Rabu, 22 Mei 2019 | 00:09 WIB

LAPORAN KEBENCANAAN GEOLOGI 4 April 2019 (06:00 WIB)

  • Berita
  • Kamis, 4 April 2019 | 10:14 WIB
  • Reporter
LAPORAN KEBENCANAAN GEOLOGI 4 April 2019 (06:00 WIB)
*LAPORAN KEBENCANAAN GEOLOGI*
4 April 2019 (06:00 WIB)
*I. SUMMARY*
Hari ini, Kamis 4 April 2019, Bencana Geologi yang terjadi sbb:
*1. Gunungapi*
*Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)*
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 400 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur dan tenggara. 
Melalui rekaman seismograf pada 3 April 2019 tercatat:
- 7 kali gempa Hembusan 
- 1 kali gempa Tektonik Lokal
- 2 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:
- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km untuk sektor Utara - Barat, 4 km untuk sektor Selatan - Barat, dan dalam jarak 7 km untuk sektor Selatan - Tenggara, di dalam jarak 6 km untuk sektor Tenggara - Timur serta di dalam jarak 4 km untuk sektor Utara-Timur
- Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunung Sinabung agar mewaspadai potensi banjir lahar terutama pada saat terjadi hujan lebat.
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 meter di atas permukaan laut atau sekitar 1000 meter di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.
*Gunungapi Agung (Bali)*
Tingkat aktivitas Level III (Siaga. G. Agung (3142 m dpl) mengalami erupsi sejak 21 November 2017. Letusan terakhir tejadi pada tanggal 4 April 2019.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang dengan tinggi sekitar 30 meter dari puncak. Angin bertiup lemah ke arah barat.
Rekaman seismograf tanggal 3 April 2019 tercatat:
- 5 kali gempa Tektonik Jauh
Tanggal 4 April 2019 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:
-  1 kali gempa Letusan
- 18 kali gempa Hembusan
- 1 kali gempa Tektonik Lokal
- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:
- Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
- Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
- Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.
- Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.
VONA:
VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 4 April 2019 pukul 01:31 WITA, terkait erupsi dengan tinggi kolom abu ± 2.000 m di atas puncak. Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah barat. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 25 mm dan durasi ± 3 menit 37 detik.
*Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)*
Tingkat aktivitas Level III (SIAGA). Gunungapi Soputan (1809 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 25 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah tenggara dan selatan. 
Melalui rekaman seismograf tanggal 3 April 2019 tercatat:
- 35 kali gempa Guguran
- 1 kali gempa Hembusan
- 1 kali gempa Vulkanik Dalam
- 3 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:
Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 4 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 6,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman guguran lava dan awan panas guguran.
VONA:
VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8809 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7000 meter di atas puncak.
*Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara)*
Tingkat aktivitas Level III (SIAGA). G. Karangetang (1784 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas sedang hingga tebal tinggi sekitar 100  meter dari puncak. Angin bertiup lemah ke timur.
Melalui rekaman seismograf tanggal 3 April 2019 tercatat:
- 32 kali gempa Hybrid
- 5  kali gempa Hembusan 
- 3 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 2 kali gempa Vulkanik Dalam
- 2 kali gempa Tektonik Lokal
- 10 kali gempa Tektonik Jauh 
- Tremor menerus dengan amplitude 0.25 mm.
Rekomendasi:
Terhitung mulai tanggal 26 Maret 2019 pukul 12:00 WITA rekomendasi teknis adalah sebagai berikut:
- Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak mendekati, tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya yaitu radius 2.5 km dari puncak Kawah Dua (Kawah Utara) dan Kawah Utama (selatan) serta area perluasan sektoral dari Kawah Dua ke arah Barat Iaut-Utara sejauh 4 km, yaitu wilayah yang berada di antara Kali Batuare dan Kali Saboang.
- Masyarakat disekitar G. Karangetang dianjurkan agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi potensi bahaya gangguan saluran pernapasan jika terjadi hujan abu.
- Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G. Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke arah Timur.
