Jumat, 19 April 2019 | 04:00 WIB

LAPORAN KEBENCANAAN GEOLOGI 24 Maret 2019 (06:00 WIB)

  • Berita
  • Minggu, 24 Maret 2019 | 11:09 WIB
  • Reporter
LAPORAN KEBENCANAAN GEOLOGI 24 Maret 2019 (06:00 WIB)

*LAPORAN KEBENCANAAN GEOLOGI*
*24 Maret 2019 (06:00 WIB)*
*I. SUMMARY*

Hari ini, Minggu 24 Maret 2019, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

*1. Gunungapi*
*Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)*
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 200 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke timur dan barat.

Melalui rekaman seismograf pada 23 Maret 2019 tercatat:
- 1 kali gempa Tektonik Jauh
- 2 kali gempa Tornillo.

Rekomendasi:
- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km untuk sektor Utara - Barat, 4 km untuk sektor Selatan - Barat, dan dalam jarak 7 km untuk sektor Selatan - Tenggara, didalam jarak 6 km untuk sektor Tenggara - Timur serta didalam jarak 4 km untuk sektor Utara-Timur
- Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunung Sinabung agar mewaspadai potensi banjir lahar terutama pada saat terjadi hujan lebat.

VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.

*Gunungapi Agung (Bali)*
Tingkat aktivitas Level III (Siaga. G. Agung (3142 m dpl) mengalami erupsi sejak 21 November 2017.Letusan terakhir tejadi pada tanggal 24 Februari 2019 dengan tinggi 300 - 700 meter dengan warna asap kelabu.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 100 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur.
Rekaman seismograf tanggal 23 Maret 2019 tercatat:
- 5 kali gempa Vulkanik Dalam
- 1 kali gempa Hembusan
- 2 kali gempa Tektonik Jauh.

Tanggal 24 Maret 2019 (Pk. 00:00-06:00 WITA)tercatat:
- 1 kali gempa Hembusan
- 5 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:
- Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
- Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
- Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan
mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.
- Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.

VONA:
VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 20 Maret 2019 pukul 00.18 WITA namun tinggi kolom abu tidak teramati karena tertutup kabut. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitude maksimum 23 mm dan durasi 1 menit 47 detik

*Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)*
Tingkat aktivitas Level III (SIAGA). Gunungapi Soputan (1809 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang tinggi sekitar 200 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah tenggara dan barat.

Melalui rekaman seismograf tanggal 23 Maret 2019 tercatat:
- 26 kali gempa Guguran
- 1 kali gempa Low Frequency
- 4 kali gempa Hembusan
- 3 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:
Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 4 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 6,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman guguran lava dan awan panas guguran.
VONA:
VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8809 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7000 meter di atas puncak.

*Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara)*
Tingkat aktivitas Level III (SIAGA). G. Karangetang (1784 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal tinggi 50 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur laut dan timur

Melalui rekaman seismograf tanggal 23 Maret 2019 tercatat:
- 5 kali gempa Guguran
- 28 kali gempa Hybrid
- 4 kali gempa Vulkanik Dalam
- 7 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 15 kali gempa Hembusan
- 12 kali gempa Tektonik Jauh
- 1 kali gempa Tornillo
- Tremor menerus dengan amplitudo 0.25 mm, dominan 0.25 mm.

Rekomendasi:
- Masyarakat di sekitar G. Karangetang dan pengunjung/wisatawan agar tidak mendekati, tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam zona bahaya yaitu radius 2.5 km dari puncak Kawah Dua (Kawah Utara) dan Kawah Utama (selatan) serta area perluasan sektoral dari Kawah Dua ke arah Barat-Baratlaut sejauh 3 km dan ke arah Baratlaut-Utara sejauh 4 km.
- Masyarakat di sekitar G. Karangetang yang berada di area Baratlaut-Utara dari Kawah Dua, di antaranya Desa Niambangeng, Desa Beba dan Desa Batubulan agar dievakuasi ke tempat yang aman dari ancaman guguran lava atau awan panas guguran G. Karangetang yaitu di luar zona bahaya tersebut pada poin di atas.
- Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G. Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.
- Masyarakat disekitar G. Karangetang dianjurkan agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi potensi bahaya gangguan saluran pernapasan jika terjadi hujan abu.

VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke arah Timur.

*Gunungapi Anak Krakatau (Lampung).*
Tingkat aktivitas Level III (Siaga) sejak 27 Desember 2018. Gunungapi Anak Krakatau (156,9m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut, asap kawah utama tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah utara dan timur laut.

Melalui seismograf tanggal 23 Maret 2019 tercatat:
- 1 kali gempa Low Frequency
- 4 kali gempa Vulkanik Dalam
- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 5 kali gempa Hembusan
- 1 kali gempa Tektonik Lokal
- Tremor menerus dengan amplitudo 1 - 13 mm, dominan 2 mm.

