Rabu, 17 Juli 2019 | 23:22 WIB

INFORMASI ERUPSI G. ANAK KRAKATAU

  • Berita
  • Senin, 22 April 2019 | 13:55 WIB
  • Reporter
INFORMASI ERUPSI G. ANAK KRAKATAU

*:::: MAGMA-VEN ::::*
*::Volcanic Eruption Notice::*

*INFORMASI ERUPSI G. ANAK KRAKATAU*

Telah terjadi erupsi G. Anak Krakatau, Lampung pada tanggal 22 April 2019 pukul 06:05 WIB namun tinggi kolom abu tidak teramati. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 55 mm dan durasi ± 1 menit.

Tidak terdengar suara dentuman.

Saat ini G. Anak Krakatau berada pada Status *Level II (Waspada)* dengan rekomendasi:
Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah

*SUMBER DATA*
KESDM, Badan Geologi, PVMBG
Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau
https://magma.vsi.esdm.go.id/

Press Release Erupsi Gunung Agung 21 April 2019

Gunung Agung (3,142 m dpl) adalah gunungapi aktif yang terletak di Kabupaten Karangasem
Bali. Sejak awal tahun 2019 G. Agung sudah beberapa kali erupsi abu dengan waktu jeda
berkisar 1-3 minggu. Pada 4 April 2019 terjadi erupsi tipe Strombolian, pasca erupsi tersebut
G. Agung mengalami erupsi lagi pada 21 April 2019 sebanyak 2 kali, yaitu Pukul 03:21 WITA
dan 18:56 WITA dengan tinggi kolom abu 2000-3000 m di atas puncak gunung. Berikut ini
disampaikan evaluasi aktivitas G. Agung terkini.

Data Pemantauan:
(1) Secara visual, aktivitas permukaan masih didominasi oleh hembusan asap putih maupun
sesekali erupsi abu disertai lontaran lava pijar. Dalam 1 (satu) bulan terakhir teramati 5
kali erupsi dengan skala kecil. Pada tanggal 21 April 2019, sejak pukul 00:00 WITA hingga
saat ini erupsi terjadi sebanyak 2 kali. Erupsi pertama terjadi pada pukul 03:21 WITA
dengan tinggi kolom abu teramati ± 2000 m di atas puncak (± 5.142 m di atas permukaan
laut). Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah
Baratdaya. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 25 mm
(overscale) dan durasi ± 2 menit 55 detik. Erupsi kedua terjadi pada pukul 18:56 WITA
dengan tinggi kolom abu teramati ± 3000 m di atas puncak (± 6.142 m di atas permukaan
laut). Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong kearah
barat. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 25 mm (overscale)
dan durasi ± 1 menit 22 detik.

(2) Secara seismik, aktivitas Gunung Agung masih didominasi oleh gempa-gempa dengan
konten frekuensi rendah yang mencerminkan aktivitas aliran fluida di kedalaman dangkal
berupa Gempa Hembusan dan sesekali Gempa Letusan. Kegempaan frekuensi tinggi yang
mencerminkan peretakkan batuan di dalam tubuh gunungapi akibat pergerakan magma
di kedalaman berupa Gempa Vulkanik Dalam maupun Vulkanik Dangkal masih terekam
dengan intensitas relatif rendah. Dominannya kegempaan dengan konten frekuensi
rendah dibandingkan dengan konten frekuensi tinggi juga mencerminkan bahwa aliran
fluida magmatik ke permukaan relatif lancar karena sistem sudah cenderung terbuka.

(3) Secara deformasi, dalam 1 (satu ) bulan terakhir Gunung Agung mengalami fluktuasi
berupa inflasi (penggembungan) maupun deflasi (pengempisan). Volume magma yang
bergerak di bawah permukaan teramati dalam jumlah yang kecil (kisaran 1 juta meter
kubik). Data deformasi masih mengindikasikan aktivitas Gunung Agung masih belum
stabil dan masih berpotensi untuk terjadi erupsi dengan skala relatif kecil.

(4) Secara penginderaan jauh, citra satelit termal mengindikasikan masih adanya hotspot
(titik panas) di kawah Gunung Agung terutama pada bagian lava yang berbatasan dengan
dinding kawah. Hal ini mengindikasikan masih adanya pergerakan fluida magma ke
permukaan namun dengan laju rendah. Kubah lava di dalam kawah masih relatif tidak
berubah volumenya dari periode erupsi 2017-2018 yaitu sekitar 25 juta m3 atau sekitar
40% dari volume kosong kawah.

Analisis:
(1) Gunung Agung masih berpotensi untuk terjadi erupsi baik secara eksplosif (Strombolian-
Vulkanian skala kecil) maupun secara efusif (aliran lava kedalam kawah).

(2) Evaluasi data pemantauan terkini mengindikasikan bahwa potensi untuk terjadinya
erupsi besar masih belum teramati.

(3) Aktivitas Gunung Agung masih berada dalam kondisi yang dinamis dan trend aktivitas
dapat berubah sewaktu-waktu.

Potensi bahaya:
Ancaman bahaya yang paling mungkin terjadi saat ini berupa lontaran batu/lava pijar di dalam
hingga keluar kawah, maupun hujan pasir dan abu yang arah penyebarannya bergantung
pada arah dan kecepatan angin. Lahar hujan dapat terjadi jika terjadi hujan dan membawa
material erupsi melalui aliran-aliran sungai yang berhulu di puncak Gunung Agung. Emisi gas
vulkanik beracun kemungkinan hanya berada di sekitar area kawah puncak.

Kesimpulan:
Aktivitas Gunung Agung masih belum stabil dan masih berpotensi terjadi erupsi sehingga
disimpulkan tingkat aktivitasnya tetap berada pada Level 3 (Siaga).

Rekomendasi:
(1) Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada,
tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan
Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 4 km dari
Kawah Puncak G. Agung. Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi
dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung
yang paling aktual/terbaru.

(2) Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu
di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran
lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih
terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai
yang berhulu di Gunung Agung.

(3) Mengingat masih adanya potensi ancaman bahaya abu vulkanik dan mengingat bahwa
abu vulkanik dapat mengakibatkan gangguan pernapasan akut (ISPA) pada manusia,
maka diharapkan seluruh masyarakat, utamanya yang bermukim di sekitar G. Agung agar
senantiasa menyiapkan masker penutup hidung dan mulut maupun pelindung mata
sebagai upaya antisipas ipotensi ancaman bahaya abu vulkanik.

(4) Pemerintah Daerah, BNPB dan instansi/lembaga terkait lainnya agar terus menjaga
komunikasi di antara pihak-pihak terkait mitigasi bencana letusan G. Agung sehingga
proses diseminasi informasi yang rutin dan cepat dapat terus terselenggara dengan baik.

(5) Seluruh pemangku kepentingan di sector penerbangan agar tetap mengikuti
perkembangan aktivitas G. Agung secara rutin karena data pengamatan dapat secara
cepat berubah sehingga upaya-upaya preventif untuk menjamin keselamatan udara
dapat dilakukan.

(6) Seluruh pihak agar tetap menjaga kondusivitas suasana di Pulau Bali, tidak menyebarkan
berita bohong (hoax) dan tidak terpancing isu-isu tentang erupsi G. Agung yang tidak jelas
sumbernya.

Sumber Data:
Pusat Vulkanologidan Mitigasi Bencana Geologi
Badan Geologi
Kementerian Energi dan SumberDaya Mineral