Sabtu, 16 Februari 2019 | 05:51 WIB

Laporan Kebencanaan Geologi 19 Januari 2019

  • Berita
  • Sabtu, 19 Januari 2019 | 18:33 WIB
  • Reporter
Laporan Kebencanaan Geologi 19 Januari 2019

Laporan Kebencanaan Geologi 19 Januari 2019

I. SUMMARY
Hari ini, Sabtu 19 Januari 2019, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunungapi
Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati dengan ketinggian 300 m dari atas puncak, berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat dan baratlaut.

Melalui rekaman seismograf tanggal 18 Januari 2019 tercatat:
• 3 kali gempa Hembusan
• 1 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:
• Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km untuk sektor Utara -Barat, 4 km untuk sektor Selatan - Barat, dan dalam jarak 7 km untuk sektor Selatan - Tenggara, didalam jarak 6 km untuk sektor Tenggara - Timur serta didalam jarak 4 km untuk sektor Utara -Timur.
• Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunung Sinabung agar mewaspadai potensi banjir lahar terutama pada saat terjadi hujan lebat.

VONA:
• VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.

Gunungapi Agung (Bali)
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Agung (3142 m dpl) mengalami erupsi sejak 21 November 2017. Letusan terakhir tejadi pada tanggal 10 Januari 2019 dan 19 Januari 2019.
Dari kemarin hingga pagi ini visual cuaca berawan hingga hujan, angin lemah ke arah timur. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas sedang dengan tinggi 200 meter dari puncak. Erupsi terekam dan teramati pada 19 Januari 2019 pukul 02:45 WITA. Abu erupsi teramati setinggi lk. 700 m di atas puncak. Lontaran lava pijar terjauh teramati ke arah Timur dengan jangkauan lk. 1000 m dari bibir kawah.
Melalui rekaman seismograf tanggal 18 Januari 2019 tercatat:
• 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
• 2 kali gempa Hembusan
• 3 kali gempa Tektonik Jauh

Kegempaan tanggal 19 Januari 2019 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:
• 1 kali gempa Letusan
• 2 kali gempa Hembusan

Rekomendasi:
• Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
• Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
• Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.
• Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.

VONA:
VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 19 Januari 2019 pukul 02:45 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu tidak dapat teramati karena gunung tertutup kabut. Amplitudo gempa letusan 23 mm dan lama gempa 128 detik.

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)
Tingkat aktivitas Level III (SIAGA). Gunungapi Soputan (1784 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama berwarna putih tipis bertekanan sedang dengan tinggi 100 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah timur dan barat.

Melalui rekaman seismograf tanggal 18 Januari 2019 tercatat:
• 20 kali gempa Guguran
• 3 kali gempa Hembusan
• 1 kali gempa Vulkanik Dalam
• 4 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:
Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 4 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 6,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman guguran lava dan awan panas guguran

VONA:
VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8809 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7000 meter di atas puncak.

Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara)
Tingkat aktivitas Level III (SIAGA). G. Karangetang (2460 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal dengan tinggi 150 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur dan baratdaya.

Melalui rekaman seismograf tanggal 18 Januari 2019 tercatat:
• 39 kali gempa Guguran
• 37 kali gempa Hembusan
• 7 kali gempa Vulkanik Dangkal
• 1 kali gempa Vulkanik Dalam
• 1 kali gempa Hybrid/Fase Banyak
• 1 kali gempa Harmonik
• 1 kali gempa Tektonik Lokal
• 3 kali gempa Tektonik Jauh
• Tremor menerus dengan amplituda 0.25 – 1 mm, dominan 0.5 mm

Rekomendasi:
• Masyarakat di sekitar G. Karangetang dan pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam radius 2.5 km dari Kawah 2 (kawah utara) dan Kawah Utama (kawah Selatan) ke arah Utara-Timur-Selatan-Barat dan radius 3 km ke arah Baratlaut.
• Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G. Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.
• Masyarakat disekitar G. Karangetang dianjurkan agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi potensi bahaya gangguan saluran pernapasan jika terjadi hujan abu

VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke arah Timur.