Rekomendasi:
Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 5 km dari kawah.
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 18 Maret 2019 pukul 20:35 WIB, terkait erupsi yang terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 55 mm dan lama gempa 74 detik, secara visual tidak teramati.

*Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):*
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, asap kawah utama tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah timur dan barat laut.

Melalui rekaman seismograf pada 23 Maret 2019 tercatat:
- 22 kali gempa Guguran
- 3 kali gempa Hembusan
- 1 kali gempa Awan Panas Guguran.

Rekomendasi :
- Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.
- Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.
- Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi.
- Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.
- Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No. 15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.
- Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.

VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

*Gunungapi Dukono (Halmahera)*
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal tinggi sekitar 400 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur.

Melalui rekaman seismograf pada 23 Maret 2019 tercatat:
- 6 kali gempa Tektonik Jauh
- 1 kali gempa Tektonik Lokal
- Tremor Menerus dengan amplitudo 0.5 n 4 mm, dominan 0.5 mm.

Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 20 Maret 2019 pukul 08:27 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 2029 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak, angin bertiup lemah hingga sedang ke arah selatan dan barat daya.

*Gunungapi Ibu (Halmahera)*
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 200 - 800 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan selatan.

Melalui seismograf tanggal 23 Maret 2019 tercatat:
- 85 kali gempa Letusan
- 70 kali gempa Hembusan
- 14 kali gempa Guguran
- 35 kali gempa Tremor Harmonik.

Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif
G. Ibu.
VONA:
VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 06 Februari 2019 pukul 19:02 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1925 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Selatan.

*Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)*
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018. Letusannya hampir selalu bersifat magmatik.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, asap kawah utama tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah tenggara dan selatan.

Melalui rekaman seismograf tanggal 23 Maret 2019 tercatat:
- 13 kali gempa Tektonik Jauh
- 1 kali gempa Tektonik Lokal.

Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G.Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari kawah puncak G.Gamalama
Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G.Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m diatas puncak.

*Gunungapi Kerinci (Jambi)*
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA).Kerinci (3805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal tinggi sekitar 300 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur laut.

Melalui rekaman seismograf tanggal 22 Maret 2019 tercatat:
- 89 kali gempa Hembusan
- Tremor menerus dengan amplitude 0,5 n 1 mm, dominan 1 mm.

Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G.Kerinci dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 3 km dari kawah puncak.
Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G.Kerinci agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 19 Maret 2019 pukul 15:00 WIB, terkait hembusan asap kawah dengan tinggi sekitar 4405 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m diatas puncak. Angin bertiup ke arah timur laut.

*Gunungapi Bromo (Jawa Timur)*
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Bromo (2329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, teramati asap kawah utama berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 900 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur laut dan tenggara.

Melalui rekaman seismograf tanggal 23 Maret 2019 tercatat:
- Tremor menerus dengan amplitude 0,5 n 20 mm, dominan 2 mm.

Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G.Bromo dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1 km dari kawah puncak.
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 20 Maret 2019 pukul 06:00 WIB, terkait letusan dan hembusan asap kawah menerus dengan tinggi sekitar 2929 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m diatas puncak. Angin bertiup ke arah timur tenggara.

Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

*2. Gerakan Tanah*
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Mareti 2019 dibandingkan Februari 2019 , potensinya relatif sama tingginya di seluruh wilayah Indonesia Barat dan terjadi peningkatan potensinya meliputi wilayah Jawa Barat dan Banten.

Gerakan tanah terakhir terjadi :
1. Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah
2.Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah
3.Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat
4. Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat

Penyebab terjadinya gerakan tanah diperkirakan karena kemiringan lereng yang terjal, tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang serta mudah menyerap air dipicu oleh curah hujan lebat sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah.

Dampak : Gerakan tanah / tanah longsor menyebabkan 2 rumah warga hancur, 21 rumah terancam, 5 orang mengungsi di Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah, dinding Madrasah Diniyah Nurul Ahkam rusak di Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah, akses jalan terhambat di Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat dan di Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

