Rabu, 17 Juli 2019 | 23:48 WIB

LAPORAN KEBENCANAAN GEOLOGI 24 April 2019 (06:00 WIB)

  • Berita
  • Rabu, 24 April 2019 | 08:56 WIB
  • Reporter
LAPORAN KEBENCANAAN GEOLOGI 24 April 2019 (06:00 WIB)

*LAPORAN KEBENCANAAN GEOLOGI*

*24 April 2019 (06:00 WIB)*

*I. SUMMARY*

Hari ini, Rabu 24 April 2019, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

*1. Gunungapi*

*Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)*

Tingkat aktivitas Level IV (Awas). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013 hingga Juli 2018.

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal, tinggi sekitar 200 meter dari puncak.

Melalui rekaman seismograf pada 23 April 2019 tercatat:
- 2 kali gempa Hembusan
- 3 kali gempa Tornilo
- 1 kali gempa Tektonik Lokal
- 3 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:
- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km untuk sektor Utara - Barat, 4 km untuk sektor Selatan - Barat, dan dalam jarak 7 km untuk sektor Selatan - Tenggara, di dalam jarak 6 km untuk sektor Tenggara - Timur serta di dalam jarak 4 km untuk sektor Utara-Timur
- Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunung Sinabung agar mewaspadai potensi banjir lahar terutama pada saat terjadi hujan lebat.

*Gunungapi Agung (Bali)*

Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Agung (3152 m dpl) mengalami erupsi sejak 21 November 2017. Letusan terakhir tejadi pada tanggal 21 April 2019.

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 100 meter dari atas puncak, dengan warna putih dan intensitas tipis.

Melalui rekaman seismograf pada 23 April 2019 tercatat:
- 1 kali gempa Hembusan
- 8 kali gempa Tektonik Jauh

Tanggal 24 April 2019 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:
- 2 kali gempa Hembusan
- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 1 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:
- Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
- Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan.

VONA:
VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 21 April 2019 pukul 21:41 WITA, terkait penurunan intensitas erupsi pasca erupsi pukul 18:56 WITA dengan tinggi kolom abu ± 3.000 m di atas puncak. Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah barat.

*Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)*

Tingkat aktivitas Level III (Siaga).Gunungapi Soputan (1809 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik.

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis, tinggi sekitar 15 meter dari puncak.

Melalui rekaman seismograf tanggal 23 April 2019 tercatat:
- 23 kali gempa Guguran
- 9 kali gempa Hembusan
- 5 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:
Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 4 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 6,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman guguran lava dan awan panas guguran.

VONA:
VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8809 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7000 meter di atas puncak.

*Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara)*

Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Karangetang (1784 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018.

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 50 meter dari atas puncak, dengan warna putih dan intensitas tebal.

Melalui rekaman seismograf tanggal 23 April 2019 tercatat:
- 6 kali gempa Guguran
- 14 kali gempa Hembusan
- 9 kali gempa Tremor
- 5 kali gempa Hybrid
- 5 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 2 kali gempa Tektonik Jauh
- Tremor menerus dengan amplitudo dominan 0.25 mm.

Rekomendasi:
Terhitung mulai tanggal 26 Maret 2019 pukul 12:00 WITA rekomendasi teknis adalah sebagai berikut:
- Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak mendekati, tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya yaitu radius 2.5 km dari puncak Kawah Dua (Kawah Utara) dan Kawah Utama (selatan) serta area perluasan sektoral dari Kawah Dua ke arah Barat Iaut-Utara sejauh 4 km, yaitu wilayah yang berada di antara Kali Batuare dan Kali Saboang.
- Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G. Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.

VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke arah Timur.

*Gunungapi Anak Krakatau (Lampung)*

Tingkat aktivitas Level II (Waspada), sejak 25 Maret 2019. G. Anak Krakatau (167 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan diikuti rangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Februari 2019. Pada April 2019 erupsi masih terjadi tetapi dengan intensitas yang semakin menurun.

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat tertutup kabut.Asap kawah tidak teramati.

Melalui seismograf tanggal 23 April 2019 tercatat:
- 11 kali gempa Letusan
- 19 kali gempa Hembusan
- 9 kali gempa Low Frekuensi
- 9 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 2 kali gempa Vulkanik Dalam
- Tremor menerus dengan amplitudo dominan 1 mm.

Rekomendasi:
Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.

VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 23 April 2019 pukul 14:11 WIB, terkait erupsi yang terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 42 mm dan lama gempa 58 detik, secara visual tidak teramati.

*Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)*

Tingkat aktivitas Level II (Waspada).Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 20 meter dari atas puncak, dengan warna putih dan intensitas tebal.

Melalui rekaman seismograf pada 23 April 2019 tercatat:
- 25 kali gempa Guguran
- 7 kali gempa Hembusan
- 2 kali gempa Low Frequency
- 2 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:
- Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.
- Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.
- Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi.

VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 meter di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

*Gunungapi Dukono (Halmahera)*

Tingkat aktivitas Level II (Waspada).Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati.

Melalui rekaman seismograf pada 23 April 2019 tercatat:
- 1 klai gempa Letusan
- 1 kali gempa Tektonik Jauh
- Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 2 mm.

Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

VONA:
VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 21 April 2019 pukul 08:45 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2129 m di atas permukaan laut atau sekitar 900 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Timur.

*Gunungapi Ibu (Halmahera)*

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.

Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 200-800 meter dari puncak.

Melalui seismograf tanggal 22 April 2019 tercatat:
- 75 kali gempa Letusan
- 8 kali gempa Guguran
- 42 kali gempa Hembusan
- 9 kali Tremor Harmonik

Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.

VONA:
VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 06 Februari 2019 pukul 19:02 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1925 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak.Kolom abu bergerak ke arah selatan.

*Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)*

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018. Letusannya hampir selalu bersifat magmatik.

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi tertutup kabut.Asap kawah tidak teramati.

Melalui rekaman seismograf tanggal 23 April 2019 tercatat:
- 5 kali gempa Hembusan
- 2 kali gempa Tektonik Lokal
- 10 kali gempa Tektonik Jauh
- 4 kali gempa Getaran Banjir

Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari kawah puncak G. Gamalama.
Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m di atas puncak.

*Gunungapi Kerinci (Jambi)*

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Kerinci (3805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat tertutup kabut. Asap kawah utama tidak teramati tebal.

Melalui rekaman seismograf tanggal 23 April 2019 tercatat:
- 227 kali gempa Hembusan
- 1 kali gempa Vulkanik Dalam
- 1 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:
- Masyarakat di sekitar G. Kerinci dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 3 km dari kawah puncak.
- Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Kerinci agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 13 April 2019 pukul 15:59 WIB, terkait hembusan asap kawah dengan tinggi sekitar 4205 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak. Kolom asap bergerak ke arah timur laut.

*Gunungapi Bromo (Jawa Timur)*

Tingkat aktivitas Level II (Waspada).Bromo (2329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 500 meter dari atas puncak, dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang.

Melalui rekaman seismograf tanggal 22 April 2019 tercatat:
- 1 kali gempa Low Frequency
- 1 kali gempa Vulkanik Dalam
- 1 kali gempa Tektonik Lokal
- 1 kali gempa Tektonik Jauh
- Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 1mm

Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Bromo dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1 km dari kawah puncak.

VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 6 April 2019 pukul 07:18 WIB, terkait hembusan asap kawah menerus dengan tinggi sekitar 3829 m di atas permukaan laut atau sekitar 900 m di atas puncak. Kolom asap bergerak ke arah tenggara.

Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.


*2. Gerakan Tanah*

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan April 2019 dibandingkan Maret 2019, potensinya relatif sama tingginya utamanya wilyah indonesia bagian Timur, namun terjadi penurunan potensinya meliputi wilayah Wilayah Sumatera bagian Timur,Jawa , Bali . dan Nusantenggara Barat.

Gerakan tanah terakhir terjadi :

1. Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan
2. Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah
3. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat

Penyebab gerakan tanah diperkirakan tebing yang berada di atas badan jalan dengan kemiringan lereng yang terjal, bidang lemah berupa retakan , Erosi lateral oleh aliran air sungai yang mnggerus kaki lereng di bawah badan jalan , tanah lapukan yang gembur dan sarang mudah menyerap air, pembebanan akibat peningkatan bobot massa tanah yang jenuh air, sistem pengaliran air permukaan (drainase) yang kurang baik, hujan dengan intensitas tinggi sebagai pemicu terjadinya gerakan tanah.

Dampak : Gerakan tanah / tanah longsor menyebabkan akses jalan terhambat dan satu rumah rusak di Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan, akses jalan terhambat, satu mobil rusak dan dua unit rumah milik warga terancam di Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa, 40 rumah rusak dan 115 rumah terancam di Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat.

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.