Gunungapi Anak Krakatau (Lampung)
Tingkat aktivitas Level III (Siaga) sejak 27 Desember 2018. Gunungapi Anak Krakatau (110 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama berwarna putih tipis dengan tinggi sekitar 100 meter dari puncak. Angin bertiup lemah ke arah timurlaut dan timur.
Melalui rekaman seismograf tanggal 18 Januari 2019 tercatat:
• 2 kali gempa Vulkanik Dalam
• 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
• Tremor Menerus dengan amplitudo 1 - 6 mm, dominan 1 mm

Rekomendasi:
Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 5 km dari kawah.

VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 8 Januari 2019 pukul 18:11 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1110 m diatas permukaan laut atau sekitar 1000 meter di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah timur.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan tenggara

Melalui rekaman seismograf tanggal 18 Januari 2019 tercatat:
• 28 kali gempa Guguran
• 1 kali gempa Low Frequency

Rekomendasi:
• Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.
• Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.
• Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi.
• Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.
• Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No.15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.
• Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.

VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

Gunungapi Dukono (Halmahera)
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama tidak teramati. Angin bertiup lemah ke arah barat.

Melalui rekaman seismograf tanggal 18 Januari 2019 tercatat:
• 2 kali gempa Letusan
• 1 kali gempa Vulkanik Dalam
• 4 kali gempa Tektonik Jauh
• Tremor menerus dengan amplitudo 0.5 - 6 mm, dominan 2 mm.

Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 9 Januari 2019 pukul 16:07 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1829 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah tenggara.

Gunungapi Ibu (Halmahera)
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah berwarna putih kelabu bertekanan sedang dengan tinggi 800 meter diatas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah selatan dan barat.

Melalui rekaman seismograf tanggal 18 Januari 2019 tercatat:
• 82 kali gempa Letusan
• 57 kali gempa Hembusan
• 22 kali gempa Guguran
• 12 kali gempa Tremor Harmonik
• 3 kali gempa Tornilo

Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.

VONA:
VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Januari 2019 pukul 08:01 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2125 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Selatan.

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gamalama (1715 m dpl) mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter diatas puncak atau 1965 m diatas permukaan laut.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah tenggara dan selatan.

Melalui rekaman seismograf tanggal 18 Januari 2019 tercatat:
• 1 kali gempa Hembusan
• 2 kali gempa Tektonik Jauh
• 1 kali gempa Getaran Banjir

Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G.Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari kawah puncak G.Gamalama
Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G.Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m diatas puncak.
Untuk Gunungapi Status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Januari 2019 dibandingkan Desember 2018 , umumnya potensinya tetap tinggi peningkatan dan semakin meluas ke sebagian besar wilayah Indonesia Sumatera , Jawa bagian Barat, Tengah dan Timur, Sulawesi , Kalimantan, Maluku, NTB, NTT, dan Papua

Gerakan tanah terakhir terjadi :
1. Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah
2. Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Provinsi Sulawesi Utara
3. Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah
4. Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah
5. Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah
6. Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah

Penyebab: Gerakan tanah diperkirakan disebabkan oleh kondisi tanah/ batuan yang lemah, morfologi yang curam dan adanya pemotongan lereng, curah hujan yang tinggi sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah. Disamping faktor litologi, faktor stratigrafi juga mungkin cukup berperan untuk terjadinya gerakan tanah di daerah ini, yaitu adanya batuan kedap air yang berada dibawah batuan yang sarang pada badan/tebing jalan.

Dampak : Gerakan tanah / tanah longsor menyebabkan akses jalan utama Magelang – Purworejo tidak bisa dilewati karena tertutup material longsoran di Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah;tebing jalan longsor dan menutupi sebagian badan jalan sehingga mengganggu akses laulintas kendaraan di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Provinsi Sulawesi Utara; seorang petani meninggal dunia di Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah;akses jalan terputus tidak bisa dilewati kendaraan roda dua maupun roda empat di Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah dan di Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah; kses jalan tertutup dan dua unit rumah warga terancam di Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