*Gunungapi Anak Krakatau (Lampung)*
Tingkat aktivitas Level II/Waspada (sejak 25 Maret 2019). G. Anak Krakatau (156,9 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan diikuti rangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Februari 2019. Pada Maret 2019 erupsi masih terjadi tetapi dengan intensitas yang semakin menurun.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, tidak teramati asap kawah utama. Angin bertiup lemah ke arah timur laut.
Melalui seismograf tanggal  3 April 2019 tercatat:
- 1 kali gempa Letusan
- 5 kali gempa Low Frequency
- 16 kali gempa Hembusan
- 3 kali gempa Vulkanik Dangkal
- Tremor menerus dengan amplitude 1 – 5 mm, dominan 1 mm 
Rekomendasi:
Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 31 Maret 2019 pukul 00:56 WIB, terkait erupsi yang terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 52 mm dan lama gempa 276 detik, secara visual tidak teramati.
*Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)*
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal sekitar 50 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur dan timur laut. 
Melalui rekaman seismograf pada 3 April 2019 tercatat:
- 26 kali gempa Guguran
- 4 kali gempa Hembusan
- 1 kali gempa Low Frekuensi
- 21kali gempa Hybrid
- 3 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:
- Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.
- Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.
- Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi. 
- Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.
- Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No. 15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.
- Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 meter di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.
*Gunungapi Dukono (Halmahera)*
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal tinggi sekitar 200-300 meter dari puncak. Angin bertiup lemah ke arah tenggara dan selatan. 
Melalui rekaman seismograf pada 3 April 2019 tercatat:
- 2 kali gempa Letusan 
- Tremor Menerus dengan amplitudo 0,5 - 10 mm, dominan 2 mm.
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Maret 2019 pukul 11:32 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1829 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah timur.
*Gunungapi Ibu (Halmahera)*
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 200-800 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah selatan dan timur. 
Melalui seismograf tanggal 3 April 2019 tercatat:
- 129 kali gempa Letusan
- 1 kali gempa Low Frekuensi
- 67 kali gempa Hembusan
- 15 kali gempa Guguran
- 62 kali gempa Tremor Harmonik
- 6 kali gempa Tornillo
- 1 kali gempa Tektonik Jauh
- Tremor menerus terekam dengan amplitude 5 – 10 mm (dominan 10 mm)
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA:
VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 06 Februari 2019 pukul 19:02 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1925 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah selatan.
*Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)*
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018. Letusannya hampir selalu bersifat magmatik.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut, teramati asap kawah utama dengan intensitas tipis hingga sedang tinggi 10 – 25 meter dari puncak.  Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah tenggara dan selatan.
Melalui rekaman seismograf tanggal 3 April 2019 tercatat:
- 3 kali gempa Hembusan
- 3 kali gempa Vulkanik Dalam
- 5 kali gempa Tektonik Lokal
- 16 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari kawah puncak G. Gamalama.
Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m di atas puncak.
*Gunungapi Kerinci (Jambi)*
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Kerinci (3805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, teramati asap kawah utama bertekanan kuat berwarna putih dengan intensitas tebal tinggi sekitar 200-500 meter dari atas puncak. Angin bertiup sedang ke arah timur laut.
Melalui rekaman seismograf tanggal 3 April 2019 tercatat:
- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 150 kali gempa Hembusan
- Tremor Menerus dengan amplitudo 0,5 - 2 mm, dominan 1 mm.
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Kerinci dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 3 km dari kawah puncak.
Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Kerinci agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 30 Maret 2019 pukul 15:32 WIB, terkait erupsi dan hembusan asap kawah dengan tinggi sekitar 4405 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m dari puncak. Kolom asap bergerak ke arah timur laut.
*Gunungapi Bromo (Jawa Timur)*
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Bromo (2329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi maksimum 600 meter dari puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur dan barat.
Melalui rekaman seismograf tanggal 3 April 2019 tercatat:
- 1 kali gempa Vulkanik Dalam
- Tremor Menerus dengan amplitudo 0,5 - 20 mm, dominan 2 mm.
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Bromo dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1 km dari kawah puncak.
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Maret 2019 pukul 17:43 WIB, terkait letusan dan hembusan asap kawah menerus dengan tinggi sekitar 3829 m di atas permukaan laut atau sekitar 1500 m di atas puncak. Kolom asap bergerak ke arah utara dan timur laut.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.
