Rabu, 22 Mei 2019 | 00:08 WIB

LAPORAN KEBENCANAAN GEOLOGI 2 April 2019 (06:00 WIB)

  • Berita
  • Selasa, 2 April 2019 | 11:02 WIB
  • Reporter
LAPORAN KEBENCANAAN GEOLOGI 2 April 2019 (06:00 WIB)
*LAPORAN KEBENCANAAN GEOLOGI*
*2 April 2019 (06:00 WIB)*
*I. SUMMARY*
Hari ini, Selasa 2 April 2019, Bencana Geologi yang terjadi sbb:
*1. Gunungapi*
*Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)*
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal tinggi sekitar 200 meter dari puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur dan barat.
Melalui rekaman seismograf pada 1 April 2019 tercatat:
- 1 kali gempa Tornillo
- 2 kali gempa Low Frekuensi
- 3 kali gempa Tektonik Lokal
- 22 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:
- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km untuk sektor Utara - Barat, 4 km untuk sektor Selatan - Barat, dan dalam jarak 7 km untuk sektor Selatan - Tenggara, di dalam jarak 6 km untuk sektor Tenggara - Timur serta di dalam jarak 4 km untuk sektor Utara-Timur
- Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunung Sinabung agar mewaspadai potensi banjir lahar terutama pada saat terjadi hujan lebat.
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 meter di atas permukaan laut atau sekitar 1000 meter di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.
*Gunungapi Agung (Bali)*
Tingkat aktivitas Level III (Siaga. G. Agung (3142 m dpl) mengalami erupsi sejak 21 November 2017. Letusan terakhir tejadi pada tanggal 28 Maret 2019.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 200 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat.
Rekaman seismograf tanggal 1 April 2019 tercatat:
- 2 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 1 kali gempa Tektonik Lokal
- 2 kali gempa Tektonik Jauh
Tanggal 2 April 2019 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:
- 2 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:
- Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
- Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
- Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.
- Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.
VONA:
VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Maret 2019 pukul 18:25 WITA, terkait erupsi dengan tinggi kolom abu tidak teramati karena tertutup kabut. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 25 mm dan durasi 2 menit 32 detik. 
*Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)*
Tingkat aktivitas Level III (SIAGA). Gunungapi Soputan (1809 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 50 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah tenggara dan barat.
Melalui rekaman seismograf tanggal 1 April 2019 tercatat:
- 17 kali gempa Guguran
- 6 kali gempa Hembusan
- 5 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:
Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 4 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 6,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman guguran lava dan awan panas guguran.
VONA:
VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8809 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7000 meter di atas puncak.
*Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara)*
Tingkat aktivitas Level III (SIAGA). G. Karangetang (1784 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal tinggi sekitar 150 meter dari puncak. Angin bertiup lemah  ke arah tenggara. 
Melalui rekaman seismograf tanggal 1 April 2019 tercatat:
- 11 kali gempa Guguran
- 12 kali gempa Hybrid
- 16 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 6 kali gempa Hembusan
- 8 kali gempa Tektonik Jauh 
Rekomendasi:
Terhitung mulai tanggal 26 Maret 2019 pukul 12:00 WITA rekomendasi teknis adalah sebagai berikut:
- Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak mendekati, tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya yaitu radius 2.5 km dari puncak Kawah Dua (Kawah Utara) dan Kawah Utama (selatan) serta area perluasan sektoral dari Kawah Dua ke arah Barat Iaut-Utara sejauh 4 km, yaitu wilayah yang berada di antara Kali Batuare dan Kali Saboang.
- Masyarakat disekitar G. Karangetang dianjurkan agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi potensi bahaya gangguan saluran pernapasan jika terjadi hujan abu.
- Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G. Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke arah Timur.
*Gunungapi Anak Krakatau (Lampung)*
Tingkat aktivitas Level II/Waspada (sejak 25 Maret 2019). G. Anak Krakatau (156,9 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan diikuti rangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Februari 2019. Pada Maret 2019 erupsi masih terjadi tetapi dengan intensitas yang semakin menurun.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, tidak teramati asap kawah utama. Angin bertiup lemah ke utara dan arah timur laut.
