Jumat, 18 Januari 2019 | 16:14 WIB

LAPORAN KEBENCANAAN GEOLOGI 31 Desember 2018 (06:00 WIB)

  • Berita
  • Senin, 31 Desember 2018 | 14:42 WIB
  • Reporter
LAPORAN KEBENCANAAN GEOLOGI 31 Desember 2018 (06:00 WIB)

*LAPORAN KEBENCANAAN GEOLOGI*

*31 Desember 2018 (06:00 WIB)*

*I. SUMMARY*
Hari ini, Senin 31 Desember 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

*1. Gunungapi*

*Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara):*

Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi gunungapi tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur dan tenggara.

Melalui rekaman seismograf tanggal 30 Desember 2018 tercatat:
- 7 kali gempa Hembusan
- 1 kali gempa Tornillo
- 1 kali gempa Tektonik Lokal
- 1 kali gempa Tektonik Jauh
- 1 kali gempa Getaran Banjir/Lahar

Rekomendasi:
- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km untuk sektor Utara -Barat, 4 km untuk sektor Selatan - Barat, dan dalam jarak 7 km untuk sektor Selatan - Tenggara, didalam jarak 6 km untuk sektor Tenggara - Timur serta didalam jarak 4 km untuk sektor Utara -Timur.
- Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunung Sinabung agar mewaspadai potensi banjir lahar terutama pada saat terjadi hujan lebat.

VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.

*Gunungapi Agung (Bali):*

Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Agung (3142 m dpl) mengalami erupsi sejak 21 November 2017.
Dari kemarin hingga pagi ini visual cuaca cerah hingga mendung, angin lemah hingga sedang ke arah timur. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama dengan tinggi sekitar 700 meter dari puncak, berwarna putih dan intensitas tipis.

Melalui rekaman seismograf tanggal 30 Desember 2018 tercatat:
- 1 kali gempa Erupsi/Letusan
- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 1 kali gempa Vulkanik Dalam
- 3 kali gempa Hembusan
- 4 kali gempa Tektonik Jauh

Kegempaan tanggal 31 Desember 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:
- 1 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:
- Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
- Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
- Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.
- Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.

VONA:
VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.

*Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara):*

Tingkat aktivitas Level III (SIAGA). Gunungapi Soputan (1784 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah dengan tinggi sekitar 50 m dari puncak, berwarna putih dan intensitas tebal. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah timur dan tenggara.

Melalui rekaman seismograf tanggal 30 Desember 2018 tercatat:
- 33 kali gempa Guguran
- 9 kali gempa Hembusan
- 2 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 1 kali gempa Tektonik Jauh

Tanggal 31 Desember 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:
- 5 kali gempa Guguran
- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 2 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:
Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 4 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 6,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman guguran lava dan awan panas guguran

VONA:
VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8809 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7000 meter di atas puncak.

*Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara):*

Tingkat aktivitas Level III (SIAGA). G. Karangetang (2460 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama dengan tinggi sekitar 150 meter berwarna putih dan intensitas tebal. Asap kawah 2 dengan tinggi sekitar 50 meter dari puncak, berwarna putih dan intensitas tipis. Termati juga hembusan dari kawah 2 dengan tinggi sekitar 100-300 meter berwarna putih kelabu tebal. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah timurlaut dan timur.

Melalui rekaman seismograf tanggal 30 Desember 2018 tercatat:
- 93 kali gempa Guguran
- 56 kali gempa Hembusan
- 2 kali gempa Hybrid
- 4 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 1 kali gempa Vulkanik Dalam
- 7 kali gempa Harmonik
- 1 kali gempa Tektonik Lokal
- Tremor menerus dengan amplitudo 0.5-2 mm, dominan 1 mm

Tanggal 31 Desember 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:
- 26 kali gempa Guguran
- 18 kali gempa Hembusan
- 2 kali gempa Hybrid/Fasa Banyak
- 1 kali gempa Terasa, skala I MMI

Rekomendasi:
- Masyarakat di sekitar G. Karangetang dan pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam radius 2.5 km dari Kawah 2 (kawah utara) dan Kawah Utama (kawah Selatan) ke arah Utara-
Timur-Selatan-Barat dan radius 3 km ke arah Baratlaut.
- Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G. Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.
- Masyarakat disekitar G. Karangetang dianjurkan agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi potensi bahaya gangguan saluran pernapasan jika terjadi hujan abu

VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke arah Timur.

