Sabtu, 24 Agustus 2019 | 12:12 WIB

LAPORAN KEBENCANAAN GEOLOGI 2 Juni 2019 (pukul 06:00 WIB)

  • Berita
  • Minggu, 2 Juni 2019 | 13:49 WIB
  • Reporter

*LAPORAN KEBENCANAAN GEOLOGI*

*2 Juni 2019 (pukul 06:00 WIB)*

*I. SUMMARY*
Hari ini, Minggu, 2 Juni 2019, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

*1. Gunungapi*

*Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)*

Tingkat aktivitas sejak tanggal 20 Mei 2019 pukul 10.00 WIB diturunkan menjadi Level III (Siaga). G. Sinabung (2.460 m dpl) mengalami erupsi sejak tahun 2013. Erupsi terakhir tanggal 28 Mei 2019.

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi Sinabung terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal tinggi sekitar 50 meter dari puncak.

Melalui rekaman seismograf pada 1 Juni 2019 tercatat:
- 17 kali gempa Hembusan
- 1 kali gempa Tornillo
- 2 kali gempa Low Frequency
- 1 kali gempa Hybrid
- 5 kali gempa Tektonik Lokal
- 1 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:
- Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan aktivitas pada desa-desa yang sudah direlokasi, serta lokasi di dalam radius 3 km dari puncak G. Sinabung, serta radius sektoral 5 km untuk sektor Selatan - Timur, dan 4 km untuk sektor Utara-Timur.
- Jika terjadi hujan abu, masyarakat dihimbau memakai masker bila keluar rumah, mengamankan sarana air bersih, dan membersihkan atap rumah dari abu vulkanik yang lebat agar tidak roboh.
- Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunung Sinabung agar mewaspadai potensi banjir lahar terutama pada saat terjadi hujan lebat.

VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 28 Mei 2019 pukul 01:18 WIB, terkait erupsi yang terekam di seismogram ditandai dengan adanya gempa tremor dan hybrid lama gempa 152 detik, secara visual tidak teramati adanya aliran lava.


*Gunungapi Agung (Bali)*

Gunungapi Agung di Bali kembali memasuki fase erupsi mulai 21 November 2017 hingga saat ini, setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Tingkat akrivitas saat ini adalah Level III (Siaga).

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Teramati asap kawah utama berwarna kelabu dengan intensitas sedang tinggi sekitar 300 meter dari puncak.

Melalui rekaman seismograf pada 1 Juni 2019 tercatat:
- 6 kali gempa Hembusan
- 1 kali gempa Vulkanik Dalam
- 4 kali gempa Tektonik Jauh

Tanggal 2 Juni 2019 (Pukul. 00:00-06:00 WITA) tercatat:
- 1 kali gempa Hembusan

Rekomendasi:
- Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
- Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan.

VONA:
VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 31 Mei 2019 pukul 11:42 WITA , terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5.142 meter di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m dari puncak. Kolom abu bergerak ke arah timur-timurlaut.


*Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)*

Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Soputan (1.809 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik.

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 30 meter dari puncak.

Melalui rekaman seismograf tanggal 1 Juni 2019 tercatat:
- 8 kali gempa Guguran
- 2 kali gempa Hembusan
- 2 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:
Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 4 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 6,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman guguran lava dan awan panas guguran.

VONA:
VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8.809 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7.000 meter di atas puncak.


*Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara)*

Tingkat aktivitas Level III (SIAGA). G. Karangetang (1784 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut hingga jelas. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal tinggi sekitar 75 meter dari puncak.

Melalui rekaman seismograf tanggal 1 Juni 2019 tercatat:
- 41 kali gempa Hembusan
- 10 kali gempa Hybrid
- 1 kali gempa Tektonik Lokal
- 8 kali gempa Tektonik Jauh
- Tremor menerus dengan amplitudo 0.25 - 3 mm, dominan 1 mm.

