara pada hari Sabtu, tanggal 2 Februari 2019, pagi hari setelah hujan deras. Material longsoran menutup badan jalan mengakibatkan akses jalan terhambat, tidak bisa dilalui kendaraan.

Sumber :
https://regional.kompas.com/read/2019/02/02/11370351/sempat-tertutup-longsor-akses-jalan-manado-tomohon-kembali-normal

Gerakan tanah yang diperkirakan berupa longsoran pada tebing jalan yang material longsorannya menimbun badan jalan. Penyebab gerakan tanah diperkirakan diantaranya kemiringan lereng yang terjal, tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang serta mudah menyerap air, serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi.

4. Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat
Gerakan tanah terjadi pada pemukiman di RT 02/03 Kampung Baru, Desa Lamajang, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat pada hari Jum’at, 1 Februari 2019, sekitar pukul 16.30 WIB setelah hujan deras. Gerakan tanah ini berawal dari air irigasi sawah yang berada di bagian atas pemukiman warga meluap ke persawahan sehingga tanah pesawahan longsor mengakibatkan 3 (tiga) rumah rusak dan 3 (tiga) rumah terancam.

Sumber :
http://jabar.tribunnews.com/2019/02/02/rumah-digoyang-longsor-wawan-teriak-panggil-istri-dan-cucunya-yang-sedang-di-dalam-rumah

Gerakan tanah yang diperkirakan berupa longsoran. Penyebab gerakan tanah diperkirakan diantaranya kemiringan lereng yang terjal, tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang serta mudah menyerap air, sistem irigasi sekitar pesawahan kurang baik serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi.

5. Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara
Gerakan tanah terjadi di beberapa titik di Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara, sebanyak 6 titik longsor terjadi di Desa Tateliweru, Kecamatan Mandolang. Sementara 2 titik longsor di Jalan trans sulawesi, dan 4 titik longsor menerjang permukiman warga di lokasi yang berdekatan membuat 4 rumah terdampak longsor dan mengalami kerusakan. Akibat longsor tersebut, Jalan Trans Sulawesi sempat terputus sekira 3 jam dan sebagian ruas Jalan Koka-Ringroad tertutup material longsor. Gerakan tanah terjadi pada hari Jum’at, 1 Februari 2019.

Sumber :
https://news.okezone.com/read/2019/02/01/340/2012712/selain-manado-banjir-dan-longsor-juga-terjang-minahasa

Gerakan tanah yang diperkirakan berupa longsoran. Penyebab gerakan tanah diperkirakan diantaranya kemiringan lereng yang terjal, tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang serta mudah menyerap air, serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi.

6. Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara
Gerakan tanah terjadi di ruas jalan nasional Sibolga – Tarutung di 2 titik, Km 12 dan 13 di Kecamatan Sitahuis, Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara pada hari Jum’at, 1 Februari 2019, sekitar pukul 18.00 WIB pasca hujan mengguyur daerah itu. Material longsoran menutup badan jalan mengakibatkan arus lalu lintas dari Kota Sibolga menuju Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara lumpuh total, tidak bisa dilalui kendaraan.

Sumber :
https://smartnewstapanuli.com/2019/02/01/longsor-di-jalinsum-sitahuis-arus-lalu-lintas-dialihkan-ke-jalan-rampah-poriaha/

Gerakan tanah yang diperkirakan berupa longsoran pada tebing jalan yang material longsorannya menimbun badan jalan. Penyebab gerakan tanah diperkirakan diantaranya kemiringan lereng yang terjal, tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang serta mudah menyerap air, serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi.

7. Kota Malang, Provinsi Jawa Timur
Gerakan tanah terjadi pada pemukiman di Jalan Muharto Gang VII, Kelurahan Kedungkandang, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, Provinsi Jawa Timur ara pada hari Jum’at, 1 Februari 2019, malam hari setelah hujan deras. Gerakan tanah terjadi pada tebing dengan diameter panjang sekitar 20 meter, tinggi 15 meter dan kemiringan sekitar 80 derajat. Gerakan tanah ini mengakibatkan 3 (tiga) rumah terancam.

Sumber :
https://malangvoice.com/warga-muharto-mengungsi-takut-rumahnya-tertimbun-longsor/

Gerakan tanah yang diperkirakan berupa longsoran. Penyebab gerakan tanah diperkirakan diantaranya kemiringan lereng yang terjal, tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang serta mudah menyerap air, serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi.

8. Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur
Gerakan tanah terjadi di jalur jalan kawasan Bromo di Desa Tosari, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur ara pada hari Jum’at, 1 Februari 2019, sekitar pukul 02.00 dini hari setelah hujan yang deras turun beberapa hari ini. Longsoran dari tebing setinggi 12 meter sempat menutup jalan dari Desa Tosari menuju ke Desa Ngadiwono, tepatnya menuju ke Pelataran Desa Ngadiwono.

Sumber :
https://radarbromo.co.id/2019/02/01/jalan-tosari-ngadiwono-terputus-55-jam-karena-tertimbun-longsor/

Gerakan tanah yang diperkirakan berupa longsoran pada tebing jalan yang material longsorannya menimbun badan jalan. Penyebab gerakan tanah diperkirakan diantaranya kemiringan lereng yang terjal, tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang serta mudah menyerap air, serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi.

Rekomendasi:
• Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsoran susulan yang bisa menimpa petugas kebersihan;
• Masyarakat yang beraktifitas di sekitar bencana harus selalu meningkatkan kewaspadaan, terutama pada waktu hujan;
• Masyarakat yang terkena dampak rumah rusak, diharapkan segera mengungsi ke tempat yang lebih aman dan menjauh dari lokasi bencana;
• Perlu penguatan tebing sungai berupa penahan lereng dan penanaman tanaman yang berakar kuat dan panjang untuk menjaga kestabilan lereng;
• Segera membersihkan material longsoran, pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsoran susulan yang bisa menimpa petugas kebersihan;
• Saluran air permukaan dibagian atas pemukiman segera dibenahi agar lebih kedap air dan mampu menampung air jika debit air meningkat saat hujan;
• Menjaga fungsi lahan dengan menanami vegetasi berakar dalam dan kuat serta menata aliran air permukaan pada tebing di atas pemukiman tersebut;
• Material longsoran yang menutup badan jalan agar segera dibersihkan dan petugas selalu waspada terhadap potensi adanya longsor susulan;
• Masyarakat yang beraktivitas dan melalui jalan ini dihimbau untuk lebih waspada karena daerah tersebut masih berpotensi untuk terjadinya longsor susulan;
• Membuat rambu-rambu lalu lintas peringatan rawan longsor, agar pengguna jalan waspada bila melalui jalur jalan ini, terutama di musim hujan;
• Bagi yang bermukim dekat dengan tebing atau lereng yang terjal agar meningkatkan kewaspadaannya terutama saat terjadi hujan cukup deras dengan durasi yang cukup lama;
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah setempat.

PVMBG, BADAN GEOLOGI, KESDM; 3 Februari 2019
Kasbani