*II. DETAIL*

*1. Gunungapi*

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini:

a. 1 (satu) gunungapi status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung (Sumut) sejak 2 Juni 2015.
b. 3 gunungapi status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung (Bali) sejak 10 Februari 2018, G. Soputan (Sulut) sejak 3 Oktober 2018, dan G. Karangetang (Sulut) sejak 20 Desember 2018.
c. 16 gunungapi status WASPADA/Level II (Merapi, Marapi, Kerinci, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Lokon, Gamalama, Gamkonora, Ibu, Dukono, Ili Lewotolok, Banda Api, dan G. Anak Krakatau).
d. Sisanya 49 gunungapi status NORMAL/Level I.

*Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)*

Gunungapi Sinabung Sumatera Utara merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsinya berlangsung sejak tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Pengiriman Tim Tanggap Darurat dilakukan ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan dan sosialisasi.

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal, tinggi sekitar 200 meter dari puncak.

Melalui rekaman seismograf pada 23 April 2019 tercatat:
- 2 kali gempa Hembusan
- 3 kali gempa Tornilo
- 1 kali gempa Tektonik Lokal
- 3 kali gempa Tektonik Jauh

Penduduk yang bermukim disekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan terhadap potensi lahar pada musim hujan.

*Gunungapi Agung (Bali)*

Gunungapi Agung di Bali kembali memasuki fase erupsi mulai 21 November 2017 hingga saat ini setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Statusnya saat ini adalah Level III (Siaga).

Erupsi Gunung Agung mencapai puncaknya pada periode 25-29 November 2017. Erupsi Gunung Agung selain bersifat eksplosif juga disertai efusi lava yang sangat cepat ke dalam kawah sehingga volume lava di dalam kawah mencapai 23 juta m3 pada bulan Desember 2017. Pada tahun 2018-2019 erupsi Gunung Agung masih terus terjadi namun dengan jangkauan lontaran material erupsi dan frekuensi kejadian erupsi mengalami penurunan.

Erupsi terakhir terjadi pada 21 April 2019 pukul 18:56 WITA dengan ketinggian kolom erupsi sekitar 3000 meter di atas puncak disertai suara gemuruh yang terdengar hingga Pos PGA yang berada 12 km di sebelah Selatan-Baratdaya Puncak Gunung Agung.

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 100 meter dari atas puncak, dengan warna putih dan intensitas tipis.

Melalui rekaman seismograf pada 23 April 2019 tercatat:
- 1 kali gempa Hembusan
- 8 kali gempa Tektonik Jauh

Tanggal 24 April 2019 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:
- 2 kali gempa Hembusan
- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 1 kali gempa Tektonik Jauh

*Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)*

Gunungapi Soputan merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Sulawesi Utara yang berada di Kabupaten Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara. Statusnya saat ini adalah Level III (Siaga).

Data pemantauan G. Soputan dari periode Agustus hingga awal Oktober 2018 menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Pada tanggal 3 Oktober 2016 pukul 01:00 WITA tingkat aktivitas G. Soputan dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) dan pada 16 Desember Pkl 01:02 dan 03:09 WITA terjadi erupsi, teramati sinar api dari puncak G. Soputan, ketinggian kolom abu teramati berkisar 3000-5000 m di atas puncak.

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis, tinggi sekitar 15 meter dari puncak.

Melalui rekaman seismograf tanggal 23 April 2019 tercatat:
- 23 kali gempa Guguran
- 9 kali gempa Hembusan
- 5 kali gempa Tektonik Jauh

*Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara)*

Gunungapi Karangetang di Pulau Siau, Kabupaten Sitaro, Sulawesi Utara adalah salah satu gunungapi di Indonesia yang paling sering erupsi. Erupsi terakhirnya terjadi pada tahun 2016. Setelah 2 tahun istirahat.

G. Karangetang kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik sejak akhir bulan November 2018 sehingga tingkat aktivitas dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) pada 20 Desember 2018 Pkl 18:00 WITA. Pada awal Februari 2019 terjadi aliran lava keluar selama beberapa hari dari kawah utara, mengalir ke arah utara-baratlaut yang mencapai jarak > 3000 m.

Pemantauan terkini menunjukkan juga bahwa aktivitas di Kawah Utama (kawah Selatan) mengalami peningkatan dimana Awan Panas guguran teramati satu kali meluncur dari Kawah Utama sejauh 2000 m ke arah Kali Kahetang dan Kali Batuawang pada 15 April 2019 sekitar pukul 12:00 WITA.

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 50 meter dari atas puncak, dengan warna putih dan intensitas tebal.