*2. Gerakan Tanah*
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan  April  2019 dibandingkan Maret  2019, potensinya relatif sama tingginya    utamanya wilyah indonesia bagian Timur, namun terjadi penurunan potensinya meliputi wilayah   Wilayah Sumatera bagian Timur,Jawa , Bali . dan Nusantenggara Barat.
Gerakan tanah terakhir terjadi :
1. Kabupaten Mojokerto, Provinsi  Jawa Timur
2. Kota Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara
3. Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat
4. Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi tanah pelapukan yang labil, lereng yang curam dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi di sekitar daerah bencana. 
Dampak : Gerakan tanah / tanah longsor menyebabkan jalur wisata tersebut selama sekitar 2 jam terputus di Kabupaten Mojokerto, Provinsi  Jawa Timur;  10 unit rumah di rusak  di Kota Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara;  dua rumah tertimbun longsor di Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat; di  Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat;
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.
*II. DETAIL*
*1. Gunungapi*
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini:
a. 1 (satu) gunungapi status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung (Sumut) sejak 2 Juni 2015.
b. 3 gunungapi status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung (Bali) sejak 10 Februari 2018, G. Soputan (Sulut) sejak 3 Oktober 2018, dan G. Karangetang (Sulut) sejak 20 Desember 2018.
c. 16 gunungapi status WASPADA/Level II (Merapi, Marapi, Kerinci, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Lokon, Gamalama, Gamkonora, Ibu, Dukono, Ili Lewotolok, Banda Api, dan G. Anak Krakatau).
d. Sisanya 49 gunungapi status NORMAL/Level I.
*Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)*
Gunungapi Sinabung Sumatera Utara merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsinya berlangsung sejak tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 400 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur dan tenggara. 
Melalui rekaman seismograf pada 3 April 2019 tercatat:
- 7 kali gempa Hembusan 
- 1 kali gempa Tektonik Lokal
- 2 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Penduduk yang bermukim disekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan terhadap potensi lahar pada musim hujan.
*Gunungapi Agung (Bali)*
Gunungapi Agung di Bali kembali memasuki fase erupsi mulai 21 November 2017 hingga saat ini setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Statusnya saat ini adalah Level III (Siaga).
Erupsi Gunung Agung mencapai puncaknya pada periode 25-29 November 2017. Erupsi Gunung Agung selain bersifat eksplosif juga disertai efusi lava yang sangat cepat ke dalam kawah sehingga volume lava di dalam kawah mencapai 23 juta m3 pada bulan Desember 2017. Pada tahun 2018-2019 erupsi Gunung Agung masih terus terjadi namun dengan jangkauan lontaran material erupsi dan frekuensi kejadian erupsi mengalami penurunan.
Erupsi cukup signifikan terjadi pada 28-29 Juni 2018 yaitu berupa efusi lava mencapai 4 juta m3, sehingga volume total lava di dalam kawah saat ini sekitar 27 juta m3 (kurang dari setengah volume kosong kawah). Erupsi Strombolian cukup signifikan terjadi pada 1 Juli 2018 dimana untuk pertama kalinya terdengar suara ledakan dalam erupsi Gunung Agung. Namun demikian lontaran material masih berada di dalam zona bahaya yang telah ditetapkan yaitu radius 4 km.
Pasca Gempa Lombok 29 Juli 2018, fase erupsi G. Agung sempat terhenti. Erupsi Gunung Agung kembali terjadi mulai 30 Desember 2018 hingga saat ini dengan tingkat eksplosivitas relatif rendah dan jangkauan lontara masih berada di dalam radius 4 km.
Erupsi terakhir terjadi pada 4 April 2019 pkl 01: 31 WITA dengan ketinggian kolom erupsi sekitar 2000 meter di atas puncak. Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah barat. Gemuruh erupsi terdengar hingga Pos PGA Rendang.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang dengan tinggi sekitar 30 meter dari puncak. Angin bertiup lemah ke arah barat.
