Jumat, 21 Februari 2020 | 16:19 WIB

Press Release Penurunan Muka Tanah Di Bandung

  • Berita
  • Jumat, 13 Desember 2019 | 08:00 WIB
  • Reporter
Press Release Penurunan Muka Tanah Di Bandung

PRESS RELEASE PENURUNAN MUKA TANAH DI BANDUNG

Oleh: Badana Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, 2019

Penurunan muka tanah atau land subsidence merupakan suatu fenomena geologi, berupa pergerakan permukaan tanah ke bawah relatif terhadap datum atau titik tertentu, baik yang terjadi secara alami maupun akibat adanya aktivitas oleh manusia. Penurunan muka tanah telah terjadi di beberapa wilayah di Indonesia, seperti di daerah dataran rendah pesisir Pulau Jawa bagian utara pada lapisan batuan yang belum terkonsolidasi secara sempurna (al. Jakarta, Pekalongan, Kendal, Semarang dan Demak) dan di daerah dataran endapan danau purba seperti di daerah Dataran Bandung bagian tengah hingga selatan. Badan Geologi sudah melakukan beberapa penyelidikan geologi di wilayah Cekungan Bandung yang meliputi pemetaan geologi, geologi kuarter, geologi teknik, hidrogeologi (air tanah), geologi lingkungan, tektonik, dan gempa. Pada tahun 1993 Badan Geologi telah menerbitkan Atlas Geologi Tata Lingkungan Cekungan Bandung, skala 1:100.000 yang merupakan kegiatan hasil kerjasama antara Pemerintah Indonesia (Badan Geologi, melalui Direktorat Geologi Tata Lingkungan) dengan Pemerintah Jerman (BGR) melalui proyek CTA 108. Penyelidikan Geologi Teknik di wilayah Bandung dan sekitarnya juga sudah dilakukan oleh Badan Geologi sejak tahun 1980an hingga terakhir tahun 2019 Terdapat beberapa kawasan di wilayah dataran Bandung yang merupakan daerah endapan danau purba dan saat ini dapat dibuktikan dengan nama-nama desa yang memakai istilah Ranca (berarti rawa dalam Bahasa Sunda). Kawasan Danau Purba ini meluas mulai dari barat Cicalengka, Rancaekek, utara Majalaya, Ciparay, Dayeuhkolot dengan endapannya didominasi oleh lempung hitam. Sedangkan dari Dayeuhkolot ke barat sampai Ketapang endapannya dipengaruhi oleh material volkanik. Sifat dari lempung hitam ini sangat lunak dan mempunyai kompresibilitas yang sangat tinggi, sehingga secara alami dengan beban ketebalan lapisan lempungnya sendiri lempung ini akan mengalami penurunan. Kawasan yang mempunyai endapan lempung hitam paling tebal berada di antara Dayeuhkolot dan Ciparay serta antara Rancaekek-Solokanjeruk-Cicalengka. Pada Kawasan ini pula saat ini banyak dijumpai pemukiman warga yang padat dan kawasan industri yang beroptensi menimbulkan beban yang akan menekan pada lapisan lempung hitam yang ada di bawahnya. Namun juga terdapat beberapa area kosong berupa pesawahan yang terindikasikan mengalami penurunan muka tanah. Penurunan muka tanah yang terjadi di daerah endapan danau Bandung, dapat terjadi secara dominan oleh salah satu penyebab atau dapat terjadi pula secara kombinasi dari beberapa penyebab penurunan, seperti kombinasi penyebab penurunan akibat adanya bidang sesar dan/atau penurunan akibat terjadinya proses pemampatan lapisan batuan dan/atau akibat adanya pengambilan air tanah. Untuk melakukan kajian penurunan muka tanah beserta penyebabnya dalam skala yang luas, seperti di wilayah Cekungan Bandung, perlu dilakukan kajian tidak hanya berdasarkan satu sisi pengamatan saja, namun perlu dilakukan kajian dari beberapa metode, antara lain: pengukuran bagian permukaan tanah melalui pengukuran GPS, InSAR, dan pengukuran/pengamatan bagian bawah permukaan yaitu kajian geologi (struktur), hidrogeologi, dan geologi teknik, yang ditunjang dengan alat pemantauan penurunan tanah (ekstensiometer), sehingga hasilnya akan lebih akurat untuk mengetahui penyebab utama terjadinya penurunan muka tanah (land subsidence) di Cekungan Bandung sebagai dasar untuk dilakukan perencanaan dan mitigasi.

Sumber : Badan Geologi ESDM