Melalui rekaman seismograf tanggal 23 April 2019 tercatat:
- 6 kali gempa Guguran
- 14 kali gempa Hembusan
- 9 kali gempa Tremor
- 5 kali gempa Hybrid
- 5 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 2 kali gempa Tektonik Jauh
- Tremor menerus dengan amplitudo dominan 0.25 mm.

*Gunungapi Anak Krakatau (Lampung)*

Gunung Anak Krakatau (157 m dpl) secara administratif termasuk kedalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, sejak 18 Juni 2018 peningkatan aktivitas vulkanik diikuti rangkaian erupsi pada September- 9 Januari 2019, dengan intensitas erupsi tertinggi pada bulan Oktober. Pada akhir Desember 2018, intensitas erupsi cukup tinggi, berupa letusan menerus tipe strombolian, diselingi letusan tipe Surtseyan pada 27 Desember 2018 sehingga tingkat aktivitas dinaikan menjadi Level III (Siaga).

Pada periode Februari-April 2019 erupsi masih terjadi tetapi intensitas erupsi cenderung menurun. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (Waspada) sejak 25 Maret 2019 Pkl 12:00 WIB.

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat tertutup kabut.Asap kawah tidak teramati.

Melalui seismograf tanggal 23 April 2019 tercatat:
- 11 kali gempa Letusan
- 19 kali gempa Hembusan
- 9 kali gempa Low Frekuensi
- 9 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 2 kali gempa Vulkanik Dalam
- Tremor menerus dengan amplitudo dominan 1 mm.

*Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)*

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB status G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 20 meter dari atas puncak, dengan warna putih dan intensitas tebal.

Melalui rekaman seismograf pada 23 April 2019 tercatat:
- 25 kali gempa Guguran
- 7 kali gempa Hembusan
- 2 kali gempa Low Frequency
- 2 kali gempa Tektonik Jauh

*Gunungapi Dukono (Halmahera)*

Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal, tinggi sekitar 400 meter dari puncak.

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati.

Melalui rekaman seismograf pada 23 April 2019 tercatat:
- 1 klai gempa Letusan
- 1 kali gempa Tektonik Jauh
- Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 2 mm.

*Gunungapi Ibu (Halmahera)*

Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.

Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 200-800 meter dari puncak.

Melalui seismograf tanggal 22 April 2019 tercatat:
- 75 kali gempa Letusan
- 8 kali gempa Guguran
- 42 kali gempa Hembusan
- 9 kali Tremor Harmonik

*Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)*

Gunungapi Gamalama yang memiliki ketinggian 1715 m dpl, secara administratif terletak di Kota Ternate (Pulau Ternate), Provinsi Maluku Utara.Letusan G. Gamalama pada umumnya berlangsung di Kawah Utama dan hampir selalu magmatik. Kecuali letusan yang terjadi dalam tahun 1907 yang mengambil tempat di lereng timur (letusan samping) dan menghasilkan leleran lava (Batu Angus) hingga ke pantai. Letusan 1980 juga menghasilkan Kawah Baru, lokasinya sekitar 175 m ke arah timur dari Kawah Utama.

Gunungapi Gamalama merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif sering hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada).

Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter diatas puncak atau 1965 m diatas permukaan laut.

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi tertutup kabut.Asap kawah tidak teramati.

Melalui rekaman seismograf tanggal 23 April 2019 tercatat:
- 5 kali gempa Hembusan
- 2 kali gempa Tektonik Lokal
- 10 kali gempa Tektonik Jauh
- 4 kali gempa Getaran Banjir

*Gunungapi Kerinci (Jambi)*

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Kerinci (3805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat tertutup kabut. Asap kawah utama tidak teramati tebal.

Melalui rekaman seismograf tanggal 23 April 2019 tercatat:
- 227 kali gempa Hembusan
- 1 kali gempa Vulkanik Dalam
- 1 kali gempa Tektonik Jauh

*Gunungapi Bromo (Jawa Timur)*

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Bromo (2329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 500 meter dari atas puncak, dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang.

Melalui rekaman seismograf tanggal 22 April 2019 tercatat:
- 1 kali gempa Low Frequency
- 1 kali gempa Vulkanik Dalam
- 1 kali gempa Tektonik Lokal
- 1 kali gempa Tektonik Jauh
- Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 1mm

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos-Pos Pengamatan Gunungapi di atas tersebut terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD setempat disekitar masing-masing gunung, tentang penanggulangan bencana erupsi gunungapi.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:
- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
- BMKG,
- Air Nav,
- Air Traffic Control, Airlines,
- VAAC Darwin,
- VAAC Tokyo,
- dll.