Rekomendasi:
Terhitung mulai tanggal 26 Maret 2019 pukul 12:00 WITA rekomendasi teknis adalah sebagai berikut:
- Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak mendekati, tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya yaitu radius 2.5 km dari puncak Kawah Dua (Kawah Utara) dan Kawah Utama (selatan) serta area perluasan sektoral dari Kawah Dua ke arah Barat Iaut-Utara sejauh 4 km, yaitu wilayah yang berada di antara Kali Batuare dan Kali Saboang.
- Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G. Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.

VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke arah Timur.


*Gunungapi Anak Krakatau (Lampung)*

Tingkat aktivitas Level II (Waspada), sejak 25 Maret 2019. G. Anak Krakatau (157 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan diikuti rangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Februari 2019. Pada Mei 2019 erupsi masih terjadi tetapi dengan intensitas yang semakin menurun.

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi tertutup kabut. Asap kawah utama tidak teramati.

Melalui seismograf tanggal 1 Juni 2019 tercatat:
- 2 kali gempa Low Frequency
- 1 kali gempa Tektonik Lokal
- Tremor Menerus dengan amplitudo 1 - 47 mm, dominan 35 mm.

Rekomendasi:
Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.

VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 29 Mei 2019 pukul 10:54 WIB, terkait erupsi yang terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 43 mm dan lama gempa 291 detik.


*Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)*

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama teramati berwarna putih tipis hingga tebal setinggi 50 meter dari puncak.

Melalui rekaman seismograf tanggal 1 Juni 2019 tercatat:
- 1 kali gempa Awan Panas Guguran
- 21 kali gempa Guguran
- 2 kali gempa Hembusan
- 2 kali gempa Low Frequency
- 5 kali gempa Hybrid
- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 1 kali gempa Tektonik Lokal

Rekomendasi:
- Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.
- Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.
- Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi.

VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.


*Gunungapi Dukono (Halmahera)*

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal tinggi sekitar 200 meter dari puncak. Teramati Letusan dengan tinggi 200 meter dengan warna asap putih, kelabu.

Melalui rekaman seismograf tanggal 1 Juni 2019 tercatat:
- 1 kali gempa Letusan
- 6 kali gempa Tektonik Jauh
- Tremor menerus dengan amplitudo 0.5 - 10 mm, dominan 2 mm.

Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

VONA:
VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Mei 2019 pukul 17:41 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1.629 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah barat daya.


*Gunungapi Ibu (Halmahera)*

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.

Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi tertutup kabut. Asap kawah utama teramati berwarna kelabu tebal tinggi 200-800 meter.

Melalui rekaman seismograf tanggal 1 Juni 2019 tercatat:
- 104 kali gempa Letusan
- 103 kali gempa Hembusan
- 9 kali gempa Guguran
- 127 kali gempa Tremor Harmonik
- 1 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.

VONA:
VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 14 Mei 2019 pukul 18:46 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2.125 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah utara.


*Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)*

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gamalama (1715 m dpl) mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter diatas puncak atau 1965 m diatas permukaan laut.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama tidak teramati.

Melalui rekaman seismograf tanggal 1 Juni 2019 tercatat:
- 1 kali gempa Vulkanik Dalam
- 2 kali gempa Tektonik Lokal
- 22 kali gempa Tektonik Jauh
- 1 kali gempa Getaran Banjir

Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G.Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari kawah puncak G.Gamalama
Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G.Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m diatas puncak.


*Gunungapi Kerinci (Jambi)*

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Kerinci (3.805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi tertutup Kabut. Asap kawah utama tidak teramati.

Melalui rekaman seismograf tanggal 1 Juni 2019 tercatat:
- 196 kali gempa Hembusan
- 2 kali gempa Tektonik Jauh
- Tremor menerus dengan amplitudo 0.5 - 1 mm, dominan 1 mm.

Rekomendasi:
- Masyarakat di sekitar G. Kerinci dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 3 km dari kawah puncak.
- Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Kerinci agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 10 Mei 2019 pukul 18:04 WIB, terkait pengamatan emisi abu vulkanik coklat pada pukul 18.04 WIB. Dengan ketinggian kolom abu sekitar 4.505 m di atas permukaan air laut atau sekitar 700 m di atas puncak. Kolom abu begerak ke arah tenggara.


*Gunungapi Bromo (Jawa Timur)*

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Bromo (2.329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis setinggi 200 meter dari puncak.