*Gunungapi Anak Krakatau (Lampung):*

Tingkat aktivitas Level III (Siaga) sejak 27 Desember 2018. Gunungapi Anak Krakatau (110 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati dengan tinggi sekitar 300 meter dari puncak berwarna putih dan intensitas tebal. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah timurluat dan timur.

Melalui rekaman seismograf tanggal 30 Desember 2018 tercatat:
- 18 kali gempa Erupsi/Letusan
- 50 kali gempa Hembusan
- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 1 kali Tremor dengan amplitudo 2 mm, durasi 2202 detik

Rekomendasi:
Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 5 km dari kawah.

VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna RED, terbit tanggal 27 Desember 2018 pukul 12:58 WIB, terkait erupsi yang berlangsung menerus dan kolom abu dengan ketinggian sekitar 7338 m diatas permukaan laut. Kolom abu bergerak ke arah timurlaut.

*Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):*

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah timurlaut dan timur.

Melalui rekaman seismograf tanggal 30 Desember 2018 tercatat:
- 23 kali gempa Guguran
- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 2 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:
- Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.
- Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.
- Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi.
- Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.
- Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No.15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.
- Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.

VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

*Gunungapi Dukono (Halmahera):*

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah dengan tinggi sekitar 100 meter, berwarna putih hingga kelabu dan intensitas tebal. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timurlaut dan timur.

Melalui rekaman seismograf tanggal 30 Desember 2018 tercatat:
- 2 kali gempa Letusan
- 1 kali gempa Tektonik Lokal
- 3 kali gempa Tektonik Jauh
- Tremor Menerus terekam dengan amplitudo 0.5 – 6 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 30 Desember 2018 pukul 08:09 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1429 m di atas permukaan laut atau sekitar 200 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Timur.

*Gunungapi Ibu (Halmahera):*

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.

Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah dengan tinggi sekitar 200-600 meter, berwarna putih hingga kelabu dan intensitas tipis hingga sedang. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan timur.

Melalui rekaman seismograf tanggal 30 Desember 2018 tercatat:
- 77 x gempa Letusan
- 51 x gempa Hembusan
- 22 x gempa Guguran
- 10 x gempa Harmonik

Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.

VONA:
VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 11 Desember 2018 pukul 13:57 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1825 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak.Kolom abu bergerak ke arah Selatan.

*Gunungapi Gamalama (Maluku Utara):*

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gamalama (1715 m dpl) mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter diatas puncak atau 1965 m diatas permukaan laut.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat.

Melalui rekaman seismograf tanggal 30 Desember 2018 tercatat:
- 4 kali gempa Hembusan
- 2 kali gempa Vulkanik Dalam
- 3 kali gempa Tektonik Lokal
- 10 kali gempa Tektonik Jauh
- 1 kali gempa Harmonik

Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G.Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari kawah puncak G.Gamalama
Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G.Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m diatas puncak.

Untuk Gunungapi Status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.


*2. Gerakan Tanah*

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Desember 2018 yang dibandingkan bulan November 2018, umumnya potensinya mengalami peningkatan dan semakin meluas ke sebagian besar wilayah Indonesia Sumatera , Jawa Bagian Barat dan Tengah, Sulawesi , Kalimantan, Maluku, NTB, NTT, dan Papua

Gerakan tanah terakhir terjadi :

1. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat

Penyebab: Penyebab gerakan tanah diperkirakan diantaranya kemiringan lereng yang terjal, tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang serta mudah menyerap air, serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi.