II. DETAIL
1. Gunungapi
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini:
a. 1 (satu) gunungapi status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung (Sumut) sejak 2 Juni 2015.
b. 4 (tiga) gunungapi status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung (Bali) sejak 10 Februari 2018, G. Soputan (Sulut) sejak 3 Oktober 2018, G. Karangetang (Sulut) sejak 20 Desember 2018, dan G. Anak Krakatau (Lampung) sejak tanggal 27 Desember 2018.
c. Sebanyak 15 gunungapi Status Waspada/Level II (Merapi, Marapi, Kerinci, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Lokon, Gamalama, Gamkonora, Ibu, Dukono, Lewotolok dan Banda Api);
d. Sisanya 48 gunungapi: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)
Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati dengan ketinggian 300 m dari atas puncak, berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat dan baratlaut.

Melalui rekaman seismograf tanggal 18 Januari 2019 tercatat:
• 3 kali gempa Hembusan
• 1 kali gempa Tektonik Jauh

Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir tanggal 28 Agustus 2018 tidak memperlihatkan perubahan yang signifikan dibanding hasil pengukuran tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus 2017 hanya terlihat pengikisan sekitar 30 cm dibagian outletnya.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Penduduk yang bermukim disekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan terhadap potensi lahar pada musim hujan.

Gunungapi Agung (Bali)
  Erupsi Gunung Agung mencapai puncaknya pada periode 25-29 November 2017. Setelah itu, frekuensi erupsi cenderung mengalami penurunan. Gempa frekuensi tinggi (terutama Gempa Vulkanik) dan Gempa frekuensi rendah (terutama Gempa Hembusan dan Letusan) masih terekam namun berfluktuasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava sekitar 23 juta m3. Pola deformasi GPS maupun Tiltmeter jika dihitung dari November 2017 hingga saat ini maka secara umum menunjukkan trend deflasi. Citra Satelit sesekali merekam adanya energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung yang mengindikasikan bahwa masih ada suplai magma ke permukaan dengan laju rendah. Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan bahwa aktivitas erupsi masih teramati namun dengan eksplosivitas rendah.
  Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
  Pada tanggal 23, 24 dan 25 Juni 2018 terekam rentetan Gempa Vulkanik Dalam yang mengindikasikan intrusi magma baru dari kedalaman menuju ke permukaan. Pada 27 Juni 2018 terjadi erupsi eksplosif dan disusul erupsi efusif selama lk. 24 jam pada periode 28-29 Juni 2018. Erupsi efusif ini menghasilkan pertumbuhan kubah lava sekitar 4 juta m3 sehingga volume total kubah lava menjadi sekitar 27 juta m3. Erupsi efusif ini disertai emisi gas dan abu halus yang tersebar ke selatan dan bertahan lama di udara sehingga sempat menutup Bandara Ngurah Rai selama lk. 10 jam. Erupsi eksplosif Strombolian terjadi pada malam hari di tanggal 2 Juli 2018 disertai suara dentuman dan lontaran material pijar teramati keluar kawah ke segala arah mencapai jarak maksimum sekitar 2-3 km dari kawah puncak. Setelah erupsi ini, frekuensi Gempa Letusan mengalami penurunan. Erupsi terakhir G. Agung terjadi pada 27 Juli 2018. Pasca Gempa Lombok, erupsi G. Agung tidak lagi teramati, kemungkinan karena gempa tektonik ini mengganggu sistem vulkanik G. Agung (efek botol soda) sehingga suplai gas magmatik dari kedalaman tidak dapat terakumulasi melainkan segera dikeluarkan ke permukaan secara perlahan seiring dengan goncangan-goncangan gempa tektonik. Mulai 30 Desember 2018, fase erupsi G. Agung kembali lagi seiring dengan berkurangnya kegempaan Tektonik di sekitar Pulau Lombok. Aktivitas G. Agung saat ini belum kembali stabil dan masih berpotensi untuk mengalami erupsi karena kegempaan vulkanik maupun hembusan masih terjadi, mengindikasikan masih adanya suplai magma ke permukaan namun saat ini masih dengan laju rendah. Indikasi ke arah erupsi yang besar hingga saat ini belum teramati.
  Pada tanggal 30 Desember 2018 pukul 04:09 WITA terjadi erupsi, namun tinggi kolom abu tidak teramati. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi ± 3 menit 8 detik. Informasi dari masyarakat hujan abu dengan intensitas ringan jatuh di Banjar Dinas Uma Anyar Ababi bagian barat, Wilayah Kota Amlapura, Desa Seraya Barat, Desa Seraya Tengah, Banjar Dinas Ujung Pesisi, Lingkungan Pesagi dan Lingkungan Pebukit, Desa Tenggalinggah, dan Kantor BPBD Kabupaten Karangasem. Pada tanggal 10 Januari 2019 pukul 19:55 WITA terjadi letusan, namun tinggi kolom abu tidak teramati karena gunung tertutup kabut. Letusan ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi ± 4 menit 26 detik. Pada tanggal 19 Januari 2019 pukul 02:45 WITA terjadi letusan, namun tinggi kolom abu tidak teramati karena gunung tertutup kabut. Letusan ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 23 mm dan durasi ± 2 menit 8 detik.
  Dari kemarin hingga pagi ini visual cuaca berawan hingga hujan, angin lemah ke arah timur. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas sedang dengan tinggi 200 meter dari puncak. Erupsi terekam dan teramati pada 19 Januari 2019 pukul 02:45 WITA. Abu erupsi teramati setinggi lk. 700 m di atas puncak. Lontaran lava pijar terjauh teramati ke arah Timur dengan jangkauan lk. 1000 m dari bibir kawah.