VONA terakhir yang terkirim:

(1) G. Sinabung, Sumatera Utara
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 meter di atas permukaan laut atau sekitar 1000 meter di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.

(2) G. Agung, Bali
VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 21 April 2019 pukul 21:41 WITA, terkait penurunan intensitas erupsi pasca erupsi pukul 18:56 WITA dengan tinggi kolom abu ± 3.000 m di atas puncak. Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah barat.

(3) G. Soputan, Sulawesi Utara
VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8809 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7000 meter di atas puncak.

(4) G. Karangetang, Sulawesi Utara
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke arah Timur.

(5) G. Anak Krakatau, Lampung
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 23 April 2019 pukul 14:11 WIB, terkait erupsi yang terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 42 mm dan lama gempa 58 detik, secara visual tidak teramati.

(6) G. Merapi, Jawa Tengah - Yogyakarta
VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 meter di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

(7) G. Dukono, Maluku Utara
VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 21 April 2019 pukul 08:45 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2129 m di atas permukaan laut atau sekitar 900 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Timur.

(8) G. Ibu, Maluku Utara
VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 06 Februari 2019 pukul 19:02 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1925 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah selatan.

(9) G. Gamalama, Maluku Utara
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m di atas puncak.

(10) G. Kerinci, Jambi
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 13 April 2019 pukul 15:59 WIB, terkait hembusan asap kawah dengan tinggi sekitar 4205 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak. Kolom asap bergerak ke arah timur laut

(11) G. Bromo, JawaTimur
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 6 April 2019 pukul 07:18 WIB, terkait hembusan asap kawah menerus dengan tinggi sekitar 3829 m di atas permukaan laut atau sekitar 900 m di atas puncak. Kolom asap bergerak ke arah tenggara.

Kegiatan gunungapi lain yang di atas Normal sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.


*2. Gerakan Tanah*

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan April 2019 dibandingkan Maret 2019 , potensinya relatif sama tingginya utamanya wilayah Indonesia bagian Timur .Wilayah Indonesia yang secara umum tetap perlu diwaspadai utamanya di jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan, dan sepanjang aliran sungai antara lain wilayah Sumatera bagian barat meliputi wilaya Aceh hingga Lampung, , Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat , Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan Tenggara , Maluku , NTT dan wilayah Papua.

Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terjadi di:

1. Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan*, 2. Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah*, 3.Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat*, 4. Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, 5. Kota Bogor, ProvinsiI Jawa Barat, 6. Kabupaten Wonososobo, Provinsi Jawa Tengah, 7.Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan, 8.Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah, 9.Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah, 10.Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah, 11. Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah, 20.Kota Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, 21.Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, 22.Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur, 23.Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan, 24. Kabupaten Pati , Provinsi Jawa Timur, 25. Kabupaten Kuningan , Provinsi Jawa Barat, 26. Kabupaten Badung, Provinsi Bali.

*Gerakan tanah terakhir terjadi terakhir di :

1.Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan
Bencana alam tanah longsor kembali terjadi di Lembang Pa’buaran, Kecamatan Makale Selatan, Tana Toraja, Selasa, 23 April 2019 dinihari. Akibat tanah longsor tersebut, jalan poros yang menghubungkan Kecamatan Makale Selatan dan Kecamatan Gandangbatu Sillanan, terputus. Satu unit rumah warga rusak berat diterjang longsor. Sebagian material longsor sudah masuk ke dalam bangunan gereja Katolik Stasi Pa’buaran yang saat ini sedang dalam proses pembangunan.

Sumber berita : https://www.karebatoraja.com/longsor-di-makale-selatan-satu-rumah-tertimbun-gereja-katolik-terancam/

Gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan dengan penyebab gerakan tanah diperkirakan tebing yang berada di atas badan jalan dengan kemiringan lereng yang terjal, bidang lemah berupa retakan , tanah lapukan yang gembur dan sarang mudah menyerap air, pembebanan akibat peningkatan bobot massa tanah yang jenuh air, sistem pengaliran air permukaan (drainase) yang kurang baik, hujan dengan intensitas tinggi sebagai pemicu terjadinya gerakan tanah.

2.Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah
Hujan deras yang mengguyur wilayah Kecamatan Bantarkawung, Kabupaten Brebes sejak Selasa (23/4/19) siang, mengakibatkan jalan penghubung antara Desa Cikamuning dengan Kebandungan longsor. Kerusakan longsoran dengan panjang 15 meter dan tinggi 5 meter, hingga menggelincirkan satu unit mobil pick up putih yang sedang parkir ke Sungai Ciparenca. Longsor juga mengancam dua unit rumah milik warga.