Melalui rekaman seismograf tanggal 31 Mei 2019 tercatat:
- Tremor Menerus dengan amplitudo 0.5 - 1 mm, dominan 1 mm.

Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Bromo dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1 km dari kawah puncak.

VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 6 April 2019 pukul 07:18 WIB, terkait hembusan asap kawah menerus dengan tinggi sekitar 3.829 m di atas permukaan laut atau sekitar 900 m di atas puncak. Kolom asap bergerak ke arah tenggara.

Untuk Gunungapi Status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.


*2. Gerakan Tanah*

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Juni 2019 dibandingkan Mei 2019, potensinya relatif sama dan potensinya rendah disebagian besar wilyah indonesia, namun kewaspadaan tetap terhadap potensi terjadinya gerakan tanah yang meliputi wilayah Wilayah pantai Sumatera bagian utara dan barat , Sulawesi bagian Tengah

Gerakan tanah terakhir terjadi :

1. Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur.

Penyebab terjadinya tanah longsor diperkirakan karena selain dipicu oleh intensitas curah hujan yang sangat tinggi juga karna tererosi/terkikisnya tanah pinggiran sungai, dimana tanah yg labil/tidak kuat akan ikut bergerak.

Dampak : satu rumah terancam ambruk di Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur.

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

*II. DETAIL*

*1. Gunungapi*

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini:
a. 4 gunungapi tingkat aktivitas Level III (SIAGA), yaitu G. Sinabung (Sumut) sejak 20 Mei 2019, G. Agung (Bali) sejak 10 Februari 2018, G. Soputan (Sulut) sejak 3 Oktober 2018, dan G. Karangetang (Sulut) sejak 20 Desember 2018.
b. 16 gunungapi tingkat aktivitas Level II (WASPADA), yaitu G. (Merapi, Marapi, Kerinci, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Lokon, Gamalama, Gamkonora, Ibu, Dukono, Ili Lewotolok, Banda Api, dan Anak Krakatau).
c. Sisanya 49 gunungapi tingkat aktivitas Level I (NORMAL).


*Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)*

Gunungapi Sinabung Sumatera Utara merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsinya berlangsung sejak tahun 2013. Tingkat aktivitas sejak tanggal 20 Mei 2019 pukul 10.00 WIB diturunkan menjadi Level III (Siaga). G. Sinabung (2.460 m dpl) mengalami erupsi sejak tahun 2013 . Erupsi terakhir tanggal 28 Mei 2019.

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi Sinabung terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal tinggi sekitar 50 meter dari puncak.

Melalui rekaman seismograf pada 1 Juni 2019 tercatat:
- 17 kali gempa Hembusan
- 1 kali gempa Tornillo
- 2 kali gempa Low Frequency
- 1 kali gempa Hybrid
- 5 kali gempa Tektonik Lokal
- 1 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:
- Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan aktivitas pada desa-desa yang sudah direlokasi, serta lokasi di dalam radius 3 km dari puncak G. Sinabung, serta radius sektoral 5 km untuk sektor Selatan - Timur, dan 4 km untuk sektor Utara-Timur.
- Jika terjadi hujan abu, masyarakat dihimbau memakai masker bila keluar rumah, mengamankan sarana air bersih, dan membersihkan atap rumah dari abu vulkanik yang lebat agar tidak roboh.
- Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunung Sinabung agar mewaspadai potensi banjir lahar terutama pada saat terjadi hujan lebat.


*Gunungapi Agung (Bali)*

Gunungapi Agung di Bali kembali memasuki fase erupsi mulai 21 November 2017 hingga saat ini, setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Tingkat akrivitas saat ini adalah Level III (Siaga).
Erupsi Gunung Agung mencapai puncaknya pada periode 25-29 November 2017. Erupsi Gunung Agung selain bersifat eksplosif juga disertai efusi lava yang sangat cepat ke dalam kawah sehingga volume lava di dalam kawah mencapai 23 juta m3 pada bulan Desember 2017. Pada tahun 2018-2019 erupsi G. Agung masih terus terjadi namun dengan jangkauan lontaran material erupsi dan frekuensi kejadian erupsi mengalami penurunan.