*3. Gempa Bumi*
*Gempa bumi di Perairan Barat Bengkulu*
Informasi Gempa bumi:
Gempa bumi terjadi pada hari Sabtu, 23 Maret 2019, pukul 15:02 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 102,41° BT dan 4,56° LS, dengan magnitudo M5,3 pada kedalaman 18 km, berjarak 56 km baratdaya Seluma, Bengkulu. USGS, Amerika Serikat, menginformasikan bahwa gempa bumi berpusat di koordinat 102,430° BT dan 4,586° LS pada kedalaman 35 km dengan magnitudo M5,0.
Kondisi geologi daerah terdekat pusat gempa bumi:
Pusat gempa bumi berada di Samudera Indonesia di sebelah barat daya Pulau Sumatera. Kegempaan di Pulau Sumatera sangat dipengaruhi oleh penunjaman Sunda di sebelah Barat P. Sumatera, Sesar mentawai, dan sesar Besar Sumatera. Wilayah yang berdekatan dengan pusat gempa adalah Pulau Enggano dan Pesisir barat Bengkulu dan Lampung. Secara litologi Pulau Enggano disusun oleh batuan sedimen Tersier, dan pantai Bengkulu tersusun oleh konglomerat aneka bahan, breksi, batugamping terumbu dan batugamping klasitik dari Formasi Bintuhan berumur Plio-Plistosen. Khusus di Kota Bengkulu dan sekitarnya, Formasi Bintuhan ditutupi oleh pedataran luas alluvium berupa endapan kerikil, pasir dan lempung yang menempati pedataran pantai dan daerah aliran sungai.
Penyebab gempa bumi:
Berdasarkan lokasi pusat gempa dan kedalamannya, gempa bumi diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas sesar di lokasi tersebut (kemenerusan Sesar Mentawai).
Dampak gempa bumi:
Berdasarkan BMKG guncangan gempa bumi dirasakan di Kota Bengkulu dengan intensitas III-IV MMI, serta di Kepahiang, Manna dan Curup dengan intenaitas III MMI. Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami. Belum ada informasi terkait kerusakan yang diakibatkan gempa bumi ini.

Rekomendasi:
(1) Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.
(2) Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan, yang diperkirakan berkekuatan lebih kecil.

*II. DETAIL*
*1. Gunung Api*
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini:
a. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung* (Sumut) sejak 2 Juni 2015.
b. 4 (satu) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung* (Bali) sejak 10 Februari 2018,G. Soputan (Sulut) sejak 3 Oktober 2018, G. Karangetang (Sulut) sejak 20 Desember 2018, dan G. Anak Krakatau (Lampung) sejak 27 Desember 2018.
c. Sebanyak 15 gunungapi Status Waspada/Level II (Merapi, Marapi, Kerinci, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Lokon, Gamalama, Gamkonora, Ibu, Dukono, Lewotolok dan Banda Api);
d. Sisanya 49 gunungapi: Status NORMAL/Level I.

*Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)*
  Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas).
  Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 200 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke timur dan barat.

Melalui rekaman seismograf pada 23 Maret 2019 tercatat:
- 1 kali gempa Tektonik Jauh
- 2 kali gempa Tornillo.

  Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir tanggal 28 Agustus 2018 tidak memperlihatkan perubahan yang signifikan dibanding hasil pengukuran tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus 2017 hanya terlihat pengikisan sekitar 30 cm dibagian outletnya.
  Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Penduduk yang bermukim disekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan terhadap potensi lahar pada musim hujan.