Melalui rekaman seismograf tanggal 18 Januari 2019 tercatat:
• 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
• 2 kali gempa Hembusan
• 3 kali gempa Tektonik Jauh

Kegempaan tanggal 19 Januari 2019 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:
• 1 kali gempa Letusan
• 2 kali gempa Hembusan

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Agung.

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)
  Gunungapi Soputan merupakan gunungapi strato yang terletak di Kabupaten Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara. Ketinggian G. Soputan sekitar 1784 m di atas permukaan laut. Pertumbuhan kubah lava dimulai sejak tahun 1991, hingga meluber keluar dari bibir kawah menyebabkan sering terjadi guguran lava, dengan jarak luncur sekitar 2 hingga 6.5 km dari puncak ke arah barat, timur dan utara, penduduk terdekat berada pada jarak 8-10 km dari puncak. Pada saat musim hujan dapat terjadi pembentukan uap dari air hujan oleh kubah lava yang masih panas, sehingga terjadi letusan sekunder, berupa letusan freatik (letusan uap) yang dapat memicu guguran kubah lava dan awan panas guguran (tipe Karangetang). Pada daerah perkemahan (camping ground) di lereng timur laut berjarak sekitar 3 sampai 4 km dari puncak G. Soputan, berpotensi terlanda hujan abu lebat dan dapat terkena lontaran batu (pijar). Endapan material letusan G. Soputan di lereng sebelah barat – tenggara, apabila terjadi hujan lebat bisa mengakibatkan terjadinya aliran lahar yang mengarah ke: S. Ranowangko, S. Lawian, S. Popang, Londola Kelewehu dan Londola Katayan. Potensi bahaya lainnya ialah guguran lava yang masih sering terjadi di sekitar tubuh gunungapi, umumnya terjadi di bagian utara. Tetapi yang harus diwaspadai adalah jika terjadi guguran kubah lava yang diikuti awan panas guguran ke arah Silian, karena bukaan kawahnya menuju ke daerah tersebut. Potensi bahaya erupsi G. Soputan dapat berupa abu vulkanik yang dapat berdampak pada keselamatan penerbangan.
  Data pemantauan G. Soputan dari periode Agustus hingga awal Oktober 2018 menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Pada tanggal 3 Oktober 2016 pukul 01:00 WITA tingkat aktivitas G. Soputan dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga). Pada hari Sabtu 15 Desember 2018 sore seismograf merekam peningkatan aktivitas kegempaan G. Soputan. Peningkatan kegempaan terus terjadi dan hari minggu tgl 16 Desember 2018 pada pukul 01:02 WITA terekam gempa letusan dengan amplitudo maksimum 40 mm (overscale) dan disertai suara gemuruh yang terdengar dengan intensitas lemah-sedang dari Pos Pengamatan Gunungapi Soputan yang berada Silian Raya (sekitar 10 km di sebelah Baratdaya G. Soputan). Ketinggian kolom erupsi tidak teramati karena tertutup kabut. Pada hari Minggu 16 Desember 2018 sekitar pukul 03:09 WITA teramati sinar api dari puncak G. Soputan dan ketinggian kolom abu teramati berkisar 3000-5000 m di atas puncak. Hingga saat ini tremor menerus masih terekam mengindikasikan bahwa erupsi masih berlangsung.
  Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama berwarna putih tipis bertekanan sedang dengan tinggi 100 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah timur dan barat.