Erupsi terakhir terjadi pada 31 Mei 2019 pukul 11:42 WITA, teramati erupsi dengan tinggi kolom abu mencapai 2000 m di atas puncak.

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Teramati asap kawah utama berwarna kelabu dengan intensitas sedang tinggi sekitar 300 meter dari puncak.

Melalui rekaman seismograf pada 1 Juni 2019 tercatat:
- 6 kali gempa Hembusan
- 1 kali gempa Vulkanik Dalam
- 4 kali gempa Tektonik Jauh

Tanggal 2 Juni 2019 (Pukul. 00:00-06:00 WITA) tercatat:
- 1 kali gempa Hembusan


*Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)*

Gunungapi Soputan merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Sulawesi Utara yang berada di Kabupaten Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level III (Siaga).
Data pemantauan G. Soputan dari periode Agustus hingga awal Oktober 2018 menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Pada tanggal 3 Oktober 2016 pukul 01:00 WITA tingkat aktivitas G. Soputan dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) dan pada 16 Desember pukul 01:02 dan 03:09 WITA terjadi erupsi, teramati sinar api dari puncak G. Soputan, ketinggian kolom abu teramati berkisar 3.000-5.000 m di atas puncak.

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 30 meter dari puncak.

Melalui rekaman seismograf tanggal 1 Juni 2019 tercatat:
- 8 kali gempa Guguran
- 2 kali gempa Hembusan
- 2 kali gempa Tektonik Jauh


*Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara)*

Gunungapi Karangetang di Pulau Siau, Kabupaten Sitaro, Sulawesi Utara adalah salah satu gunungapi di Indonesia yang paling sering erupsi. Erupsi terakhirnya terjadi pada tahun 2016. Setelah 2 tahun istirahat. Gunungapi Karangetang kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik sejak akhir bulan November 2018 sehingga tingkat aktivitas dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) pada 20 Desember 2018 pukul 18:00 WITA. Pada awal Februari 2019 terjadi aliran lava keluar selama beberapa hari dari kawah utara, mengalir ke arah utara-baratlaut yang mencapai jarak > 3.000 m. Pemantauan terkini menunjukkan juga bahwa aktivitas di Kawah Utama (kawah Selatan) mengalami peningkatan dimana Awan Panas guguran teramati satu kali meluncur dari Kawah Utama sejauh 2.000 m ke arah Kali Kahetang dan Kali Batuawang pada 15 April 2019 sekitar pukul 12:00 WITA.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut hingga jelas. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal tinggi sekitar 75 meter dari puncak.

Melalui rekaman seismograf tanggal 1 Juni 2019 tercatat:
- 41 kali gempa Hembusan
- 10 kali gempa Hybrid
- 1 kali gempa Tektonik Lokal
- 8 kali gempa Tektonik Jauh
- Tremor menerus dengan amplitudo 0.25 - 3 mm, dominan 1 mm.


*Gunungapi Anak Krakatau (Lampung)*

Gunung Anak Krakatau (157 m dpl) secara administratif termasuk kedalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, sejak 18 Juni 2018 peningkatan aktivitas vulkanik diikuti rangkaian erupsi pada September 2018 - 9 Januari 2019, dengan intensitas erupsi tertinggi pada bulan Oktober 2018. Pada akhir Desember 2018, intensitas erupsi cukup tinggi, berupa letusan menerus tipe strombolian, diselingi letusan tipe Surtseyan pada 27 Desember 2018 sehingga tingkat aktivitas dinaikan menjadi Level III (Siaga).

Pada periode Februari-April 2019 erupsi masih terjadi tetapi intensitas erupsi cenderung menurun. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (Waspada) sejak 25 Maret 2019 pukul 12:00 WIB.

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi tertutup kabut. Asap kawah utama tidak teramati.

Melalui seismograf tanggal 1 Juni 2019 tercatat:
- 2 kali gempa Low Frequency
- 1 kali gempa Tektonik Lokal
- Tremor Menerus dengan amplitudo 1 - 47 mm, dominan 35 mm.


*Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)*

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Merapi (2.968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB tingkat aktivitas G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama teramati berwarna putih tipis hingga tebal setinggi 50 meter dari puncak.

Melalui rekaman seismograf tanggal 1 Juni 2019 tercatat:
- 1 kali gempa Awan Panas Guguran
- 21 kali gempa Guguran
- 2 kali gempa Hembusan
- 2 kali gempa Low Frequency
- 5 kali gempa Hybrid
- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 1 kali gempa Tektonik Lokal


*Gunungapi Dukono (Halmahera)*

Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Tingkat aktivitas sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.

Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal tinggi sekitar 200 meter dari puncak. Teramati Letusan dengan tinggi 200 meter dengan warna asap putih, kelabu.

Melalui rekaman seismograf tanggal 1 Juni 2019 tercatat:
- 1 kali gempa Letusan
- 6 kali gempa Tektonik Jauh
- Tremor menerus dengan amplitudo 0.5 - 10 mm, dominan 2 mm.


*Gunungapi Ibu (Halmahera)*

Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2008 menerus hingga saat ini. Tingkat aktivitas sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan Kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.

Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi tertutup kabut. Asap kawah utama teramati berwarna kelabu tebal tinggi 200-800 meter.

Melalui rekaman seismograf tanggal 1 Juni 2019 tercatat:
- 104 kali gempa Letusan
- 103 kali gempa Hembusan
- 9 kali gempa Guguran
- 127 kali gempa Tremor Harmonik
- 1 kali gempa Tektonik Jauh


*Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)*

Gunungapi Gamalama yang memiliki ketinggian 1.715 m dpl, secara administratif terletak di Kota Ternate (Pulau Ternate), Provinsi Maluku Utara. Letusan G. Gamalama pada umumnya berlangsung di Kawah Utama dan hampir selalu magmatik. Kecuali letusan yang terjadi dalam tahun 1907 yang mengambil tempat di lereng timur (letusan samping) dan menghasilkan leleran lava (Batu Angus) hingga ke pantai. Letusan 1980 juga menghasilkan Kawah Baru, lokasinya sekitar 175 m ke arah timur dari Kawah Utama.

Gunungapi Gamalama merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif sering hingga saat ini. Tingkat aktivitas sekarang adalah Level II (Waspada).

Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan. G. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter di atas puncak atau 1965 m di atas permukaan laut.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama tidak teramati.

Melalui rekaman seismograf tanggal 1 Juni 2019 tercatat:
- 1 kali gempa Vulkanik Dalam
- 2 kali gempa Tektonik Lokal
- 22 kali gempa Tektonik Jauh
- 1 kali gempa Getaran Banjir


*Gunungapi Kerinci (Jambi)*

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Kerinci (3.805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi tertutup Kabut. Asap kawah utama tidak teramati.

Melalui rekaman seismograf tanggal 1 Juni 2019 tercatat:
- 196 kali gempa Hembusan
- 2 kali gempa Tektonik Jauh
- Tremor menerus dengan amplitudo 0.5 - 1 mm, dominan 1 mm.


*Gunungapi Bromo (Jawa Timur)*

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Bromo (2.329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis setinggi 200 meter dari puncak.

Melalui rekaman seismograf tanggal 31 Mei 2019 tercatat:
- Tremor Menerus dengan amplitudo 0.5 - 1 mm, dominan 1 mm.


Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos-Pos Pengamatan Gunungapi di atas tersebut terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD setempat disekitar masing-masing gunung, tentang penanggulangan bencana erupsi gunungapi.
Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:
- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
- BMKG,
- Air Nav,
- Air Traffic Control, Airlines,
- VAAC Darwin,
- VAAC Tokyo,
- dll.

VONA terakhir yang terkirim:

(1) G. Sinabung, Sumatera Utara
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 28 Mei 2019 pukul 01:18 WIB, terkait erupsi yang terekam di seismogram ditandai dengan adanya gempa tremor dan hybrid lama gempa 152 detik, secara visual tidak teramati adanya aliran lava.

(2) G. Agung, Bali
VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 31 Mei 2019 pukul 11:42 WITA , terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5.142 meter di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m dari puncak. Kolom abu bergerak ke arah timur-timurlaut.