Melalui seismograf tanggal 1 April 2019 tercatat:
- 2 kali gempa Low Frequency
- 15 kali gempa Hembusan
- 3 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 1 kali gempa Tektonik Jauh 
Rekomendasi:
Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 31 Maret 2019 pukul 00:56 WIB, terkait erupsi yang terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 52 mm dan lama gempa 276 detik, secara visual tidak teramati.
*Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)*
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal sekitar 150 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan barat. 
Melalui rekaman seismograf pada 1 April 2019 tercatat:
- 41 kali gempa Guguran
- 1 kali gempa Low Frequency
- 2 kali gempa Hybrid
- 5 kali gempa Hembusan
Rekomendasi:
- Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.
- Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.
- Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi. 
- Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.
- Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No. 15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.
- Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 meter di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.
*Gunungapi Dukono (Halmahera)*
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal tinggi sekitar 100-300 meter dari puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur dan tenggara. 
Melalui rekaman seismograf pada 1 April 2019 tercatat:
- 5 kali gempa Tektonik Jauh
- Tremor Menerus dengan amplitudo 0,5 - 4 mm, dominan 0,5 mm.
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Maret 2019 pukul 11:32 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1829 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah timur.
*Gunungapi Ibu (Halmahera)*
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 200-800 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah selatan dan timur. 
Melalui seismograf tanggal 1 April 2019 tercatat:
- 99 kali gempa Letusan
- 58 kali gempa Hembusan
- 11 kali gempa Guguran
- 68 kali gempa Tremor Harmonik
- 1 kali gempa Tornillo
- 2 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA:
VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 06 Februari 2019 pukul 19:02 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1925 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah selatan.
*Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)*
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018. Letusannya hampir selalu bersifat magmatik.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut, asap kawah utama teramati berwarna putih dengan intensitas tipis dan tinggi 5-10 meter di atas puncak kawah. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah tenggara dan selatan.
Melalui rekaman seismograf tanggal 1 April 2019 tercatat:
- 1 kali gempa Tremor Harmonik
- 1 kali gempa Vulkanik Dalam
- 4 kali gempa Tektonik Lokal
- 15 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari kawah puncak G. Gamalama.
Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m di atas puncak.
*Gunungapi Kerinci (Jambi)*
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Kerinci (3805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, teramati asap kawah utama berwarna putih hingga coklat dengan intensitas tebal tinggi sekitar 150-600 meter dari puncak. Teramati letusan dengan tinggi 600 meter dan warna asap kelabu. Angin bertiup sedang ke arah timur laut.
Melalui rekaman seismograf tanggal 1 April 2019 tercatat:
- 3 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 219 kali gempa Hembusan
- Tremor Menerus dengan amplitudo 0,5 - 2 mm, dominan 1 mm.
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Kerinci dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 3 km dari kawah puncak.
Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Kerinci agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 30 Maret 2019 pukul 15:32 WIB, terkait erupsi dan hembusan asap kawah dengan tinggi sekitar 4405 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom asap bergerak ke arah timur laut.
*Gunungapi Bromo (Jawa Timur)*
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Bromo (2329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 50-700 meter dari puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur dan barat.
Melalui rekaman seismograf tanggal 1 April 2019 tercatat:
- 1 kali gempa Vulkanik Dalam
- Tremor Menerus dengan amplitudo 0,5 - 25 mm, dominan 2 mm.
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Bromo dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1 km dari kawah puncak.
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Maret 2019 pukul 17:43 WIB, terkait letusan dan hembusan asap kawah menerus dengan tinggi sekitar 3829 m di atas permukaan laut atau sekitar 1500 m di atas puncak. Kolom asap bergerak ke arah utara dan timur laut.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.
*2. Gerakan Tanah*
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan  April  2019 dibandingkan Maret  2019, potensinya relatif sama tingginya    utamanya wilyah indonesia bagian Timur, namun terjadi penurunan potensinya meliputi wilayah   Wilayah Sumatera bagian Timur,Jawa , Bali . dan Nusantenggara Barat.
Gerakan tanah terakhir terjadi :
1. Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara
2. Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi geologi yaitu litologi batuan dan terdapat saluran air yang debitnya sangat besar sehingga mengikis tebing jalan. Selain itu Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama memicu terjadinya gerakan tanah. 
Dampak : Gerakan tanah / tanah longsor menyebabkan akses jalan terhambat di Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara; tembok roboh.di Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.