Dampak : Gerakan tanah / tanah longsor menyebabkan akses jalan terputus total1. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.


*3. Gempa Bumi*


*Gempa bumi di Wilayah Bengkulu*

Informasi Gempa bumi;
Gempa bumi terjadi pada hari Minggu, 30 Desember 2018, pukul 15:39 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 102,25° BT dan 2,77° LS, dengan kekuatan M5,7 pada kedalaman 192 km, berjarak 42 km timurlaut Kabupaten Lebong, Bengkulu. GFZ, Jerman melalui GEOFON program menginformasikan bahwa gempa bumi berpusat di koordinat 102,29° BT dan 2,76° LS dengan magnitudo Mw 5,7 pada kedalaman 158 km. _The United States Geological Survey, Amerika Serikat, menginformasikan bahwa gempa bumi berpusat di koordinat 102,349° BT dan 2,657° LS pada kedalaman 168,3 km dengan magnitudo M5,8.

Kondisi geologi daerah terdekat pusat gempa bumi:
Pusat gempa bumi berada darat, dimana wilayah sekitarnya secara litologi disusun oleh batuan hasil rombakan gunungapi berumur Tersier hingga Kuarter dan batuan sedimen berumur Tersier. Guncangan gempa bumi akan terasa kuat pada batuan Kuarter serta batuan Tersier yang telah mengalami pelapukan karena bersifat urai, lepas, tidak kompak yang dapat mengamplifikasi guncangan gempa bumi.

Penyebab gempa bumi:
Gempa bumi yang terjadi dikategorikan sebagai gempa bumi dengan kedalaman menengah. Berdasarkan posisi pusat gempa bumi dan kedalamannya, kejadian gempa bumi berasosiasi dengan aktifitas penunjaman lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia di lokasi tersebut.

Dampak gempa bumi:
Berdasarkan BMKG, guncangan gempa bumi dirasakan di Kota Bengkulu dengan intensitas IV MMI di Manna, Muko-muko, Lebong dan Pesisir Selatan sebesar III MMI, serta di Padang, Pariaman dan Kepulauan Mentawai sebesar II MMI. Gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami.
Belum ada informasi kerusakan.

Rekomendasi:
(1) Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.
(2) Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan, yang diperkirakan berkekuatan lebih kecil.


*II. DETAIL*

*1. Gunungapi*

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini:
a. 1 (satu) gunungapi status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung* (Sumut) sejak 2 Juni 2015.
b. 3 (tiga) gunungapi status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung* (Bali) sejak 10 Februari 2018, G. Soputan (Sulut) sejak 3 Oktober 2018 dan G. Karangetang (Sulut) sejak 20 Desember 2018.
c. Sebanyak 16 gunungapi Status Waspada/Level II (Merapi*, Marapi, Kerinci, Anak Krakatau*, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Lokon, Gamalama*, Gamkonora, Ibu*, Dukono*, Lewotolok dan Banda Api);
d. Sisanya 48 gunungapi: Status NORMAL/Level I.

*Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)*

Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas).

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur dan tenggara.

Melalui rekaman seismograf tanggal 30 Desember 2018 tercatat:
- 7 kali gempa Hembusan
- 1 kali gempa Tornillo
- 1 kali gempa Tektonik Lokal
- 1 kali gempa Tektonik Jauh
- 1 kali gempa Getaran Banjir/Lahar

Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir tanggal 28 Agustus 2018 tidak memperlihatkan perubahan yang signifikan dibanding hasil pengukuran tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus 2017 hanya terlihat pengikisan sekitar 30 cm dibagian outletnya.

Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.

Penduduk yang bermukim disekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan terhadap potensi lahar pada musim hujan.