(3) G. Soputan, Sulawesi Utara
VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8.809 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7.000 meter di atas puncak.

(4) G. Karangetang, Sulawesi Utara
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2284 meter di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke arah Timur.

(5) G. Anak Krakatau, Lampung
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 29 Mei 2019 pukul 10:54 WIB, terkait erupsi yang terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 43 mm dan lama gempa 291 detik.

(6) G. Merapi, Jawa Tengah - Yogyakarta
VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3.768 meter di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

(7) G. Dukono, Maluku Utara
Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

(8) G. Ibu, Maluku Utara
VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 14 Mei 2019 pukul 18:46 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2.125 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah utara.

(9) G. Gamalama, Maluku Utara
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1.725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m di atas puncak.

(10) G. Kerinci, Jambi
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 10 Mei 2019 pukul 18:04 WIB, terkait pengamatan emisi abu vulkanik coklat pada pukul 18.04 WIB. Dengan ketinggian kolom abu sekitar 4.505 m di atas permukaan air laut atau sekitar 700 m di atas puncak. Kolom abu begerak ke arah tenggara.

(11) G. Bromo, JawaTimur
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 6 April 2019 pukul 07:18 WIB, terkait hembusan asap kawah menerus dengan tinggi sekitar 3.829 m di atas permukaan laut atau sekitar 900 m di atas puncak. Kolom asap bergerak ke arah tenggara.

Kegiatan gunungapi lain yang di atas Normal sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

*2. Gerakan Tanah*

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Juni 2019 dibandingkan Mei 2019 , potensinya relatif sama dan rendah disebagian besar wilayah Indonesia.Namun wilayah Indonesia yang secara umum tetap perlu diwaspadai utamanya di jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan, dan sepanjang aliran sungai antara lain di wilayah Sumatera bagian barat meliputi wilaya Aceh hingga Lampung, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat , Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan Tenggara .

Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terjadi di:

1. Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur*, 2. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, 3. Kabupaten Sinjai, Provinsi Sulawesi Selatan, 4. Kabupaten Padang Lawas, Sumatera Utara, 6.Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, 5. Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara.

*Gerakan tanah seminggu terakhir terjadi terakhir di :

1. Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur
Gerakan Tanah terjadi di Jln. Lumba-lumba RT.03 RW.05 Kelurahan Selili, Kecamatan Samarinda Ilir Kota Samarinda Provinsi Kalimantan Timur. Terjadi pada hari Sabtu, 1 Juni 2019 (pukul 06.10 WITA). Gerakan tanah mengakibatkan kediaman pasangan manula nyaris ambruk akibat tanah longsor, kondisi rumah kayu yang berada tidak jauh dari bibir sungai mahakam membuat kondisi tanah perlahan-lahan mulai terkikis

Sumber : http://kaltim.tribunnews.com/2019/06/01/rumah-pasangan-manula-di-samarinda-ini-nyaris-longsor-4-pohon-penopang-bergerak-tanah-bergeser

Jenis Gerakan Tanah diperkirakan berupa tipe longsoran. Penyebab terjadinya tanah longsor diperkirakan karena selain dipicu oleh intensitas curah hujan yang sangat tinggi juga karna tererosi/terkikisnya tanah pinggiran sungai, dimana tanah yg labil/tidak kuat akan ikut bergerak.

Rekomendasi :
- Diperlukan penguatan lereng pada tebing rawan longsor yang konstruksinya sesuai kaidah teknis yang baik misalnya: membuat bronjong di tebing sungai dll
- Menanam tanaman yang tumbuh di atas permukaan tanah sehingga menyebabkan buliran tanah tidak mudah terangkut oleh air
- Masyarakat yang berada disekitar dari lokasi bencana selalu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi tanah longsor susulan terutama saat hujan dengan intensitas yang tinggi
- Memasang rambu peringatan rawan longsor serta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bahaya longsor
- Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.
- Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari BPBD/aparat pemerintah daerah setempat.

PVMBG, BADAN GEOLOGI, KESDM; 2 Juni 2019

Kasbani