*3. Gempa Bumi*
*1) Gempa bumi di Perairan Baratlaut Kota Sabang, Aceh* 
Informasi Gempa Bumi:
Gempa bumi yang tercatat di barat laut kota Sabang, Provinsi Aceh pada hari Senin, 1 April 2019 yaitu sebanyak 16 kali (USGS) Kejadian gempa bumi terjadi sejak pukul 06:32 WIB hingga pukul 08:23 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, terdapat 2 kejadian gempa bumi, yaitu yang pertama pada pukul 06:46 WIB terletak pada koordinat 95,09° BT dan 7,63° LU, dengan magnitudo M 5,2 pada kedalaman 10 km. Gempa kedua pukul 08:23 WIB terletak pada koordinat 94,35° BT dan 7,67° LU, dengan magnitudo M5,4 pada kedalaman 10 km.
 
Kondisi geologi daerah terkena gempa bumi:
Pusat gempa bumi berada di Perairan Utara Pulau Sabang. Kegempaan di Pulau Sumatera sangat dipengaruhi oleh penunjaman Sunda di sebelah Barat Pulau Sumatera dan Sesar Besar Sumatera. Secara litologi Pulau Sabang dan Pantai Aceh bagaimana utara tersusun oleh endapan vulkanik Kuarter dan batu gamping yang berumur Tersier. Pada batuan yang berumur Kuarter dan terlapukan guncangan gempa bumi akan dirasakan kuat.
Penyebab gempa bumi:
Berdasarkan lokasi pusat gempa bumi dan kedalamannya, kejadian gempa bumi ini diperkirakan disebabkan aktivitas sesar aktif di perairan utara Pulau Sabang.
Dampak gempa bumi:
Gempa bumi ini tidak memicu tsunami. Belum ada informasi  terkait intensitas guncangan  serta kerusakan dan korban yang diakibatkan gempa bumi ini.
*2) Gempa bumi di baratdaya Maluku Tenggara, Maluku* 
Informasi Gempa bumi:
Gempa bumi terjadi pada hari Senin, 1 April 2019, pukul 21:25 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 131,46° BT dan 5,93° LS, dengan magnitudo 5,1 pada kedalaman 76 km, berjarak 144 km barat daya Maluku Tenggara, Provinsi Maluku. Berdasarkan USGS, Amerika, pusat gempa bumi berada pada koordinat 131,652° BT dan 6,029° LS, dengan magnitudo M 4,6 pada kedalaman 74,3 km. 
Kondisi geologi daerah terkena gempa bumi:
Pusat gempa bumi berada di laut. Daerah yang terdekat dengan pusat gempabumi yaitu Kepulauan Tanimbar dan Kepulauan Kai, sebagian besar tersusun oleh endapan Aluvium berumur Kuarter, dan endapan sedimen Tersier. Pada daerah yang disusun oleh endapan aluvium, dan endapan sedimen Tersier yang terlapukkan diperkirakan goncangan gempabumi akan lebih kuat karena batuan ini bersifat urai, lepas, belum kompak dan memperkuat efek getaran, sehingga rentan terhadap goncangan gempa bumi.
Dampak gempa bumi:
Belum ada laporan mengenai adanya korban jiwa dan kerusakan bangunan.
Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami.
Penyebab gempa bumi:
Berdasarkan kedalaman pusatnya, gempa bumi ini diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia di Laut Banda.
Rekomendasi:
(1) Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.
(2) Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan, yang diperkirakan berkekuatan lebih kecil.
*II. DETAIL*
*1. Gunungapi*
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini:
a. 1 (satu) gunungapi status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung (Sumut) sejak 2 Juni 2015.
b. 3 gunungapi status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung (Bali) sejak 10 Februari 2018, G. Soputan (Sulut) sejak 3 Oktober 2018, dan G. Karangetang (Sulut) sejak 20 Desember 2018.
c. 16 gunungapi status WASPADA/Level II (Merapi, Marapi, Kerinci, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Lokon, Gamalama, Gamkonora, Ibu, Dukono, Ili Lewotolok, Banda Api, dan G. Anak Krakatau).
d. Sisanya 49 gunungapi status NORMAL/Level I.
*Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)*
Gunungapi Sinabung Sumatera Utara merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsinya berlangsung sejak tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal tinggi sekitar 200 meter dari puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur dan barat.