Sumber berita : https://panturapost.com/hujan-deras-jalan-di-bantarkawung-longsor/

Penyebab gerakan tanah diperkirakan tebing yang berada di atas badan jalan dengan kemiringan lereng yang terjal, bidang lemah berupa retakan , Erosi lateral oleh aliran air sungai yang mnggerus kaki lereng di bawah badan jalan , tanah lapukan yang gembur dan sarang mudah menyerap air, pembebanan akibat peningkatan bobot massa tanah yang jenuh air, sistem pengaliran air permukaan (drainase) yang kurang baik, hujan dengan intensitas tinggi sebagai pemicu terjadinya gerakan tanah.

3. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat
Bencana tanah bergerak terjadi di Nyalindung, Sukabumi, Jawa Barat. Hingga Senin (22/4/2019) pergerakan tanah terus dirasakan. Sekitar 40 rumah rusak terdampak bencana tanah bergerak di Kampung Gunungbatu, Desa Kertaangsana, Kecamatan Nyalindung, Sukabumi, Jawa Barat. Sedangkan 115 rumah lainnya dalam kondisi terancam. Tanah bergerak juga mengakibatkan ruas Jalan Sukabumi-Sagaranten di kampung setempat anjlok dan mengancam 26 hektar lahan persawahan. Hingga Senin (22/4/2019) pergerakan tanah terus dirasakan warga.

Sumber berita : http://bali.tribunnews.com/2019/04/23/bencana-tanah-bergerak-bpbd-sukabumi-imbau-waspada-dan-siap-siaga-bila-hujan-deras

Penyebab gerakan diperkirakan akibat tanah lapukan yang gembur dan sarang mudah menyerap air, pembebanan akibat peningkatan bobot massa tanah yang jenuh air, pembebanan akibat peningkatan bobot massa tanah yang jenuh air hujan dengan intensitas tinggi sebagai pemicu terjadinya gerakan tanah.


Rekomendasi :
• Segera dilakukan normalisasi jalan dengan membersihkan material longsoran
• Pembuatan perkuatan lereng pada tebing jalan dengan memperhatikan kaidah-kaidah geologi teknik.
• Dilakukan penataan system aliran air permukaan pada bagian atas lereng dan pada saluran pembuangan air pada badan jalan.
• Melakukan pemantauan mandiri terhadap retakan tanah yang terjadi dan segera menutup serta memadatkannya jika ditemukan retakan baru. Jika terjadi perkembangan retakan yang intensif agar segera dilaporkan kepada aparat pemerintah setempat.
• Penghuni rumah yang rusak agar segera mengungsi ke tempat yang aman dari ancaman gerakan tanah.
• Seluruh aktivitas penanganan longsor agar dilakukan dengan selalu memperhatikan kondisi cuaca, jika turun hujan aktivitas agar dihentikan.
• Memasang rambu peringatan rawan longsor pada jalur jalan untuk meningkatkan kewaspadaan bagi pengguna jalan di sekitar lokasi longsor.
• Segera dilakukan normalisasi jalan dengan membersihkan material longsoran.
• Segera dilakukan penataan system aliran air permukaan (drainase) dan mengarahkannya menjauh dari retakan.
• Agar dilakukan penutupan retakan dan memadatkannya.
• Seluruh aktivitas penanganan longsor agar dilakukan dengan selalu memperhatikan kondisi cuaca, jika turun hujan aktivitas agar dihentikan.
• Melakukan pemantauan mandiri terhadap retakan tanah yang terjadi terjadi perkembangan retakan yang intensif agar segera dilaporkan kepada aparat pemerintah setempat.
• Masyarakat yang bermukim di lokasi terdampak agar mengungsi ke tempat yang aman jika gerakan tanah terus berkembang.
• Mengingat curah hujan yang diprediksi masih tinggi, warga yang bermukim di sekitar lokasi yang terancam gerakan tanah agar meningkatkan kewaspadan terutama ketika curah hujan tinggi dan jika terjadi perkembangan gerakan tanah agar segera mengungsi ke tempat yang aman dari ancaman gerakan tanah.
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari aparat pemerintah daerah/ BPBD setempat dalam penanganan gerakan tanah atau tanah longsor.


PVMBG, BADAN GEOLOGI, KESDM; 24 April 2019

Kasbani