Rekaman seismograf tanggal 3 April 2019 tercatat:
- 5 kali gempa Tektonik Jauh
Tanggal 4 April 2019 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:
-  1 kali gempa Letusan
- 18 kali gempa Hembusan
-  1 kali gempa Tektonik Lokal
- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Agung.
*Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)*
Gunungapi Soputan merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Sulawesi Utara yang berada di Kabupaten Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara. Statusnya saat ini adalah Level III (Siaga).
Data pemantauan G. Soputan dari periode Agustus hingga awal Oktober 2018 menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Pada tanggal 3 Oktober 2016 pukul 01:00 WITA tingkat aktivitas G. Soputan dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga). Pada hari Sabtu 15 Desember 2018 sore seismograf merekam peningkatan aktivitas kegempaan G. Soputan. Peningkatan kegempaan terus terjadi dan hari minggu tgl 16 Desember 2018 pada pukul 01:02 WITA terekam gempa letusan dengan amplitudo maksimum 40 mm (overscale) dan disertai suara gemuruh yang terdengar dengan intensitas lemah-sedang dari Pos Pengamatan Gunungapi Soputan yang berada Silian Raya (sekitar 10 km di sebelah Baratdaya G. Soputan). Ketinggian kolom erupsi tidak teramati karena tertutup kabut. Pada hari Minggu 16 Desember 2018 sekitar pukul 03:09 WITA teramati sinar api dari puncak G. Soputan dan ketinggian kolom abu teramati berkisar 3000-5000 m di atas puncak. Pada saat ini aktivitas G. Soputan masih belum stabil.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 25 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah tenggara dan selatan. 
Melalui rekaman seismograf tanggal 3 April 2019 tercatat:
- 35 kali gempa Guguran
- 1 kali gempa Hembusan
- 1 kali gempa Vulkanik Dalam
- 3 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Soputan terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Soputan.
*Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara)*
Gunungapi Karangetang di Pulau Siau, Kabupaten Sitaro, Sulawesi Utara adalah salah satu gunungapi di Indonesia yang paling sering erupsi. Erupsi terakhirnya terjadi pada tahun 2016. Setelah 2 tahun istirahat, G. Karangetang kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik sejak akhir bulan November 2018. Peningkatan signifikan aktivitas kegempaan dengan konten frekuensi tinggi (vulkanik dalam maupun dangkal) teramati meningkat secara cepat pada 22-23 November 2018 namun menurun drastis pada 24 November 2018. Penurunan tajam kegempaan diikuti oleh terekamnya citra panas (Hot Spot) oleh satelit pada 25 November 2018 pukul 01:10 WITA, sehingga dapat disimpulkan bahwa penurunan tajam kegempaan frekuensi tinggi mengindikasikan bahwa magma telah sampai ke permukaan kawah. Pasca penurunan kegempaan frekuensi tinggi, transisi terjadi dimana kegempaan frekuensi rendah berupa tremor harmonik maupun kegempaan akibat aktivitas permukaan seperti hembusan dan guguran mengalami peningkatan. 
Berdasarkan hasil analisis data pemantauan maka tingkat aktivitas G. Karangetang dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) terhitung mulai tanggal 20 Desember 2018 pukul 18:00 WITA.
Pengamatan visual terkini menunjukkan bahwa aktivitas G. Karangetang saat ini berpusat di Kawah 2 (kawah Utara) dimana area landaan guguran lava utamanya melewati Kali Malebuhe di lereng Baratlaut-Utara dan material lava telah mencapai laut (lk. 3.5 km dari puncak). Pemantauan terkini menunjukkan juga bahwa aktivitas di Kawah Utama (kawah Selatan) mengalami peningkatan dimana Awan Panas guguran teramati satu kali meluncur dari Kawah Utama sejauh 1500 m ke arah Kali Beha Barat dan Kali Batang pada 22 Maret 2019 sekitar pukul 10:13 WITA. Namun demikian, jangkauan guguran masih berada di dalam zona bahaya yang telah ditetapkan. Intensitas guguran dari Kawah Dua mengalami penurunan sehingga zona bahaya dipersempit pada 26 Maret 2019, dimana penduduk yang perlu dievakuasi menjadi tinggal 5 rumah dari sebelumnya mencapai puluhan rumah.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas sedang hingga tebal tinggi sekitar 100  meter dari puncak. Angin bertiup lemah ke timur.
