Rabu, 22 Mei 2019 | 00:29 WIB

LAPORAN KEBENCANAAN GEOLOGI 26 Desember 2018 (06:00 WIB)

  • Berita
  • Rabu, 26 Desember 2018 | 12:19 WIB
  • Reporter
LAPORAN KEBENCANAAN GEOLOGI 26 Desember 2018 (06:00 WIB)

*LAPORAN KEBENCANAAN GEOLOGI*

*26 Desember 2018 (06:00 WIB)*

*I. SUMMARY*
Hari ini, Rabu 26 Desember 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

*1. Gunungapi*

*Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara):*

Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah setinggi 200 meter, berwarna putih, dengan intensitas tipis hingga tebal. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur dan tenggara.

Melalui rekaman seismograf tanggal 25 Desember 2018 tercatat:
- 4 kali gempa Hembusan
- 2 kali gempa Tektonik Lokal

Rekomendasi:
- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km untuk sektor Utara -Barat, 4 km untuk sektor Selatan - Barat, dan dalam jarak 7 km untuk sektor Selatan - Tenggara, didalam jarak 6 km untuk sektor Tenggara - Timur serta didalam jarak 4 km untuk sektor Utara -Timur.
- Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunung Sinabung agar mewaspadai potensi banjir lahar terutama pada saat terjadi hujan lebat.

VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.

*Gunungapi Agung (Bali):*

Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Agung (3142 m dpl) mengalami erupsi sejak 21 November 2017.
Dari kemarin hingga pagi ini visual cuaca visual cuaca berawan hingga hujan, angin lemah ke arah timur dan barat. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut 0-III. Asap kawah utama teramati setinggi 400 m dari puncak, berwarna putih dengan intesitas sedang.

Melalui rekaman seismograf tanggal 25 Desember 2018 tercatat:
- 1 kali gempa Vulkanik Dalam
- 3 kali gempa Tektonik Jauh

Kegempaan tanggal 26 Desember 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:
- 2 kali gempa Vulkanik Dalam
- 1 kali gempa Tektonik Lokal

Rekomendasi:
- Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
- Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
- Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.
- Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.

VONA:
VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.

*Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara):*

Tingkat aktivitas Level III (SIAGA). Gunungapi Soputan (1784 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah tenggara.

Melalui rekaman seismograf tanggal 25 Desember 2018 tercatat:
- 9 kali gempa Guguran
- 5 kali gempa Hembusan
- 3 kali gempa Tektonik Jauh

Tanggal 26 Desember 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:
- 2 kali gempa Guguran
- 4 kali gempa Hembusan

Rekomendasi:
Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 4 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 6,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman guguran lava dan awan panas guguran

VONA:
VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8809 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7000 meter di atas puncak.

*Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara):*

Tingkat aktivitas Level III (SIAGA). G. Karangetang (2460 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah timur.

Melalui rekaman seismograf tanggal 25 Desember 2018 tercatat:
- 36 kali gempa Hembusan
- 23 kali gempa Harmonik
- 3 kali gempa Tektonik Jauh

Tanggal 26 Desember 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:
- 11 kali gempa Hembusan
- 2 kali gempa Harmonik

Rekomendasi:
- Masyarakat di sekitar G. Karangetang dan pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam radius 2.5 km dari Kawah 2 (kawah utara) dan Kawah Utama (kawah Selatan) ke arah Utara-
Timur-Selatan-Barat dan radius 3 km ke arah Baratlaut.
- Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G. Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.
- Masyarakat disekitar G. Karangetang dianjurkan agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi potensi bahaya gangguan saluran pernapasan jika terjadi hujan abu

VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke arah Timur.

*Gunungapi Anak Krakatau (Lampung):*

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Anak Krakatau (338 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah timur.

Melalui rekaman seismograf tanggal 25 Desember 2018 tercatat:
- Tremor menerus dengan amplitudo 8-40 mm, dominan 20 mm

Rekomendasi:
Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.

VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 24 Desember 2018, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu yang tidak dapat teramati karena faktor cuaca. Kolom abu bergerak ke arah utara.

*Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):*

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur laut dan tenggara.

Melalui rekaman seismograf tanggal 25 Desember 2018 tercatat:
- 38 kali gempa Guguran
- 1 kali gempa Low Frequency
- 2 kali gempa Hybrid
- 7 kali gempa Hembusan
- 1 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:
- Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.
- Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.
- Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi.
- Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.
- Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No.15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.
- Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.

VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

*Gunungapi Dukono (Halmahera):*

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah timur laut dan timur.

Melalui rekaman seismograf tanggal 25 Desember 2018 tercatat:
- 1 kali gempa Vulkanik Dalam
- 1 kali gempa Tektonik Lokal
- 4 kali gempa Tektonik Jauh
- Tremor Menerus terekam dengan amplitudo 0.5 – 4 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 17 Desember 2018 pukul 11:27 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1629 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Selatan.

*Gunungapi Ibu (Halmahera):*

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.

Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup perlahan ke arah utara dan timur.

Melalui rekaman seismograf tanggal 24 Desember 2018 tercatat:
- 88 x gempa letusan, amp: 15 - 38 mm, durasi: 17- 50 dtk,
- 58 x gempa hembusan, amp: 5 - 14 mm, durasi: 10 - 30 dtk,
- 16 x gempa guguran, amp: 5 - 13 mm, durasi: 15 - 75 dtk,

Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.

VONA:
VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 11 Desember 2018 pukul 13:57 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1825 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak.Kolom abu bergerak ke arah Selatan.

*Gunungapi Gamalama (Maluku Utara):*

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gamalama (1715 m dpl) mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter diatas puncak atau 1965 m diatas permukaan laut.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup sedang hingga kencang ke arah utara.

Melalui rekaman seismograf tanggal 25 Desember 2018 tercatat:
- 4 kali gempa Hembusan
- 3 kali gempa Vulkanik Dalam
- 3 kali gempa Tektonik Lokal
- 3 kali gempa Terasa
- 6 kali gempa Tektonik Jauh
- 3 kali Getaran Banjir/Lahar Hujan

Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G.Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari kawah puncak G.Gamalama
Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G.Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m diatas puncak.

Untuk Gunungapi Status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.


*2. Gerakan Tanah*

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Desember 2018 yang dibandingkan bulan November 2018, umumnya potensinya mengalami peningkatan dan semakin meluas ke sebagian besar wilayah Indonesia Sumatera , Jawa Bagian Barat dan Tengah, Sulawesi , Kalimantan, Maluku, NTB, NTT, dan Papua

Gerakan tanah terakhir terjadi :

1.Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat.

Penyebab: Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang terjal, kondisi tanah pelapukan yang labil, dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana.

Dampak : Gerakan tanah / tanah longsor menyebabkan lalu lintas terhambat di Jalur nasional lintas Malangbong-Bandung di Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.


*3. Gempa Bumi*

*Laporan Harian TTD Tsunami Selat Sunda*

=Selasa 25 Desember 2018=

1. Melakukan pemeriksaan dan pengukuran dampak tsunami di Kab. Serang dan Pandeglang bersama Tim Dinas ESDM Provinsi Banten.

2. Diskusi dan sosialisasi tentang gempabumi dan tsunami dengan Kades Bandulu kec. Anyer dan masyarakat Taving Muhara kec Cinangka, kab Serang.

3. Melayani wawancara dengan wartawan Harian Kompas tentang tsunami lewat telepon.

4. Batas terjadinya tsunami di Kp Labuan Paku, Kec. Anyer, Serang. Disini tsunami hanya teramati di garis pantai dan merusak beberapa warung penduduk di garis pantai.

5. Hasil pengukuran landaan tsunami sebagai berikut: Pantai Kp Taving Muhara, Cinangka, Serang : Flow Depth (FD) 9 cm, Run up distance (RD) 84 m.
Kp Cibenda, Carita, Pandeglang : FD 330 cm, 80 cm, 310 cm, RD 137 m.
Resort Tanjung Lesung, Pandeglang: RD 232 m, FD di hotel bagian belakang 155 cm. Korban di resort Tanjung Lesung sekitar 106 org karena ada acara PLN dan Kemenpora.

6. Besok (26 Desember) TTD Tsunami Selat Sunda akan melanjutkan pengamatan dan pengukuran landaan tsunami di daerah Panimbang dan Sumur. Akses ke daerah Sumur tidak bisa ditempuh lewat jalan pantai karean rusak oleh tsunami. TTD Badan Geologi akan mencoba melewati daerah Cibaliung dan daerah gunung. Setelah itu TTD Badan Geologi akan kembali ke Bandung.

Demikian laporan ini dibuat, semoga bermanfaat.