Melalui rekaman seismograf tanggal 18 Januari 2019 tercatat:
• 20 kali gempa Guguran
• 3 kali gempa Hembusan
• 1 kali gempa Vulkanik Dalam
• 4 kali gempa Tektonik Jauh

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Soputan terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Soputan.

Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara)
  Gunungapi Karangetang di Pulau Siau, Kabupaten Sitaro, Sulawesi Utara adalah salah satu gunungapi di Indonesia yang paling sering erupsi. Erupsi terakhirnya terjadi pada tahun 2016. Setelah 2 tahun istirahat, G. Karangetang kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik sejak akhir bulan November 2018. Peningkatan signifikan aktivitas kegempaan dengan konten frekuensi tinggi (vulkanik dalam maupun dangkal) teramati meningkat secara cepat pada 22-23 November 2018 namun menurun drastis pada 24 November 2018. Penurunan tajam kegempaan diikuti oleh terekamnya citra panas (Hot Spot) oleh satelit pada 25 November 2018 pukul 01:10 WITA, sehingga dapat disimpulkan bahwa penurunan tajam kegempaan frekuensi tinggi mengindikasikan bahwa magma telah sampai ke permukaan kawah.
  Pengamatan visual menunjukkan bahwa aktivitas G. Karangetang saat ini berpusat di Kawah 2 (kawah Utara). Pasca penurunan kegempaan frekuensi tinggi, transisi terjadi dimana kegempaan frekuensi rendah berupa tremor harmonik maupun kegempaan akibat aktivitas permukaan seperti hembusan dan guguran mengalami peningkatan. Pemantauan visual terkini mengindikasikan adanya potensi perluasan area landaan guguran lava maupun awan panas guguran. Saat ini aliran lava maupun awan panas guguran teramati keluar dari Kawah 2 mengarah ke Kali Sumpihi (sebelah Barat dari Kawah 2) sejauh lk. 700-1000 m dan ke Kali Batuare (sebelah Baratlaut dari Kawah 2) sejauh lk. 1000 – 2000 m.
  Berdasarkan hasil analisis data pemantauan maka tingkat aktivitas G. Karangetang dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) terhitung mulai tanggal 20 Desember 2018 pukul 18:00 WITA.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal dengan tinggi 150 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur dan baratdaya.

Melalui rekaman seismograf tanggal 18 Januari 2019 tercatat:
• 39 kali gempa Guguran
• 37 kali gempa Hembusan
• 7 kali gempa Vulkanik Dangkal
• 1 kali gempa Vulkanik Dalam
• 1 kali gempa Hybrid/Fase Banyak
• 1 kali gempa Harmonik
• 1 kali gempa Tektonik Lokal
• 3 kali gempa Tektonik Jauh
• Tremor menerus dengan amplituda 0.25 – 1 mm, dominan 0.5 mm

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Karangetang terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Sitaro tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Karangetang.