Melalui rekaman seismograf pada 1 April 2019 tercatat:
- 1 kali gempa Tornillo
- 2 kali gempa Low Frekuensi
- 3 kali gempa Tektonik Lokal
- 22 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Penduduk yang bermukim disekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan terhadap potensi lahar pada musim hujan.
*Gunungapi Agung (Bali)*
Gunungapi Agung di Bali kembali memasuki fase erupsi mulai 21 November 2017 hingga saat ini setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Statusnya saat ini adalah Level III (Siaga).
Erupsi Gunung Agung mencapai puncaknya pada periode 25-29 November 2017. Erupsi Gunung Agung selain bersifat eksplosif juga disertai efusi lava yang sangat cepat ke dalam kawah sehingga volume lava di dalam kawah mencapai 23 juta m3 pada bulan Desember 2017. Pada tahun 2018-2019 erupsi Gunung Agung masih terus terjadi namun dengan jangkauan lontaran material erupsi dan frekuensi kejadian erupsi mengalami penurunan.
Erupsi cukup signifikan terjadi pada 28-29 Juni 2018 yaitu berupa efusi lava mencapai 4 juta m3, sehingga volume total lava di dalam kawah saat ini sekitar 27 juta m3 (kurang dari setengah volume kosong kawah). Erupsi Strombolian cukup signifikan terjadi pada 1 Juli 2018 dimana untuk pertama kalinya terdengar suara ledakan dalam erupsi Gunung Agung. Namun demikian lontaran material masih berada di dalam zona bahaya yang telah ditetapkan yaitu radius 4 km.
Pasca Gempa Lombok 29 Juli 2018, fase erupsi G. Agung sempat terhenti. Erupsi Gunung Agung kembali terjadi mulai 30 Desember 2018 hingga saat ini dengan tingkat eksplosivitas relatif rendah dan jangkauan lontara masih berada di dalam radius 4 km.
Erupsi terakhir terjadi pada 28 Maret 2019 pkl 18:25 WITA dengan ketinggian kolom erupsi sekitar 2000 meter di atas puncak disertai suara dentuman yang terdengar hingga Pos PGA yang berada 12 km di sebelah Selatan-Baratdaya Puncak Gunung Agung.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 200 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat.
Rekaman seismograf tanggal 1 April 2019 tercatat:
- 2 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 1 kali gempa Tektonik Lokal
- 2 kali gempa Tektonik Jauh
Tanggal 2 April 2019 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:
- 2 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Agung.
*Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)*
Gunungapi Soputan merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Sulawesi Utara yang berada di Kabupaten Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara. Statusnya saat ini adalah Level III (Siaga).
Data pemantauan G. Soputan dari periode Agustus hingga awal Oktober 2018 menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Pada tanggal 3 Oktober 2016 pukul 01:00 WITA tingkat aktivitas G. Soputan dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga). Pada hari Sabtu 15 Desember 2018 sore seismograf merekam peningkatan aktivitas kegempaan G. Soputan. Peningkatan kegempaan terus terjadi dan hari minggu tgl 16 Desember 2018 pada pukul 01:02 WITA terekam gempa letusan dengan amplitudo maksimum 40 mm (overscale) dan disertai suara gemuruh yang terdengar dengan intensitas lemah-sedang dari Pos Pengamatan Gunungapi Soputan yang berada Silian Raya (sekitar 10 km di sebelah Baratdaya G. Soputan). Ketinggian kolom erupsi tidak teramati karena tertutup kabut. Pada hari Minggu 16 Desember 2018 sekitar pukul 03:09 WITA teramati sinar api dari puncak G. Soputan dan ketinggian kolom abu teramati berkisar 3000-5000 m di atas puncak. Pada saat ini aktivitas G. Soputan masih belum stabil.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 50 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah tenggara dan barat.
Melalui rekaman seismograf tanggal 1 April 2019 tercatat:
- 17 kali gempa Guguran
- 6 kali gempa Hembusan
- 5 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Soputan terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Soputan.
*Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara)*
Gunungapi Karangetang di Pulau Siau, Kabupaten Sitaro, Sulawesi Utara adalah salah satu gunungapi di Indonesia yang paling sering erupsi. Erupsi terakhirnya terjadi pada tahun 2016. Setelah 2 tahun istirahat, G. Karangetang kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik sejak akhir bulan November 2018. Peningkatan signifikan aktivitas kegempaan dengan konten frekuensi tinggi (vulkanik dalam maupun dangkal) teramati meningkat secara cepat pada 22-23 November 2018 namun menurun drastis pada 24 November 2018. Penurunan tajam kegempaan diikuti oleh terekamnya citra panas (Hot Spot) oleh satelit pada 25 November 2018 pukul 01:10 WITA, sehingga dapat disimpulkan bahwa penurunan tajam kegempaan frekuensi tinggi mengindikasikan bahwa magma telah sampai ke permukaan kawah. Pasca penurunan kegempaan frekuensi tinggi, transisi terjadi dimana kegempaan frekuensi rendah berupa tremor harmonik maupun kegempaan akibat aktivitas permukaan seperti hembusan dan guguran mengalami peningkatan. 
Berdasarkan hasil analisis data pemantauan maka tingkat aktivitas G. Karangetang dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) terhitung mulai tanggal 20 Desember 2018 pukul 18:00 WITA.
Pengamatan visual terkini menunjukkan bahwa aktivitas G. Karangetang saat ini berpusat di Kawah 2 (kawah Utara) dimana area landaan guguran lava utamanya melewati Kali Malebuhe di lereng Baratlaut-Utara dan material lava telah mencapai laut (lk. 3.5 km dari puncak). Pemantauan terkini menunjukkan juga bahwa aktivitas di Kawah Utama (kawah Selatan) mengalami peningkatan dimana Awan Panas guguran teramati satu kali meluncur dari Kawah Utama sejauh 1500 m ke arah Kali Beha Barat dan Kali Batang pada 22 Maret 2019 sekitar pukul 10:13 WITA. Namun demikian, jangkauan guguran masih berada di dalam zona bahaya yang telah ditetapkan. Intensitas guguran dari Kawah Dua mengalami penurunan sehingga zona bahaya dipersempit pada 26 Maret 2019, dimana penduduk yang perlu dievakuasi menjadi tinggal 5 rumah dari sebelumnya mencapai puluhan rumah.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal tinggi sekitar 150 meter dari puncak. Angin bertiup lemah  ke arah tenggara. 
Melalui rekaman seismograf tanggal 1 April 2019 tercatat:
- 11 kali gempa Guguran
- 12 kali gempa Hybrid
- 16 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 6 kali gempa Hembusan
- 8 kali gempa Tektonik Jauh 
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Karangetang terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Sitaro tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Karangetang.
*Gunungapi Anak Krakatau (Lampung)*
Gunung Anak Krakatau (156,9 m dpl) secara administratif termasuk kedalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, sejak 18 Juni 2018 peningkatan aktivitas vulkanik diikuti rangkaian erupsi pada September 2018, Oktober 2018, Desember 2018, dan Januari - Februari 2019. Intensitas erupsi tertinggi terjadi pada Desember 2018 - Januari 2019, berupa letusan menerus bertipe strombolian, diselingi letusan tipe Surtseyan pada 27 Desember 2018 dan tingkat aktivitas dinaikan menjadi Level III (SIAGA). Hingga Maret 2019 erupsi masih terjadi tetapi intensitas erupsi cenderung menurun. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (WASPADA) sejak 25 Maret 2019 Pkl 12:00 WIB.
Dalam rangka kesiapsiagaan sejak tanggal 18 Juni 2018 sudah dikoordinaskan dan diinformasikan kepada pihak BPBD Prov. Banten, BPBD Prov. Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat kepulau Anak Krakatau.
Pemantauan secara intensif dan kontinyu tetap dilakukan guna memantau aktivitas G. Anak Krakatau. Tingkat aktivitas G. Anak Krakatau dapat berubah sewaktu-waktu baik penurunan ataupun kenaikan status, dan akan disesuaikan sesuai dengan perubahan tingkat kegiatan dan ancamannya.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, tidak teramati asap kawah utama. Angin bertiup lemah ke utara dan arah timur laut.
Melalui seismograf tanggal 1 April 2019 tercatat:
- 2 kali gempa Low Frequency
- 15 kali gempa Hembusan
- 3 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 1 kali gempa Tektonik Jauh 
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Banten maupun BPBD Provinsi Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat kepulau Anak Krakatau dalam radius 2 km dari kawah.
*Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)*
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB status G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal sekitar 150 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan barat. 
Melalui rekaman seismograf pada 1 April 2019 tercatat:
- 41 kali gempa Guguran
- 1 kali gempa Low Frequency
- 2 kali gempa Hybrid
- 5 kali gempa Hembusan
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Merapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Merapi.
*Gunungapi Dukono (Halmahera)*
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal tinggi sekitar 100-300 meter dari puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur dan tenggara. 
Melalui rekaman seismograf pada 1 April 2019 tercatat:
- 5 kali gempa Tektonik Jauh
- Tremor Menerus dengan amplitudo 0,5 - 4 mm, dominan 0,5 mm.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.
*Gunungapi Ibu (Halmahera)*
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 200-800 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah selatan dan timur. 
Melalui seismograf tanggal 1 April 2019 tercatat:
- 99 kali gempa Letusan
- 58 kali gempa Hembusan
- 11 kali gempa Guguran
- 68 kali gempa Tremor Harmonik
- 1 kali gempa Tornillo
- 2 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.
*Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)*
Gunungapi Gamalama yang memiliki ketinggian 1715 m dpl, secara administratif terletak di Kota Ternate (Pulau Ternate), Provinsi Maluku Utara.
Letusan G. Gamalama pada umumnya berlangsung di Kawah Utama dan hampir selalu magmatik. Kecuali letusan yang terjadi dalam tahun 1907 yang mengambil tempat di lereng timut (letusan samping) dan menghasilkan leleran lava (Batu Angus) hingga ke pantai. Letusan 1980 juga menghasilkan Kawah Baru, lokasinya sekitar 175 m ke arah timur dari Kawah Utama.
Gunungapi Gamalama merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif sering hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter diatas puncak atau 1965 m diatas permukaan laut.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut, asap kawah utama teramati berwarna putih dengan intensitas tipis dan tinggi 5-10 meter di atas puncak kawah. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah tenggara dan selatan.
Melalui rekaman seismograf tanggal 1 April 2019 tercatat:
- 1 kali gempa Tremor Harmonik
- 1 kali gempa Vulkanik Dalam
- 4 kali gempa Tektonik Lokal
- 15 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Gamalama terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Gamalama.
*Gunungapi Kerinci (Jambi)*
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Kerinci (3805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, teramati asap kawah utama berwarna putih hingga coklat dengan intensitas tebal tinggi sekitar 150-600 meter dari puncak. Teramati letusan dengan tinggi 600 meter dan warna asap kelabu. Angin bertiup sedang ke arah timur laut.
Melalui rekaman seismograf tanggal 1 April 2019 tercatat:
- 3 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 219 kali gempa Hembusan
- Tremor Menerus dengan amplitudo 0,5 - 2 mm, dominan 1 mm.
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Kerinci dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 3 km dari kawah puncak.
Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Kerinci agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.
*Gunungapi Bromo (Jawa Timur)*
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Bromo (2329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 50-700 meter dari puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur dan barat.
Melalui rekaman seismograf tanggal 1 April 2019 tercatat:
- 1 kali gempa Vulkanik Dalam
- Tremor Menerus dengan amplitudo 0,5 - 25 mm, dominan 2 mm.
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Bromo dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1 km dari kawah puncak.
Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:
- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
- BMKG,
- Air Nav,
- Air Traffic Control, Airlines,
- VAAC Darwin,
- VAAC Tokyo,
- dll.
VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 meter di atas permukaan laut atau sekitar 1000 meter di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.
(2) G. Agung, Bali
VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Maret 2019 pukul 18:25 WITA, terkait erupsi dengan tinggi kolom abu tidak teramati karena tertutup kabut. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 25 mm dan durasi 2 menit 32 detik.  
(3) G. Soputan, Sulawesi Utara
VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8809 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7000 meter di atas puncak.
(4) G. Karangetang, Sulawesi Utara
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke arah Timur.
(5) G. Anak Krakatau, Lampung
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 31 Maret 2019 pukul 00:56 WIB, terkait erupsi yang terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 52 mm dan lama gempa 276 detik, secara visual tidak teramati.
(6) G. Merapi, Jawa Tengah ñ Yogyakarta
VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 meter di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.