TTD Tsunami Selat Sunda (Supartoyo, Deden Junaedi, Ayub Samsudin)


*Gempa bumi di barat laut Ternate, Maluku Utara*

Informasi Gempa Bumi:
Gempa bumi terjadi pada hari Selasa tanggal 25 Desember 2018 pukul 14:18:21 WIB. Menurut BMKG pusat gempa bumi berada pada koordinat 1,21°LU dan 126,44°BT, dengan magnituda 5,4 SR pada kedalaman 10 km, berada pada jarak 113 km barat laut ternate, Maluku Utara.
Menurut GFZ (Jerman) pusat gempa bumi berada pada koordinat 1,17°LU dan 126,47°BT, dengan magnituda 5,3 SR pada kedalaman 39 km.

Kondisi geologi daerah terkena gempa bumi:
Di wilayah Provinsi Maluku Utara goncangan gempa bumi akan terasa kuat pada daerah yang tersusun oleh endapan Kuarter berupa endapan aluvial, endapan pantai, endapan rombakan gunungapi serta endapan berumur Tersier yang telah mengalami pelapukan. Endapan tersebut bersifat urai, lepas, belum terkonsolidasi (unconsolidated) dan memperkuat efek goncangan gempa bumi.

Penyebab gempa bumi;
Diperkirakan berkaitan dengan aktivitas zona subduksi Punggungan Mayu di sebelah barat Ternate.

Dampak gempa bumi:
Belum ada laporan korban jiwa maupun kerusakan bangunan yang diakibatkan oleh gempa bumi tersebut.
Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami.

Rekomendasi:
(1) Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari BPBD setempat. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.
(2) Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan yang diharapkan lebih kecil.


*2. Gerakan Tanah*

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Desember 2018 yang dibandingkan bulan November 2018 akan mengalami peningkatan potensinya di sebagian besar wilayah indonesia mulai dari sebagian besar pulau Pulau Sumatra , sebagian besar pulau jawa utamanya Jawa Barat dan Tengah, Kalimantan, Bali, NTB, NTT, Maluku dan Papua . Wilayah Indonesia yang secara umum tetap perlu diwaspadai utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan, dan sepanjang aliran sungai sepanjang wilayah antara lain wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian Barat, Tengah dan Timur, Kalimantan Bagian Barat dan Tengah, Sulawesi bagian, Selatan,Barat , Utara, dan Tengah , Maluku , NTB, NTT dan wilayah Papua.

Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terjadi di:
1.Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat*, 2.Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah, 3. Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali, 4. Kota Sabang, Provinsi Aceh, 5. Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara, 6.Kabupaten Gunungkidul, Provinsi DI Yogyakarta, 7.Kabupaten Jembrana , Provinsi Bali, 8.Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur, 9. Kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara, 10.Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh, 11. Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat, 12. Pamekasan, Provinsi Jawa Timur.

*Kejadian gerakan tanah terbaru:

1.Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat.

Longsor terjadi pukul 04.00 WIB di Kampung Binarum, Desa Sukaratu, Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut . Tanah tebing yang tergerus longsor itu, diperkirakan tingginya 20 meter dan lebarnya 15 meter.Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut, Dadi Djakaria, mengatakan longsoran tanah tebing itu hanya menimpa badan jalan dan tidak merenggut korban jiwa.

Sumber : https://www.cendananews.com/2018/12/longsor-tutup-jalur-malangbong-bandung.html?utm_source=dlvr.it&utm_medium=twitter
http://jabar.tribunnews.com/2018/12/25/breaking-news-longsor-tutup-badan-jalan-bandung-menuju-tasikmalaya-di-malangbong
https://ivoox.id/longsor-di-malangbong-ganggu-jalur-bandung-tasik/

Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang terjal, kondisi tanah pelapukan yang labil, dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.

Rekomendasi :
• Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsor susulan.
• Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah.
• Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan.
• Melandaikan lereng, mengatur drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng dengan fondasi menembus batuan yang keras.
• Saluran air permukaan segera dibenahi agar lebih kedap air dan mampu menampung air jika debit air meningkat saat hujan.
• Penanaman pepohonan berakar kuat dan dalam untuk memperkuat lereng.
• Penggalian atau pemotongan lereng harap tidak terlalu curam dan memenuhi kaidah keteknisan tanah dan batuan.
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.


PVMBG, BADAN GEOLOGI, KESDM; 26 Desember 2018
Kasbani