*Gunungapi Agung (Bali)*

Erupsi Gunung Agung mencapai puncaknya pada periode 25-29 November 2017. Setelah itu, frekuensi erupsi cenderung mengalami penurunan. Gempa frekuensi tinggi (terutama Gempa Vulkanik) dan Gempa frekuensi rendah (terutama Gempa Hembusan dan Letusan) masih terekam namun berfluktuasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava sekitar 23 juta m3. Pola deformasi GPS maupun Tiltmeter jika dihitung dari November 2017 hingga saat ini maka secara umum menunjukkan trend deflasi. Citra Satelit sesekali merekam adanya energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung yang mengindikasikan bahwa masih ada suplai magma ke permukaan dengan laju rendah. Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan bahwa aktivitas erupsi masih teramati namun dengan eksplosivitas rendah.

Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).

Pada tanggal 23, 24 dan 25 Juni 2018 terekam rentetan Gempa Vulkanik Dalam yang mengindikasikan intrusi magma baru dari kedalaman menuju ke permukaan. Pada 27 Juni 2018 terjadi erupsi eksplosif dan disusul erupsi efusif selama lk. 24 jam pada periode 28-29 Juni 2018. Erupsi efusif ini menghasilkan pertumbuhan kubah lava sekitar 4 juta m3 sehingga volume total kubah lava menjadi sekitar 27 juta m3. Erupsi efusif ini disertai emisi gas dan abu halus yang tersebar ke selatan dan bertahan lama di udara sehingga sempat menutup Bandara Ngurah Rai selama lk. 10 jam. Erupsi eksplosif Strombolian terjadi pada malam hari di tanggal 2 Juli 2018 disertai suara dentuman dan lontaran material pijar teramati keluar kawah ke segala arah mencapai jarak maksimum sekitar 2-3 km dari kawah puncak. Setelah erupsi ini, frekuensi Gempa Letusan mengalami penurunan. Erupsi terakhir G. Agung terjadi pada 27 Juli 2018. Pasca Gempa Lombok, erupsi G. Agung tidak lagi teramati, kemungkinan karena gempa tektonik ini mengganggu sistem vulkanik G. Agung (efek botol soda) sehingga suplai gas magmatik dari kedalaman tidak dapat terakumulasi melainkan segera dikeluarkan ke permukaan secara perlahan seiring dengan goncangan-goncangan gempa tektonik. Meskipun erupsi saat ini belum terjadi lagi, aktivitas G. Agung belum sepenuhnya stabil dan masih berpotensi untuk mengalami erupsi karena kegempaan vulkanik maupun hembusan masih terjadi yang mengindikasikan masih adanya suplai magma ke permukaan namun dengan laju rendah. Jika terjadi erupsi pada saat ini, kemungkinan eksplosivitasnya masih relatif rendah. Eksplosivitas yang lebih tinggi hanya dapat terjadi jika ada intrusi magma baru dengan volume yang signifikan, namun demikian indikasi ke arah erupsi yang besar hingga saat ini belum teramati.

Dari kemarin hingga pagi ini visual cuaca cerah hingga mendung, angin lemah hingga sedang ke arah timur. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama dengan tinggi sekitar 300-700 meter dari puncak, berwarna putih dan intensitas tipis.

Melalui rekaman seismograf tanggal 30 Desember 2018 tercatat:
- 1 kali gempa Erupsi/Letusan
- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 1 kali gempa Vulkanik Dalam
- 3 kali gempa Hembusan
- 4 kali gempa Tektonik Jauh

Kegempaan tanggal 31 Desember 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:
- 1 kali gempa Tektonik Jauh

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Agung.

*Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)*

Gunungapi Soputan merupakan gunungapi strato yang terletak di Kabupaten Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara. Ketinggian G. Soputan sekitar 1784 m di atas permukaan laut. Pertumbuhan kubah lava dimulai sejak tahun 1991, hingga meluber keluar dari bibir kawah menyebabkan sering terjadi guguran lava, dengan jarak luncur sekitar 2 hingga 6.5 km dari puncak ke arah barat, timur dan utara, penduduk terdekat berada pada jarak 8-10 km dari puncak. Pada saat musim hujan dapat terjadi pembentukan uap dari air hujan oleh kubah lava yang masih panas, sehingga terjadi letusan sekunder, berupa letusan freatik (letusan uap) yang dapat memicu guguran kubah lava dan awan panas guguran (tipe Karangetang). Pada daerah perkemahan (camping ground) di lereng timur laut berjarak sekitar 3 sampai 4 km dari puncak G. Soputan, berpotensi terlanda hujan abu lebat dan dapat terkena lontaran batu (pijar). Endapan material letusan G. Soputan di lereng sebelah barat – tenggara, apabila terjadi hujan lebat bisa mengakibatkan terjadinya aliran lahar yang mengarah ke: S. Ranowangko, S. Lawian, S. Popang, Londola Kelewehu dan Londola Katayan. Potensi bahaya lainnya ialah guguran lava yang masih sering terjadi di sekitar tubuh gunungapi, umumnya terjadi di bagian utara. Tetapi yang harus diwaspadai adalah jika terjadi guguran kubah lava yang diikuti awan panas guguran ke arah Silian, karena bukaan kawahnya menuju ke daerah tersebut. Potensi bahaya erupsi G. Soputan dapat berupa abu vulkanik yang dapat berdampak pada keselamatan penerbangan.

Data pemantauan G. Soputan dari periode Agustus hingga awal Oktober 2018 menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Pada tanggal 3 Oktober 2016 pukul 01:00 WITA tingkat aktivitas G. Soputan dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga). Pada hari Sabtu 15 Desember 2018 sore seismograf merekam peningkatan aktivitas kegempaan G. Soputan. Peningkatan kegempaan terus terjadi dan hari minggu tgl 16 Desember 2018 pada pukul 01:02 WITA terekam gempa letusan dengan amplitudo maksimum 40 mm (overscale) dan disertai suara gemuruh yang terdengar dengan intensitas lemah-sedang dari Pos Pengamatan Gunungapi Soputan yang berada Silian Raya (sekitar 10 km di sebelah Baratdaya G. Soputan). Ketinggian kolom erupsi tidak teramati karena tertutup kabut. Pada hari Minggu 16 Desember 2018 sekitar pukul 03:09 WITA teramati sinar api dari puncak G. Soputan dan ketinggian kolom abu teramati berkisar 3000-5000 m di atas puncak. Hingga saat ini tremor menerus masih terekam mengindikasikan bahwa erupsi masih berlangsung.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah dengan tinggi sekitar 50 m dari puncak, berwarna putih dan intensitas tebal. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah timur dan tenggara.

Melalui rekaman seismograf tanggal 30 Desember 2018 tercatat:
- 33 kali gempa Guguran
- 9 kali gempa Hembusan
- 2 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 1 kali gempa Tektonik Jauh

Tanggal 31 Desember 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:
- 5 kali gempa Guguran
- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 2 kali gempa Tektonik Jauh


Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Soputan terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Soputan.

*Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara)*

Gunungapi Karangetang di Pulau Siau, Kabupaten Sitaro, Sulawesi Utara adalah salah satu gunungapi di Indonesia yang paling sering erupsi. Erupsi terakhirnya terjadi pada tahun 2016. Setelah 2 tahun istirahat, G. Karangetang kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik sejak akhir bulan November 2018. Peningkatan signifikan aktivitas kegempaan dengan konten frekuensi tinggi (vulkanik dalam maupun dangkal) teramati meningkat secara cepat pada 22-23 November 2018 namun menurun drastis pada 24 November 2018. Penurunan tajam kegempaan diikuti oleh terekamnya citra panas (Hot Spot) oleh satelit pada 25 November 2018 pukul 01:10 WITA, sehingga dapat disimpulkan bahwa penurunan tajam kegempaan frekuensi tinggi mengindikasikan bahwa magma telah sampai ke permukaan kawah.