(7) G. Dukono, Maluku Utara
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Maret 2019 pukul 11:32 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1829 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah timur.
(8) G. Ibu, Maluku Utara
VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 06 Februari 2019 pukul 19:02 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1925 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah selatan.
(9) G. Gamalama, Maluku Utara
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m di atas puncak.
(10) G. Kerinci, Jambi
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 30 Maret 2019 pukul 15:32 WIB, terkait erupsi dan hembusan asap kawah dengan tinggi sekitar 4405 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom asap bergerak ke arah timur laut.
(11) G. Bromo, JawaTimur
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Maret 2019 pukul 17:43 WIB, terkait letusan dan hembusan asap kawah menerus dengan tinggi sekitar 3829 m di atas permukaan laut atau sekitar 1500 m di atas puncak. Kolom asap bergerak ke arah utara dan timur laut.
Kegiatan gunungapi lain yang di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.
*2. Gerakan Tanah*
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan  April  2019 dibandingkan Maret  2019 ,   potensinya relatif sama tingginya  utamanya wilayah Indonesia bagian Timur  .Wilayah Indonesia yang  secara umum tetap  perlu diwaspadai  utamanya di jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai antara lain  wilayah Sumatera bagian barat meliputi wilaya Aceh hingga Lampung, ,   Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat , Sulawesi Utara,  Sulawesi  Tengah  dan Tenggara , Maluku , NTT dan wilayah Papua.
Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu   terjadi di:
1.Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara*, 2.Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat*, 3. Kabupaten Kepulauan Sangihe, Provinsi Sulawesi Utara, 4. Kabupaten Gayo Lues , Provinsi Aceh, 5. Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur, 6.Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, 7.Kota Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara, 8.Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah, 9.Kabupaten Bangli, Provinsi Bali, 10.Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah, 11.Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat, 12.Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah, 13.Kabupaten Empat Lawang, Provinsi Sumatera Selatan, 14.Kabupaten Dairi, Provinsi Sumatera Utara, 15.Kabupaten Pasaman Barat, Provinsi Sumatera Barat, 16.Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat, 17.Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, 18. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, 19. Kota Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, 20.Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, 21.Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah, 22.Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah.
*Gerakan tanah terakhir terjadi terakhir dalam satu minggu di :
1. Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara
Gerakan tanah terjadi di Jalur lintas Kota Pematangsiantar menuju Kabupaten Simalungun tepatnya di Desa Parbolangan, Kecamatan Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara. Gerakan tanah terjadi pada hari Minggu 18.00 WIB yang mengakibatkan jalan terputus tidak bisa dilewati kendaraan.
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi geologi yaitu litologi batuan dan terdapat saluran air yang debitnya sangat besar sehingga mengikis tebing jalan. Selain itu Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama memicu terjadinya gerakan tanah. Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran tanah.
2. Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat
Gerakan tanah terjadi di Dusun Cipeteuy, Desa Cisitu, Kecamatan Cisitu, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat. Gerakan tanah terjadi pada hari Sabtu 30 Maret 2019 malam hari yang mengakibatkan tembok salah satu rumah milik Ujang Dadan jebol akibat tertimpa tebing samping rumah yang mengalami longsor. Beruntung tidak ada korban jiwa karena pada saat kejadian rumah dalam keadaan kosong.
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi geologi yaitu litologi batuan dan kemiringan lereng yang sangat curam di daerah lokasi bencana. Selain itu Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama memicu terjadinya gerakan tanah. Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran tanah.
Rekomendasi :
Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah karena berpotensi terjadinya gerakan tanah susulan;
Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan;
Segera memasang garis pengaman agar tidak dijadikan sebagai ajang tontonan warga dan tetap waspada karena masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan terutama saat terjadi hujan;
Melandaikan lereng, mengatur drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng (rekayasa teknis) yang mengikuti kaidah – kaidah geotek;
Menjaga fungsi lahan dengan menanami vegetasi berakar dalam dan kuat serta  menata aliran air permukaan pada tebing;
Pemilik rumah yang mengalami bencana agar selalu meningkatkan kewaspadaan terutama pada saat dan setelah hujan deras yang berlangsung lama karena masih berpotensi terjadinya longsor susulan;
Menata kembali drainase/air permukaan;
Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah;
Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.
PVMBG, BADAN GEOLOGI, KESDM; 2 April 2019
Kasbani