*Gunungapi Agung (Bali)*
  Erupsi Gunung Agung mencapai puncaknya pada periode 25-29 November 2017. Setelah itu, frekuensi erupsi cenderung mengalami penurunan. Gempa frekuensi tinggi (terutama Gempa Vulkanik) dan Gempa frekuensi rendah (terutama Gempa Hembusan dan Letusan) masih terekam namun berfluktuasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava sekitar 23 juta m3. Pola deformasi GPS maupun Tiltmeter jika dihitung dari November 2017 hingga saat ini maka secara umum menunjukkan trend deflasi. Citra Satelit sesekali merekam adanya energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung yang mengindikasikan bahwa masih ada suplai magma ke permukaan dengan laju rendah. Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan bahwa aktivitas erupsi masih teramati namun dengan eksplosivitas rendah.
  Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
  Pada tanggal 23, 24 dan 25 Juni 2018 terekam rentetan Gempa Vulkanik Dalam yang mengindikasikan intrusi magma baru dari kedalaman menuju ke permukaan. Pada 27 Juni 2018 terjadi erupsi eksplosif dan disusul erupsi efusif selama lk. 24 jam pada periode 28-29 Juni 2018. Erupsi efusif ini menghasilkan pertumbuhan kubah lava sekitar 4 juta m3 sehingga volume total kubah lava menjadi sekitar 27 juta m3. Erupsi efusif ini disertai emisi gas dan abu halus yang tersebar ke selatan dan bertahan lama di udara sehingga sempat menutup Bandara Ngurah Rai selama lk. 10 jam. Erupsi eksplosif Strombolian terjadi pada malam hari di tanggal 2 Juli 2018 disertai suara dentuman dan lontaran material pijar teramati keluar kawah ke segala arah mencapai jarak maksimum sekitar 2-3 km dari kawah puncak. Setelah erupsi ini, frekuensi Gempa Letusan mengalami penurunan. Erupsi terakhir G. Agung terjadi pada 27 Juli 2018.
  Pasca Gempa Lombok 29 Juli 2018, fase erupsi G. Agung sempat terhenti, kemungkinan karena gempa tektonik ini mengganggu sistem vulkanik G. Agung (efek botol soda) sehingga suplai gas magmatik dari kedalaman tidak dapat terakumulasi di kedalaman melainkan segera dikeluarkan ke permukaan seiring dengan goncangan gempa tektonik. Mulai 30 Desember 2018, fase erupsi G. Agung kembali lagi seiring dengan berkurangnya kegempaan tektonik di sekitar Pulau Lombok. Aktivitas G. Agung saat ini belum kembali stabil dan masih berpotensi untuk mengalami erupsi karena kegempaan vulkanik maupun hembusan masih terjadi, mengindikasikan masih adanya suplai magma ke permukaan namun saat ini masih dengan laju rendah. Indikasi ke arah erupsi yang besar hingga saat ini belum teramati.
  Pada tanggal 30 Desember 2018 pukul 04:09 WITA terjadi erupsi, namun tinggi kolom abu tidak teramati. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi n 3 menit 8 detik. Informasi dari masyarakat hujan abu dengan intensitas ringan jatuh di Banjar Dinas Uma Anyar Ababi bagian barat, Wilayah Kota Amlapura, Desa Seraya Barat, Desa Seraya Tengah, Banjar Dinas Ujung Pesisi, Lingkungan Pesagi dan Lingkungan Pebukit, Desa Tenggalinggah, dan Kantor BPBD Kabupaten Karangasem. Pada tanggal 10 Januari 2019 pukul 19:55 WITA terjadi letusan, namun tinggi kolom abu tidak teramati karena gunung tertutup kabut. Letusan ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi n 4 menit 26 detik. Pada tanggal 19 Januari 2019 pukul 02:45 WITA terjadi letusan, namun tinggi kolom abu tidak teramati karena gunung tertutup kabut. Letusan ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 23 mm dan durasi n 2 menit 8 detik. Pada tanggal 22 Januari 2019 pukul pukul 03:42 WITA terjadi letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 2.000 m di atas puncak (5.142 m di atas permukaan laut), Kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah timur dan tenggara. Amplitudo gempa letusan 22 mm dan lama gempa 1452 detik. Pada tanggal 23 Januari 2019 pukul 03:18 WITA terjadi letusan, namun tinggi kolom abu tidak dapat teramati karena gunung tertutup kabut. Amplitudo gempa letusan 23 mm dan lama gempa 116 detik.
  Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 100 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur.

Rekaman seismograf tanggal 23 Maret 2019 tercatat:
- 5 kali gempa Vulkanik Dalam
- 1 kali gempa Hembusan
- 2 kali gempa Tektonik Jauh.

Tanggal 24 Maret 2019 (Pk. 00:00-06:00 WITA)tercatat:
- 1 kali gempa Hembusan
- 5 kali gempa Tektonik Jauh

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Agung.

*Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)*
  Gunungapi Soputan merupakan gunungapi strato yang terletak di Kabupaten Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara. Ketinggian G. Soputan sekitar 1809 m di atas permukaan laut. Pertumbuhan kubah lava dimulai sejak tahun 1991, hingga meluber keluar dari bibir kawah menyebabkan sering terjadi guguran lava, dengan jarak luncur sekitar 2 hingga 6.5 km dari puncak ke arah barat, timur dan utara, penduduk terdekat berada pada jarak 8-10 km dari puncak. Pada saat musim hujan dapat terjadi pembentukan uap dari air hujan oleh kubah lava yang masih panas, sehingga terjadi letusan sekunder, berupa letusan freatik (letusan uap) yang dapat memicu guguran kubah lava dan awan panas guguran (tipe Karangetang). Pada daerah perkemahan (camping ground) di lereng timur laut berjarak sekitar 3 sampai 4 km dari puncak G. Soputan, berpotensi terlanda hujan abu lebat dan dapat terkena lontaran batu (pijar). Endapan material letusan G. Soputan di lereng sebelah barat tenggara, apabila terjadi hujan lebat bisa mengakibatkan terjadinya aliran lahar yang mengarah ke: S. Ranowangko, S. Lawian, S. Popang, Londola Kelewehu dan Londola Katayan. Potensi bahaya lainnya ialah guguran lava yang masih sering terjadi di sekitar tubuh gunungapi, umumnya terjadi di bagian utara. Tetapi yang harus diwaspadai adalah jika terjadi guguran kubah lava yang diikuti awan panas guguran ke arah Silian, karena bukaan kawahnya menuju ke daerah tersebut. Potensi bahaya erupsi G. Soputan dapat berupa abu vulkanik yang dapat berdampak pada keselamatan penerbangan.
  Data pemantauan G. Soputan dari periode Agustus hingga awal Oktober 2018 menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Pada tanggal 3 Oktober 2016 pukul 01:00 WITA tingkat aktivitas G. Soputan dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga). Pada hari Sabtu 15 Desember 2018 sore seismograf merekam peningkatan aktivitas kegempaan G. Soputan. Peningkatan kegempaan terus terjadi dan hari minggu tgl 16 Desember 2018 pada pukul 01:02 WITA terekam gempa letusan dengan amplitudo maksimum 40 mm (overscale) dan disertai suara gemuruh yang terdengar dengan intensitas lemah-sedang dari Pos Pengamatan Gunungapi Soputan yang berada Silian Raya (sekitar 10 km di sebelah Baratdaya G. Soputan). Ketinggian kolom erupsi tidak teramati karena tertutup kabut. Pada hari Minggu 16 Desember 2018 sekitar pukul 03:09 WITA teramati sinar api dari puncak G. Soputan dan ketinggian kolom abu teramati berkisar 3000-5000 m di atas puncak. Hingga saat ini tremor menerus masih terekam mengindikasikan bahwa erupsi masih berlangsung.
  Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang tinggi sekitar 200 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah tenggara dan barat.