Pengamatan visual menunjukkan bahwa aktivitas G. Karangetang saat ini berpusat di Kawah 2 (kawah Utara). Pasca penurunan kegempaan frekuensi tinggi, transisi terjadi dimana kegempaan frekuensi rendah berupa tremor harmonik maupun kegempaan akibat aktivitas permukaan seperti hembusan dan guguran mengalami peningkatan. Pemantauan visual terkini mengindikasikan adanya potensi perluasan area landaan guguran lava maupun awan panas guguran. Saat ini aliran lava maupun awan panas guguran teramati keluar dari Kawah 2 mengarah ke Kali Sumpihi (sebelah Barat dari Kawah 2) sejauh lk. 700-1000 m dan ke Kali Batuare (sebelah Baratlaut dari Kawah 2) sejauh lk. 1000 – 2000 m.

Berdasarkan hasil analisis data pemantauan maka tingkat aktivitas G. Karangetang dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) terhitung mulai tanggal 20 Desember 2018 pukul 18:00 WITA.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama dengan tinggi sekitar 150 meter berwarna putih dan intensitas tebal. Asap kawah 2 dengan tinggi sekitar 50 meter dari puncak, berwarna putih dan intensitas tipis. Termati juga hembusan dari kawah 2 dengan tinggi sekitar 100-300 meter berwarna putih kelabu tebal. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah timurlaut dan timur.

Melalui rekaman seismograf tanggal 30 Desember 2018 tercatat:
- 93 kali gempa Guguran
- 56 kali gempa Hembusan
- 2 kali gempa Hybrid/Fasa Banyak
- 4 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 1 kali gempa Vulkanik Dalam
- 7 kali gempa Harmonik
- 1 kali gempa Tektonik Lokal
- Tremor menerus dengan amplitude 0.5-2 mm, dominan 1 mm

Tanggal 31 Desember 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:
- 26 kali gempa Guguran
- 18 kali gempa Hembusan
- 2 kali gempa Hybrid/Fasa Banyak
- 1 kali gempa Terasa, skala I MMI

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Karangetang terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Sitaro tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Karangetang.

*Gunungapi Anak Krakatau (Lampung)*

Gunung Anak Krakatau secara administratif termasuk kedalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, tercatat aktivitas letusan terakhir terjadi pada tanggal 19 Februari 2017, berupa letusan strombolian. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level III (SIAGA). G. Anak Krakatau (110 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.

Pada umumnya, keseharian aktivitas G. Anak Krakatau secara visual jelas hingga tertutup kabut, pada saat cuaca cerah teramati asap kawah utama dengan ketinggian 300-500 meter dari puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang. Secara kegempaan, didominasi oleh jenis Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan Gempa Vulkanik Dalam (VA). Selain itu, terekam juga jenis gempa Hembusan, Tektonik Lokal (TL) dan Tektonik Jauh (TJ).

Tanggal 18 Juni 2018, selain gempa vulkanik dan tektonik, mulai terekam juga gempa Tremor menerus dengan amplitudo 1 – 21 mm (dominan 6 mm). Tanggal 19 Juni 2018, gempa Hembusan mengalami peningkatan jumlah dari rata-rata 1 kejadian per hari menjadi 69 kejadian per hari. Selain itu mulai terekam juga gempa Low Frekuensi sebanyak 12 kejadian per hari. Gempa Tremor menerus dengan amplitude 1 – 14 mm (dominan 4 mm). Tanggal 20 Juni 2018, terekam 88 kali gempa hembusan, 11 kali gempa Low frekuensi dan 36 kali gempa Vulkanik Dangkal. Tanggal 21 Juni 2018, terekam 49 kali gempa Hembusan, 8 kali gempa Low Frekuensi, 50 kali gempa Vulkanik Dangkal dan 4 kali gempa Vulkanik Dalam.

Pengamatan visual G. Anak Krakatau dari tanggal 18 – 20 Juni 2018, pada umumnya gunung tertutup kabut. Sedangkan pada tanggal 21 Juni 2018, gunung tampak jelas hingga kabut, teramati asap kawah utama dengan ketinggian 25 – 100 meter dari puncak, bertekanan sedang berwarna kelabu dengan intensitas tipis.