Gunungapi Anak Krakatau (Lampung)
  Gunung Anak Krakatau secara administratif termasuk kedalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, tercatat aktivitas letusan terakhir terjadi pada tanggal 19 Februari 2017, berupa letusan strombolian. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level III (SIAGA). G. Anak Krakatau (110 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
  Dalam rangka kesiapsiagaan sejak tanggal 18 Juni 2018 sudah dikoordinaskan dan diinformasikan kepada pihak BPBD Prov. Banten, BPBD Prov. Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.
  Pada tanggal 26 Desember 2018 terjadi letusan berupa awan panas dan surtseyan. Awan panas ini yang mengakibatkan adanya hujan abu termasuk yang terekam pada 26 Desember 2018 pukul 17:15 WIB. Dari Pos Kalianda, jam 12 malam melaporkan suara gemuruh dengan intensitas tinggi. Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis data visual maupun instrumental hingga 26 Desember 2018, maka tingkat aktivitas G. Anak Krakatau ditingkatkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (siaga) terhitung tanggal 27 Desember 2018 pukul 06:00 WIB.
  Pemantauan secara intensif dan kontinyu tetap dilakukan guna memantau aktivitas G. Anak Krakatau. Tingkat aktivitas G. Anak Krakatau dapat berubah sewaktu-waktu baik penurunan ataupun kenaikan status, dan akan disesuaikan sesuai dengan perubahan tingkat kegiatan dan ancamannya.
  Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama berwarna putih tipis dengan tinggi sekitar 100 meter dari puncak. Angin bertiup lemah ke arah timurlaut dan timur.

Melalui rekaman seismograf tanggal 18 Januari 2019 tercatat:
• 2 kali gempa Vulkanik Dalam
• 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
• Tremor Menerus dengan amplitudo 1 - 6 mm, dominan 1 mm

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Banten maupun BPBD Provinsi Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB status G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan tenggara

Melalui rekaman seismograf tanggal 18 Januari 2019 tercatat:
• 28 kali gempa Guguran
• 1 kali gempa Low Frequency

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Merapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Merapi.

Gunungapi Dukono (Halmahera)
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama tidak teramati. Angin bertiup lemah ke arah barat.

Melalui rekaman seismograf tanggal 18 Januari 2019 tercatat:
• 2 kali gempa Letusan
• 1 kali gempa Vulkanik Dalam
• 4 kali gempa Tektonik Jauh
• Tremor menerus dengan amplitudo 0.5 - 6 mm, dominan 2 mm.

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera)
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah berwarna putih kelabu bertekanan sedang dengan tinggi 800 meter diatas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah selatan dan barat.

Melalui rekaman seismograf tanggal 18 Januari 2019 tercatat:
• 82 kali gempa Letusan
• 57 kali gempa Hembusan
• 22 kali gempa Guguran
• 12 kali gempa Tremor Harmonik
• 3 kali gempa Tornilo

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)
  Gunungapi Gamalama yang memiliki ketinggian 1715 m dpl, secara administratif terletak di Kota Ternate (Pulau Ternate), Provinsi Maluku Utara.
  Letusan G. Gamalama pada umumnya berlangsung di Kawah Utama dan hampir selalu magmatik. Kecuali letusan yang terjadi dalam tahun 1907 yang mengambil tempat di lereng timut (letusan samping) dan menghasilkan leleran lava (Batu Angus) hingga ke pantai. Letusan 1980 juga menghasilkan Kawah Baru, lokasinya sekitar 175 m ke arah timur dari Kawah Utama.
  Gunungapi Gamalama merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif sering hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter diatas puncak atau 1965 m diatas permukaan laut.
  Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah tenggara dan selatan.

Melalui rekaman seismograf tanggal 18 Januari 2019 tercatat:
• 1 kali gempa Hembusan
• 2 kali gempa Tektonik Jauh
• 1 kali gempa Getaran Banjir

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Gamalama terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Gamalama.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:
• Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
• BMKG,
• Air Nav,
• Air Traffic Control, Airlines,
• VAAC Darwin,
• VAAC Tokyo,
• dll.

VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:14 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.
(2) G. Agung, Bali
VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 19 Januari 2019 pukul 02:45 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu tidak dapat teramati karena gunung tertutup kabut. Amplitudo gempa letusan 23 mm dan lama gempa 128 detik.
(3) G. Soputan, Sulawesi Utara
VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8809 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7000 meter di atas puncak.
(4) G. Karangetang, Sulawesi Utara
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke arah Timur.
(5) G. Anak Krakatau, Lampung

VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 8 Januari 2019 pukul 18:11 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1110 m diatas permukaan laut atau sekitar 1000 meter di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah timur.
(6) G. Merapi, Jawa Tengah – Yogyakarta
VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.
(7) G. Dukono, Maluku Utara
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 9 Januari 2019 pukul 16:07 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1829 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah tenggara.
(8) G. Ibu, Maluku Utara
VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Januari 2019 pukul 08:01 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2125 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Selatan.
(9) G. Gamalama, Maluku Utara
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m diatas puncak.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

II. DETAIL

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Januari 2019 yang dibandingkan bulan Desember 2018 tetap tinggi dan cenderung meluas potensinya di sebagian besar wilayah indonesia mulai dari sebagian besar pulau Pulau Sumatra , sebagian besar pulau jawa utamanya Jawa Barat dan Tengah, Kalimantan, Bali, NTB, NTT, Maluku dan Papua . Wilayah Indonesia yang secara umum tetap perlu diwaspadai utamanya di jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan, dan sepanjang aliran sungai antara lain wilayah Aceh bagian barat dan Aceh bagian tengah, Sumatera bagian Barat dan Sumatera Utara, Wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat , Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan Tenggara , Maluku , NTB, NTT dan wilayah Papua

Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terjadi di:
1. Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah*,
2. Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Provinsi Sulawesi Utara*,
3. Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah*,
4. Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah*,
5. Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah*,
6. Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah*,
7. Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah,
8. Kabupaten Bangli , Provinsi Bali,
9. Kabupaten Lebak, Provinsi Banten,
10. Kabupaten Kudus, Provinsi Jawa Tengah,
11. Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah,
12. Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah,
13. Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah,
14. Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah,
15. Kabupaten Situbondo, Provinsi Jawa Timur,
16. Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah,
17. Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah,
18. Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur,
19. Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara,
20. Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah,
21. Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah,
22. Aceh Tenggara, Provinsi Aceh,
23. Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara,
24. Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah,
25. Kabupaten Bangli, Provinsi Bali,
26. Kabupaten Minahasa Selatan, Provinsi Sulawesi Utara,
27. Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo,
28. Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali,
29. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat,
24. Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara,
25. Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh,
30. Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh,
31. Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat.

*Kejadian gerakan tanah terbaru:
1. Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah
Gerakan tanah terjadi di Jalan yang menghubungkan Magelang – Purworejo, tepatnya di Dusun Gesing, Desa Krasak, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Gerakan tanah terjadi pada hari Jumat 18 Januari 2019 sekitar pukul 03.00 WIB menyebabkan tebing jalan longsor sehingga akses jalan utama Magelang – Purworejo tidak bisa dilewati karena tertutup material longsoran.
Sumber : http://jogja.tribunnews.com/2019/01/18/longsor-di-salaman-tutup-akses-jalan-utama-magelang-purworejo
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi geologi yaitu litologi batuan dan kemiringan lereng yang sangat curam di daerah lokasi bencana. Selain itu Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama memicu terjadinya gerakan tanah. Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran tanah.

2. Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Provinsi Sulawesi Utara
Gerakan tanah terjadidi Jalan Trans Sulawesi tepatnya di Desa Sampiro, Kecamatan Sangkub, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Provinsi Sulawesi Utara. Gerakan tanah terjadi pada hari Jumat 18 Januari 2019 pukul sekitar pukul 06.30 WITA yang mengakibatkan tebing jalan longsor dan menutupi sebagian badan jalan sehingga mengganggu akses laulintas kendaraan.
Sumber : h http://manado.tribunnews.com/2019/01/18/sempat-tertutup-longsor-jalan-trans-sulawesi-di-desa-sampiro-akhirnya-terbuka
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi geologi yaitu litologi batuan dan kemiringan lereng yang sangat curam di daerah lokasi bencana. Selain itu Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama memicu terjadinya gerakan tanah. Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran tanah.

3. Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah
Gerakan tanah terjadi di Kawasan lereng Gunung Merapi tepatnya di Dusun Bulu, Desa Kapuhan, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Gerakan tanah terjadi pada hari Jumat 18 Januari 2019 sekitar pukul 08.00 WIB yang menyebabkan tebing pesawahan setinggi 8 meter dan lebar 4 meter longsor dan menimpa seorang petani hingga meninggal dunia akibat tertimbun material longsor.
Sumber : https://regional.kompas.com/read/2019/01/18/15592081/satu-orang-tewas-tertimpa-longsor-di-kawasan-lereng-merapi
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi geologi yaitu litologi batuan dan kemiringan lereng yang sangat curam di daerah lokasi bencana. Selain itu Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama memicu terjadinya gerakan tanah. Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran tanah.

4. Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah
Gerakan tanah terjadi di Jalan antar kecamatan yang menghubungkan Kecamatan Pagentan dengan Kecamatan Pejawaran tepatnya di Desa Karekan, Kecamatan Pagentan, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah. Gerakan tanah terjadi pada hari Kamis 17 Januari 2019 yang mengakibatkan akses jalan terputus tidak bisa dilewati kendaraan roda dua maupun roda empat.
Sumber : BPBP Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi geologi yaitu litologi batuan dan kemiringan lereng yang sangat curam di daerah lokasi bencana. Selain itu Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama memicu terjadinya gerakan tanah. Jenis gerakan tanah merupakan tipe nendatan dan longsoran tanah.

5. Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah
Gerakan tanah terjadi di ruas jalan yang menghubungkan Desa Yosorejo – Curugmuncar, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah. Gerakan tanah terjadi pada hari Jumat 18 Januari 2019 sekitar pukul 11.30 WIB yang menyebabkan tebing setinggi 10 meter longsor dan material longsornya menutup jalan sepanjang 50 meter sehingga tidak bisa dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.
Sumber : http://jateng.tribunnews.com/2019/01/18/akses-jalan-kecamatan-petungkriyono-pekalongan-tertutup-longsor
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi geologi yaitu litologi batuan dan kemiringan lereng yang sangat curam di daerah lokasi bencana. Selain itu Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama memicu terjadinya gerakan tanah. Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran tanah.

6. Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah
Gerakan tanah terjadi Dukuh Sigupit, Desa Purbasari, Kecamatan Karangjambu, Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah. Gerakan tanah terjadi pada hari Jumat 18 Januari 2019 sekitar pukul 15.00 WIB yang mengakibatkan tebing jalan setinggi 7 meter dengan panjang 12 meter longsor dan menimpa tembok Bangunan SMP 1 Karangjambu hingga ambruk, selain itu longsor mengakibatkan akses jalan tertutup material longsoran dan dua unit rumah warga terancam karena posisinya berdekatan dengan lokasi longsoran.
Sumber : https://www.merdeka.com/peristiwa/longsor-di-purbalingga-tutup-jalan-desa-dan-rusak-tembok-sekolah.html
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi geologi yaitu litologi batuan dan kemiringan lereng yang sangat curam di daerah lokasi bencana. Selain itu Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama memicu terjadinya gerakan tanah. Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran tanah.

Rekomendasi :
• Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah karena berpotensi terjadinya gerakan tanah susulan.
• Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan.
• Segera memasang garis pengaman agar tidak dijadikan sebagai ajang tontonan warga dan tetap waspada karena masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan terutama saat terjadi hujan.
• Melandaikan lereng, mengatur drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng (rekayasa teknis) yang mengikuti kaidah – kaidah geotek.
• Membersihkan material longsoran terutama yang menutup badan jalan dengan mengutamakan faktor keselamatan karena masih berpotensi terjadinya longsor susulan.
• Menjaga fungsi lahan dengan menanami vegetasi berakar dalam dan kuat serta menata aliran air permukaan pada tebing.
• Masyarakat yang berada/tinggal dekat dari lokasi bencana atau lereng yang terjal agar selalu meningkatkan kewaspadaan terutama pada saat dan setelah hujan deras yang berlangsung lama karena masih berpotensi longsor susulan;
• Tidak membuat saluran drinase yang langsung membuang air ke daerah bencana atau sekitar tebing;
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.

Sumber : PVMBG