Melalui rekaman seismograf tanggal 23 Maret 2019 tercatat:
- 26 kali gempa Guguran
- 1 kali gempa Low Frequency
- 4 kali gempa Hembusan
- 3 kali gempa Tektonik Jauh.

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Soputan terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Soputan.

*Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara)*
  Gunungapi Karangetang di Pulau Siau, Kabupaten Sitaro, Sulawesi Utara adalah salah satu gunungapi di Indonesia yang paling sering erupsi. Erupsi terakhirnya terjadi pada tahun 2016. Setelah 2 tahun istirahat, G. Karangetang kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik sejak akhir bulan November 2018. Peningkatan signifikan aktivitas kegempaan dengan konten frekuensi tinggi (vulkanik dalam maupun dangkal) teramati meningkat secara cepat pada 22-23 November 2018 namun menurun drastis pada 24 November 2018. Penurunan tajam kegempaan diikuti oleh terekamnya citra panas (Hot Spot) oleh satelit pada 25 November 2018 pukul 01:10 WITA, sehingga dapat disimpulkan bahwa penurunan tajam kegempaan frekuensi tinggi mengindikasikan bahwa magma telah sampai ke permukaan kawah.
  Pengamatan visual menunjukkan bahwa aktivitas G. Karangetang saat ini berpusat di Kawah 2 (kawah Utara). Pasca penurunan kegempaan frekuensi tinggi, transisi terjadi dimana kegempaan frekuensi rendah berupa tremor harmonik maupun kegempaan akibat aktivitas permukaan seperti hembusan dan guguran mengalami peningkatan. Pemantauan visual terkini mengindikasikan adanya potensi perluasan area landaan guguran lava maupun awan panas guguran. Saat ini aliran lava maupun awan panas guguran teramati keluar dari Kawah 2 mengarah ke Kali Sumpihi (sebelah Barat dari Kawah 2) sejauh lk. 700-1000 m dan ke Kali Batuare (sebelah Baratlaut dari Kawah 2) sejauh lk. 1000 - 2000 m.
Berdasarkan hasil analisis data pemantauan maka tingkat aktivitas G. Karangetang dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) terhitung mulai tanggal 20 Desember 2018 pukul 18:00 WITA.
  Pemantauan visual pada tanggal 2 Februari 2019 mengindikasikan adanya potensi perluasan area landaan guguran lava maupun awan panas guguran. Saat ini guguran lava maupun awan panas guguran teramati keluar dari Kawah Dua mengarah ke Kali Sumpihi (barat) sejauh lk. 1000 m, ke Kali Batuare (Baratlaut-Utara) sejauh lk. 1000 - 2000 m dan ke kali Malebuhe (Baratlaut-Utara) sejauh lk. 2500 � 2900 m. Jangkauan guguran lava maupun awan panas guguran dapat bertambah jika migrasi magma ke permukaan terus terjadi. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah timur dan barat laut.
  Saat ini erupsi yang paling mungkin terjadi di G. Karangetang dapat bersifat efusif (guguran lava & awan panas guguran) hingga eksplosif strombolian (lontaran batu/lava pijar disertai abu). Aktivitas terkini mengindikasikan adanya potensi besar landaan guguran lava maupun awan panas guguran dari puncak Kawah Dua ke arah Baratlaut-Utara sejauh lebih dari 3000 m dan kemungkinan dapat menjangkau pemukiman penduduk. Kemungkinan untuk terjadinya erupsi eksplosif skala besar saat ini masih kecil.
  Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal tinggi 50 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur laut dan timur.