Dalam rangka kesiapsiagaan sejak tanggal 18 Juni 2018 sudah dikoordinaskan dan diinformasikan kepada pihak BPBD Prov. Banten, BPBD Prov. Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati dengan tinggi sekitar 300 meter dari puncak berwarna putih dan intensitas tebal. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah timurluat dan timur.

Melalui rekaman seismograf tanggal 30 Desember 2018 tercatat:
- 18 kali gempa Erupsi/Letusan
- 50 kali gempa Hembusan
- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 1 kali Tremor dengan amplitudo 2 mm, durasi 2202 detik

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Banten maupun BPBD Provinsi Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.

*Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)*

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB status G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah timurlaut dan timur.

Melalui rekaman seismograf tanggal 30 Desember 2018 tercatat:
- 23 kali gempa Guguran
- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 2 kali gempa Tektonik Jauh

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Merapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Merapi.

*Gunungapi Dukono (Halmahera)*

Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.

Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah dengan tinggi sekitar 100 meter, berwarna putih hingga kelabu dan intensitas tebal. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timurlaut dan timur.

Melalui rekaman seismograf tanggal 30 Desember 2018 tercatat:
- 2 kali gempa Letusan
- 1 kali gempa Tektonik Lokal
- 3 kali gempa Tektonik Jauh
- Tremor Menerus terekam dengan amplitudo 0.5 – 6 mm (dominan 1 mm)


Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

*Gunungapi Ibu (Halmahera)*

Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.

Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah dengan tinggi sekitar 200-600 meter, berwarna putih hingga kelabu dan intensitas tipis hingga sedang. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan timur.

Melalui rekaman seismograf tanggal 30 Desember 2018 tercatat:
- 77 x gempa Letusan, amp: 15 - 38 mm, durasi: 17- 65 dtk
- 51 x gempa Hembusan, amp: 5 - 14 mm, durasi: 10 - 35 dtk
- 22 x gempa Guguran, amp: 5 - 11 mm, durasi: 15 - 65 dtk
- 10 x gempa Harmonik, amp: 4 - 12 mm, durasi: 25 - 70 dtk

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.

*Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)*

Gunungapi Gamalama yang memiliki ketinggian 1715 m dpl, secara administratif terletak di Kota Ternate (Pulau Ternate), Provinsi Maluku Utara.

Letusan G. Gamalama pada umumnya berlangsung di Kawah Utama dan hampir selalu magmatik. Kecuali letusan yang terjadi dalam tahun 1907 yang mengambil tempat di lereng timut (letusan samping) dan menghasilkan leleran lava (Batu Angus) hingga ke pantai. Letusan 1980 juga menghasilkan Kawah Baru, lokasinya sekitar 175 m ke arah timur dari Kawah Utama.

Gunungapi Gamalama merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif sering hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter diatas puncak atau 1965 m diatas permukaan laut.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat.

Melalui rekaman seismograf tanggal 30 Desember 2018 tercatat:
- 4 kali gempa Hembusan
- 2 kali gempa Vulkanik Dalam
- 3 kali gempa Tektonik Lokal
- 10 kali gempa Tektonik Jauh
- 1 kali gempa Harmonik

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Gamalama terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Gamalama.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:
- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
- BMKG,
- Air Nav,
- Air Traffic Control, Airlines,
- VAAC Darwin,
- VAAC Tokyo,
- dll.

VONA terakhir yang terkirim:

(1) G. Sinabung, Sumatera Utara
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:14 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.

(2) G. Agung, Bali
VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.

(3) G. Soputan, Sulawesi Utara
VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8809 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7000 meter di atas puncak.

(4) G. Karangetang, Sulawesi Utara
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke arah Timur.