Melalui rekaman seismograf tanggal 3 April 2019 tercatat:
- 32 kali gempa Hybrid
- 5  kali gempa Hembusan 
- 3 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 2 kali gempa Vulkanik Dalam
- 2 kali gempa Tektonik Lokal
- 10 kali gempa Tektonik Jauh 
- Tremor menerus dengan amplitude 0.25 mm.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Karangetang terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Sitaro tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Karangetang.
*Gunungapi Anak Krakatau (Lampung)*
Gunung Anak Krakatau (156,9 m dpl) secara administratif termasuk kedalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, sejak 18 Juni 2018 peningkatan aktivitas vulkanik diikuti rangkaian erupsi pada September 2018, Oktober 2018, Desember 2018, dan Januari - Februari 2019. Intensitas erupsi tertinggi terjadi pada Desember 2018 - Januari 2019, berupa letusan menerus bertipe strombolian, diselingi letusan tipe Surtseyan pada 27 Desember 2018 dan tingkat aktivitas dinaikan menjadi Level III (SIAGA). Hingga Maret 2019 erupsi masih terjadi tetapi intensitas erupsi cenderung menurun. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (WASPADA) sejak 25 Maret 2019 Pkl 12:00 WIB.
Dalam rangka kesiapsiagaan sejak tanggal 18 Juni 2018 sudah dikoordinaskan dan diinformasikan kepada pihak BPBD Prov. Banten, BPBD Prov. Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat kepulau Anak Krakatau.
Pemantauan secara intensif dan kontinyu tetap dilakukan guna memantau aktivitas G. Anak Krakatau. Tingkat aktivitas G. Anak Krakatau dapat berubah sewaktu-waktu baik penurunan ataupun kenaikan status, dan akan disesuaikan sesuai dengan perubahan tingkat kegiatan dan ancamannya.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, tidak teramati asap kawah utama. Angin bertiup lemah ke arah timur laut.
Melalui seismograf tanggal  3 April 2019 tercatat:
- 1 kali gempa Letusan
- 5 kali gempa Low Frequency
- 16 kali gempa Hembusan
- 3 kali gempa Vulkanik Dangkal
- Tremor menerus dengan amplitude 1 – 5 mm, dominan 1 mm 
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Banten maupun BPBD Provinsi Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat kepulau Anak Krakatau dalam radius 2 km dari kawah.
*Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)*
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB status G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal sekitar 50 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur dan timur laut. 
Melalui rekaman seismograf pada 3 April 2019 tercatat:
- 26 kali gempa Guguran
- 4 kali gempa Hembusan
- 1 kali gempa Low Frekuensi
- 21kali gempa Hybrid
- 3 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Merapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Merapi.
*Gunungapi Dukono (Halmahera)*
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal tinggi sekitar 200-300 meter dari puncak. Angin bertiup lemah ke arah tenggara dan selatan. 
Melalui rekaman seismograf pada 3 April 2019 tercatat:
- 2 kali gempa Letusan 
- Tremor Menerus dengan amplitudo 0,5 - 10 mm, dominan 2 mm.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.
*Gunungapi Ibu (Halmahera)*
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 200-800 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah selatan dan timur. 
Melalui seismograf tanggal 3 April 2019 tercatat:
- 129 kali gempa Letusan
- 1 kali gempa Low Frekuensi
- 67 kali gempa Hembusan
- 15 kali gempa Guguran
- 62 kali gempa Tremor Harmonik
- 6 kali gempa Tornillo
- 1 kali gempa Tektonik Jauh
- Tremor menerus terekam dengan amplitude 5 – 10 mm (dominan 10 mm)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.
*Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)*
Gunungapi Gamalama yang memiliki ketinggian 1715 m dpl, secara administratif terletak di Kota Ternate (Pulau Ternate), Provinsi Maluku Utara.
Letusan G. Gamalama pada umumnya berlangsung di Kawah Utama dan hampir selalu magmatik. Kecuali letusan yang terjadi dalam tahun 1907 yang mengambil tempat di lereng timut (letusan samping) dan menghasilkan leleran lava (Batu Angus) hingga ke pantai. Letusan 1980 juga menghasilkan Kawah Baru, lokasinya sekitar 175 m ke arah timur dari Kawah Utama.