Melalui rekaman seismograf tanggal 23 Maret 2019 tercatat:
- 5 kali gempa Guguran
- 28 kali gempa Hybrid
- 4 kali gempa Vulkanik Dalam
- 7 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 15 kali gempa Hembusan
- 12 kali gempa Tektonik Jauh
- 1 kali gempa Tornillo
- Tremor menerus dengan amplitudo 0.25 mm, dominan 0.25 mm.

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Karangetang terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Sitaro tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Karangetang.

*Gunungapi Anak Krakatau (Lampung)*
  Gunung Anak Krakatau secara administratif termasuk kedalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, tercatat aktivitas letusan terakhir terjadi pada tanggal 19 Februari 2017, berupa letusan strombolian. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level III (SIAGA). G. Anak Krakatau (156,9m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
  Dalam rangka kesiapsiagaan sejak tanggal 18 Juni 2018 sudah dikoordinaskan dan diinformasikan kepada pihak BPBD Prov. Banten, BPBD Prov. Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.
Pada tanggal 26 Desember 2018 terjadi letusan berupa awan panas dan surtseyan. Awan panas ini yang mengakibatkan adanya hujan abu termasuk yang terekam pada 26 Desember 2018 pukul 17:15 WIB. Dari Pos Kalianda, jam 12 malam melaporkan suara gemuruh dengan intensitas tinggi. Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis data visual maupun instrumental hingga 26 Desember 2018, maka tingkat aktivitas G. Anak Krakatau ditingkatkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (siaga) terhitung tanggal 27 Desember 2018 pukul 06:00 WIB.
  Pemantauan secara intensif dan kontinyu tetap dilakukan guna memantau aktivitas G. Anak Krakatau. Tingkat aktivitas G. Anak Krakatau dapat berubah sewaktu-waktu baik penurunan ataupun kenaikan status, dan akan disesuaikan sesuai dengan perubahan tingkat kegiatan dan ancamannya.
  Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut, asap kawah utama tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah utara dan timur laut.

Melalui seismograf tanggal 23 Maret 2019 tercatat:
- 1 kali gempa Low Frequency
- 4 kali gempa Vulkanik Dalam
- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 5 kali gempa Hembusan
- 1 kali gempa Tektonik Lokal
- Tremor menerus dengan amplitudo 1 - 13 mm, dominan 2 mm.

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Banten maupun BPBD Provinsi Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.

*Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)*
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB status G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, asap kawah utama tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah timur dan barat laut.

Melalui rekaman seismograf pada 23 Maret 2019 tercatat:
- 22 kali gempa Guguran
- 3 kali gempa Hembusan
- 1 kali gempa Awan Panas Guguran.

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Merapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Merapi.

*Gunungapi Dukono (Halmahera)*
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal tinggi sekitar 400 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur.

Melalui rekaman seismograf pada 23 Maret 2019 tercatat:
- 6 kali gempa Tektonik Jauh
- 1 kali gempa Tektonik Lokal
- Tremor Menerus dengan amplitudo 0.5 n 4 mm, dominan 0.5 mm.

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

*Gunungapi Ibu (Halmahera)*
  Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
  Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 200 - 800 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan selatan.

Melalui seismograf tanggal 23 Maret 2019 tercatat:
- 85 kali gempa Letusan
- 70 kali gempa Hembusan
- 14 kali gempa Guguran
- 35 kali gempa Tremor Harmonik.

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.

*Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)*
  Gunungapi Gamalama yang memiliki ketinggian 1715 m dpl, secara administratif terletak di Kota Ternate (Pulau Ternate), Provinsi Maluku Utara.
  Letusan G. Gamalama pada umumnya berlangsung di Kawah Utama dan hampir selalu magmatik. Kecuali letusan yang terjadi dalam tahun 1907 yang mengambil tempat di lereng timut (letusan samping) dan menghasilkan leleran lava (Batu Angus) hingga ke pantai. Letusan 1980 juga menghasilkan Kawah Baru, lokasinya sekitar 175 m ke arah timur dari Kawah Utama.
  Gunungapi Gamalama merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif sering hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter diatas puncak atau 1965 m diatas permukaan laut.
  Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, asap kawah utama tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah tenggara dan selatan.

Melalui rekaman seismograf tanggal 23 Maret 2019 tercatat:
- 13 kali gempa Tektonik Jauh
- 1 kali gempa Tektonik Lokal.

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Gamalama terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Gamalama.

*Gunungapi Kerinci (Jambi)*

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Kerinci (3805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal tinggi sekitar 300 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur laut.