(5) G. Anak Krakatau, Lampung
VONA terakhir terkirim kode warna RED, terbit tanggal 27 Desember 2018 pukul 12:58 WIB, terkait erupsi yang berlangsung menerus dan kolom abu dengan ketinggian sekitar 7338 m diatas permukaan laut. Kolom abu bergerak ke arah timurlaut.

(6) G. Merapi, Jawa Tengah - Yogyakarta
VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

(7) G. Dukono, Maluku Utara
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 30 Desember 2018 pukul 08:09 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1429 m di atas permukaan laut atau sekitar 200 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah timur.

(8) G. Ibu, Maluku Utara
VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 11 Desember 2018 pukul 13:57 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1825 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak.Kolom abu bergerak ke arah Selatan.

(9) G. Gamalama, Maluku Utara
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m diatas puncak.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.


*2. Gerakan Tanah*

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Desember 2018 yang dibandingkan bulan November 2018 akan mengalami peningkatan potensinya di sebagian besar wilayah indonesia mulai dari sebagian besar pulau Pulau Sumatra , sebagian besar pulau jawa utamanya Jawa Barat dan Tengah, Kalimantan, Bali, NTB, NTT, Maluku dan Papua . Wilayah Indonesia yang secara umum tetap perlu diwaspadai utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan, dan sepanjang aliran sungai sepanjang wilayah antara lain wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian Barat, Tengah dan Timur, Kalimantan Bagian Barat dan Tengah, Sulawesi bagian, Selatan,Barat , Utara, dan Tengah , Maluku , NTB, NTT dan wilayah Papua.

Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terjadi di:

1. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat*, 2. Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara, 3. Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur, 4. Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur, 5. Kabupaten Barru, Provinsi Sulawesi Selatan, 6. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, 7.Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, 8.Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur, 9.Kabupaten Pinrang, Provinsi Sulawesi Selatan, 10.Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur, 11.Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah, 12.Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah , 13.Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah , 14.Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah, 15.Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, 16.Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat, 17.Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah, 18.Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat.

*Kejadian gerakan tanah terbaru:

1. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat

Gerakan tanah terjadi di Jalan penghubung Pelabuhanratu dan Jampangkulon, tepatnya di jalan Cisarakan, Desa Bantarsari, Kecamatan Pabuaran, Kab. Sukabumi, pada hari Sabtu (29/12/2018) pagi. Material longsoran menutup akses jalan Pelabuhanratu dan Jampangkulon.


1. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat

Gerakan tanah terjadi di Jalan penghubung Pelabuhanratu dan Jampangkulon, tepatnya di jalan Cisarakan, Desa Bantarsari, Kecamatan Pabuaran, Kab. Sukabumi, pada hari Sabtu (29/12/2018) pagi. Material longsoran menutup akses jalan Pelabuhanratu dan Jampangkulon.

Sumber :https://pojoksatu.id/news/berita-nasional/2018/12/29/ada-longsor-di-sukabumi-akses-ke-pelabuhanratu-terputus/

Penyebab dari gerakan tanah ini diduga karena kemiringan lereng yang terjal, serta curah hujan yang tinggi sebagai pemicu terjadinya gerakan tanah.

Rekomendasi:
• Masyarakat yang beraktivitas dan pengguna jalan di sekitar lokasi bencana agar meningkatkan kewaspadaan terhadap gerakan tanah susulan terutama saat hujan deras dalam waktu lama.
• Segera membersihkan material longsor yang menimbun jalan dan selalu mengutamakan keselamatan dan waspada terhadap gerakan tanah susulan.
• Membangun struktur perkuatan lereng atau melakukan pelandaian dengan lereng berjenjang untuk meningkatkan kestabilan lereng dan mencegah longsor terulang kembali.
• Melakukan sosialisasi kepada masyarakat dengan memasang rambu-rambu peringatan mengenai lokasi gerakan tanah beserta gejala yang menyertainya.
• Masyarakat agar selalu mengikuti arahan pemerintah setempat.

PVMBG, BADAN GEOLOGI, KESDM; 31 Desember 2018