Gunungapi Gamalama merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif sering hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter diatas puncak atau 1965 m diatas permukaan laut.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut, teramati asap kawah utama dengan intensitas tipis hingga sedang tinggi 10 – 25 meter dari puncak.  Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah tenggara dan selatan.
Melalui rekaman seismograf tanggal 3 April 2019 tercatat:
- 3 kali gempa Hembusan
- 3 kali gempa Vulkanik Dalam
- 5 kali gempa Tektonik Lokal
- 16 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Gamalama terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Gamalama.
*Gunungapi Kerinci (Jambi)*
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Kerinci (3805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, teramati asap kawah utama bertekanan kuat berwarna putih dengan intensitas tebal tinggi sekitar 200-500 meter dari atas puncak. Angin bertiup sedang ke arah timur laut.
Melalui rekaman seismograf tanggal 3 April 2019 tercatat:
- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 150 kali gempa Hembusan
- Tremor Menerus dengan amplitudo 0,5 - 2 mm, dominan 1 mm.
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Kerinci dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 3 km dari kawah puncak.
Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Kerinci agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.
*Gunungapi Bromo (Jawa Timur)*
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Bromo (2329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi maksimum 600 meter dari puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur dan barat.
Melalui rekaman seismograf tanggal 3 April 2019 tercatat:
- 1 kali gempa Vulkanik Dalam
- Tremor Menerus dengan amplitudo 0,5 - 20 mm, dominan 2 mm.
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Bromo dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1 km dari kawah puncak.
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Bromo dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1 km dari kawah puncak.
Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:
- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
- BMKG,
- Air Nav,
- Air Traffic Control, Airlines,
- VAAC Darwin,
- VAAC Tokyo,
- dll.
VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 meter di atas permukaan laut atau sekitar 1000 meter di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.
(2) G. Agung, Bali
VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 4 April 2019 pukul 01:31 WITA, terkait erupsi dengan tinggi kolom abu ± 2.000 m di atas puncak. Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah barat. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 25 mm dan durasi ± 3 menit 37 detik.
(3) G. Soputan, Sulawesi Utara
VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8809 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7000 meter di atas puncak.
(4) G. Karangetang, Sulawesi Utara
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke arah Timur.
(5) G. Anak Krakatau, Lampung
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 31 Maret 2019 pukul 00:56 WIB, terkait erupsi yang terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 52 mm dan lama gempa 276 detik, secara visual tidak teramati.
(6) G. Merapi, Jawa Tengah ñ Yogyakarta
VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 meter di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.
(7) G. Dukono, Maluku Utara
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Maret 2019 pukul 11:32 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1829 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah timur.
(8) G. Ibu, Maluku Utara
VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 06 Februari 2019 pukul 19:02 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1925 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah selatan.
(9) G. Gamalama, Maluku Utara
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m di atas puncak.
(10) G. Kerinci, Jambi
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 30 Maret 2019 pukul 15:32 WIB, terkait erupsi dan hembusan asap kawah dengan tinggi sekitar 4405 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom asap bergerak ke arah timur laut.
(11) G. Bromo, JawaTimur
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Maret 2019 pukul 17:43 WIB, terkait letusan dan hembusan asap kawah menerus dengan tinggi sekitar 3829 m di atas permukaan laut atau sekitar 1500 m di atas puncak. Kolom asap bergerak ke arah utara dan timur laut.
Kegiatan gunungapi lain yang di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.
*2. Gerakan Tanah*
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan  April  2019 dibandingkan Maret  2019 ,   potensinya relatif sama tingginya  utamanya wilayah Indonesia bagian Timur  .Wilayah Indonesia yang  secara umum tetap  perlu diwaspadai  utamanya di jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai antara lain  wilayah Sumatera bagian barat meliputi wilaya Aceh hingga Lampung, ,   Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat , Sulawesi Utara,  Sulawesi  Tengah  dan Tenggara , Maluku , NTT dan wilayah Papua.
Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu   terjadi di:
1. Kabupaten Mojokerto, Provinsi  Jawa Timur*, 2. Kota Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara*, 3. Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat*, 4. Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat*, 5. Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur, 6. Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat, 7.Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara, 8.Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat, 9. Kabupaten Kepulauan Sangihe, Provinsi Sulawesi Utara, 10. Kabupaten Gayo Lues , Provinsi Aceh, 11. Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur, 12.Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, 13.Kota Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara, 14.Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah, 15.Kabupaten Bangli, Provinsi Bali, 16.Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah, 17.Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat, 18.Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah, 19.Kabupaten Empat Lawang, Provinsi Sumatera Selatan, 20.Kabupaten Dairi, Provinsi Sumatera Utara, 21.Kabupaten Pasaman Barat, Provinsi Sumatera Barat.
*Gerakan tanah terakhir terjadi terakhir dalam satu minggu di :
1. Kabupaten Mojokerto, Provinsi Jawa Timur
 Longsor terjadi di kawasan Gajah Mungkur, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Selasa (2/4/2019) sekitar pukul 13.30 WIB. Hujan deras siang tadi membuat tebing setinggi 15 meter di jalur alternatif Mojokerto-Batu, terputus akibat longsor. Material longsor berupa batu dan tanah memutus jalur wisata tersebut selama sekitar 2 jam.
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi tanah pelapukan yang labil, lereng yang curam dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi di sekitar daerah bencana. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.
2. Kota Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara
Longsor terjadi di beberapa lokasi di Kelurahan Karang Anyar, Kecamatan Tarakan Barat, Kota Tarakan, Kalimantan Utara, Rabu (3/4/2019) pagi. Sedikitnya 10 unit rumah  rusak akibat longsor yang terjadi pada enam titik longsor. Longsor sendiri terjadi pagi setelah hujan mengguyur wilayah tersebut sejak subuh.
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi tanah pelapukan yang labil dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi di sekitar daerah bencana. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.
3. Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat
Longsor terjadi di Kampung Ciseuseup, Desa Rawabogo, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Selasa (2/4/2019) pukul 03.00 WIB. Hujan deras yang mengguyur sejak Selasa (2/4/2019) membuat sebuah tebing di Kampung Ciseuseup, Desa Rawabogo, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, ambrol. Akibatnya dua rumah yang berada tepat di bawah tebing tersebut tertimbun longsor. Longsor di Kampung tersebut terjadi karena tanah di atas tebing tidak kuat menahan rumpun bambu. Saat hujan deras, terjadi pergerakan tanah dan rumpun bambu menimpa dua rumah di bawahnya.
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi tanah pelapukan yang labil, lereng yang curam dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi di sekitar daerah bencana. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.
4. Kabupaten Agam, Provinsi  Sumatera Barat
Longsor terjadi di Jorong Palupuh, Nagari Pasia Laweh, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Selasa (2/4/2019) sore. Longsor mengakibatkan tiga rumah warga terkena material longsor. Selain menimpa rumah warga, material longsor juga menutupi akses jalan di kampuang Tabuah-tabuah, Nagari Pasia Laweh sepanjang sekitar 50 meter, dengan ketinggian material antara 30-50 cm. Namun akses jalan masih bisa dilewati kendaraan dengan ekstra hati-hati.
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi tanah pelapukan yang labil dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi di sekitar daerah bencana. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.
Rekomendasi:
Masyarakat yang berada/tinggal dekat dari lokasi bencana atau lereng yang terjal agar selalu meningkatkan kewaspadaan terutama pada saat dan setelah hujan deras yang berlangsung lama karena masih berpotensi longsor susulan;
Berhati-hati ketika melakukan pembersihan material longsoran karena dikhawatirkan adanya longsor susulan.
Melakukan pelandaian lereng dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan tembok penahan lereng/turap dengan fondasi yang cukup kuat dan mengikuti kaidah – kaidah geotek
Menjaga fungsi lahan dengan menanami vegetasi berakar dalam dan kuat serta  menata aliran air permukaan pada tebing;
Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan.
Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.
PVMBG, BADAN GEOLOGI, KESDM; 4 April 2019
Kasbani