Melalui rekaman seismograf tanggal 22 Maret 2019 tercatat:
- 89 kali gempa Hembusan
- Tremor menerus dengan amplitude 0,5 n 1 mm, dominan 1 mm

Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G.Kerinci dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 3 km dari kawah puncak.
Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G.Kerinci agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

*Gunungapi Bromo (Jawa Timur)*
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Bromo (2329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, teramati asap kawah utama berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 900 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur laut dan tenggara.

Melalui rekaman seismograf tanggal 23 Maret 2019 tercatat:
- Tremor menerus dengan amplitude 0,5 n 20 mm, dominan 2 mm.

Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G.Bromo dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1 km dari kawah puncak.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:
- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
- BMKG,
- Air Nav,
- Air Traffic Control, Airlines,
- VAAC Darwin,
- VAAC Tokyo,
- dll

VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.
(2) G. Agung, Bali
VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 20 Maret 2019 pukul 00.18 WITA namun tinggi kolom abu tidak teramati karena tertutup kabut. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitude maksimum 23 mm dan durasi 1 menit 47 detik
(3) G. Soputan, Sulawesi Utara
VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8809 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7000 meter di atas puncak.
(4) G. Karangetang, Sulawesi Utara
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke arah Timur.
(5) G. Anak Krakatau, Lampung
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 18 Maret 2019 pukul 20:35 WIB, terkait erupsi yang terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 55 mm dan lama gempa 74 detik, secara visual tidak teramati.
(6) G. Merapi, Jawa Tengah dan Yogyakarta
VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.
(7) G. Dukono, Maluku Utara
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 20 Maret 2019 pukul 08:27 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 2029 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak, angin bertiup lemah hingga sedang ke arah selatan dan barat daya.
(8) G. Ibu, Maluku Utara
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 06 Februari 2019 pukul 19:02 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1925 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Selatan.
(9) G. Gamalama, Maluku Utara
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m diatas puncak.
(10) G. Kerinci, Jambi
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 19 Maret 2019 pukul 15:00 WIB, terkait hembusan asap kawah dengan tinggi sekitar 4405 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m diatas puncak. Angin bertiup ke arah timur laut.
(11) G. Bromo, JawaTimur
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 20 Maret 2019 pukul 06:00 WIB, terkait letusan dan hembusan asap kawah menerus dengan tinggi sekitar 2929 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m diatas puncak. Angin bertiup ke arah timur tenggara.

Kegiatan gunungapi lain yang di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

*2. Gerakan Tanah*
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Mareti 2019 dibandingkan Februari 2019 , potensinya relatif sama tingginya di seluruh wilayah Indonesia Barat dan terjadi peningkatan potensinya meliputi wilayah Jawa Barat dan Banten.Wilayah Indonesia yang secara umum tetap perlu diwaspadai utamanya di jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan, dan sepanjang aliran sungai antara lain wilayah Aceh bagian barat dan Aceh bagian tengah, Sumatera bagian Utara, Sumatera Selatan, Bengkulu dan Lampung, Wilay Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat , Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan Tenggara , Maluku , NTB, NTT dan wilayah Papua.

Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terjadi di:
1. Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah*, 2.Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah*, 3.Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat*, 4. Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat*, 5.Kabupaten Tuban, Provinsi Jawa Timur, 6.Kabupaten Blora, Provinsi Jawa Timur*, 7.Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali, 8.Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur, 9.Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur, 10.Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, 11.Kota Batu, Provinsi Jawa Timur, 12.Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur, 13.Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Timur, 14.Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur, 15.Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi, 16. Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah, 17. kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah, 18. Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, 19.Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah, 20.Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, 21.Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, 22.Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah, 23.Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah.

*Gerakan tanah terakhir terjadi terakhir dalam satu minggu di :
1. Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah
Gerakan tanah terjadi di Pedagung RT 09 RW 02, Desa Tundagan, Kecamatan Watukumpul, Pemalang, Jateng pada Hari Jumat, 22 Maret 2019. Gerakan tanah tersebut mengakibatkan 1 orang meninggal dunia, 2 rumah warga hancur, 21 rumah terancam, 5 orang mengungsi.
Sumber: https://m.detik.com/news/berita-jawa-tengah/d-4479917/longsor-terjang-pemukiman-di-pemalang-1-warga-tewas-tertimbun

Kepala BPBD Pemalang, Wismo, mengatakan longsor terjadi pada Jumat (22/3) petang. "Hujan terjadi sejak pukul tiga sore hingga pukul delapan malam, mengakibatkan longsor dan mengenai dua rumah warga," kata Wismo, Sabtu (23/3/2019).
Gerakan tanah yang terjadi diperkirakan berupa longsoran yang terjadi karena tanah pelapukan yang bersifat sarang dan lereng yang curam, serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi.

2. Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah
Gerakan tanah terjadi di akses jalan Kecamatan Madukara-Pagentan, tepatnya di Desa Pagelak Kecamatan Madukara, Banjarnegara, Jateng pada Hari Jumat, 22 Maret 2019. Selain itu, gerakan tanah juga terjadi di akses jalan Banjarnegara-Pekalongan di Kecamatan Wanayasa dan akses jalan kecamatan Banjarmangu-Wanadadi. Gerakan tanah mengakibatkan akses jalan tersebut tertutup oleh material longsoran

Sumber: https://m.detik.com/news/berita-jawa-tengah/d-4480040/hujan-deras-longsor-di-banjarnegara-tutup-sejumlah-akses-jalan

Gerakan tanah yang terjadi diperkirakan berupa longsoran yang terjadi karena tanah pelapukan yang bersifat sarang dan lereng yang curam, serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi.

3.Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat
Gerakan tanah terjadi di Kampung Legok Jabon, RT 04/04, Desa Cirendang, Kecamatan Cikakak, Sukabumi pada Hari Kamis, 21 Maret 2019. Gerakan tanah tersebut berupa longsoran material rombakan dari tebing setinggi kurang lebih tiga meter longsor dan menimpa dinding Madrasah Diniyah Nurul Ahkam.

Sumber: https://sukabumiupdate.com/detail/sukabumi/peristiwa/53176-Tebing-Longsor-Dinding-Madrasah-di-Cikakak-Sukabumi-Ambruk

  Informasi yang dihimpun, diding sekolah ambruk saat sedang terjadi hujan deras sekitar pukul 15.15 WIB. Dikabarkan tak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut, namun ambruknya dinding sekolah mengakibatkan kegiatan belajar mengajar diliburkan.
  Gerakan tanah yang terjadi diperkirakan berupa longsoran yang terjadi karena tanah pelapukan yang bersifat sarang dan lereng yang curam, serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi

4. Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat
Gerakan tanah terjadi di Kampung Cibogo, Desa Sukanagara, Kecamatan Sukanagara, cianjur pada Hari Jumat malam, 22 Maret 2019. Kendaraan super jumbo kini tak bisa melintasi di jalur Sukanaraga menuju Pagelaran. Akses jalan di kawasan itu amblas, himpir memakan setengah badan jalan. Itu seiring banjir besar yang diiringi longsor.
Ambruknya akses jalan utama menuju Cianjur Selatan tersebut terjadi sekitar pukul 23:00 WIB, akibat diguyur hujan terus menerus. Sehingga air menggerus dinding tebing penopang jalan, akhirnya ambrol.

Sumber: https://radarsukabumi.com/2019/03/23/longsor-jalur-sukanagara-pagelaran-rentan/

  Ruas jalan itu adalah Jalan Provinsi, akses menuju Sukanagara-Pagelaran. Panjang ambrolan jalan itu sekitar 15 meter dengan kedalaman longsoran sekitar 25 hingga 50 meter. Hampir setengah jalan.
  Gerakan tanah yang terjadi diperkirakan berupa longsoran yang terjadi karena tanah pelapukan yang bersifat sarang dan lereng yang curam, serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi

Rekomendasi:
* Material longsoran segera dibersihkan dengan memperhatikan cuaca dan menunggu hujan redah
* masyarakat yang bermukim pada lokasi tersebut dipindahkan ke tempat yang lebih aman untuk sementara waktu
* Warga yang tinggal pada rumah terancam harus meningkatkan kewaspadaan terhadap terjadinya longsor susulan terutama pada saat dan setelah hujan.
* Tidak mendirikan rumah di bawah, pada dan di atas lereng curam.
* Ruang kelas yang ambruk dan ruang kelas lain yang terancam sebaiknya tidak digunakan terlebih dahulu.
* Warga sekitar dan guru serta siswa di madrasah harus meningkatkan kewaspadaan terhadap terjadinya longsor susulan terutama pada saat dan setelah hujan.
* Tidak mendirikan rumah di bawah, pada dan di atas lereng curam.
* Memasang rambu peringatan rawan longsor serta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bahaya longsor/runtuhan batu
* Pengguna Jalan agar berhati-hati terhadap potensi longsor susulan teruatama pada saat hujan deras
* Membangun tembok penahan dengan konstruksi yang tepat pada tebing bagian bawah bada jalan yang rawan terhadap gerakan tanah
* Menjaga fungsi lahan dengan menanam vegetasi berakar dalam dan kuat serta menata air permukaan pada tebing;
* Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.
* Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari BPBD/aparat pemerintah daerah setempat.

PVMBG, BADAN GEOLOGI, KESDM; 24 Maret 2019
Kasbani